Blogger news

You are reading eza's blog

Bromo

Sebuah foto dengan latar belakang Bromo muncul di beranda facebook malam ini, seorang peserta trip mengupload untuk mengenang trip dengan jumlah peserta yang bengkak itu. Aku tertawa cekikan sendiri mengenang perjalanan ke Bromo pertengahan Oktober tahun lalu (tepat 2 minggu sebelum ayah sakit hik..hik...)

Dengan peserta 60 orang yang harus di urus, aku salut sama ketuplak trip ini, uni Silfia ini meng-arrange trip langsung dari padang (aku langsung yakin kalau orang ini niat betul ke Bromo). Dengan bantuan dari peserta lainnya jadilah sekitar 60 orang berangkat ke Malang dengan kereta ekonomi Matar Maja, yang kemudian perjalanan dilanjutkan dengan mobil elf sewaan untuk sampai ke BROMO.

Perjalanan ini dimulai dari pengumuman di http://backpackerindonesia.com untuk trip ke Bromo, gak perlu waktu lama, peserta langsung melebihi kuota. singkat cerita, pertengahan oktober itu menjadi hari yang seru bagi 60 orang yang gak sabar menyaksikan Bromo.




Air terjun Madakaripura

Baca selengkapnya »

Pemeran Pengganti


29 Oktober 2011, hari yang tidak pernah aku lupakan dalam hidupku. Ketika sore yang harusnya indah itu, menjadi sore terburuk dalam hidup. Ade memberitahuku, Ayah jatuh, dan harus  dirawat di ICU,  stroke telah membuat Ayah tidak sadarkan diri. Setelah satu minggu, alih-alih membaik, Ayah malah membutuhkan ventilator untuk membantu kerja paru-parunya. Kami hanya bisa melihat Ayah dibalik jendela ruang ICU rumah sakit di bilangan bogor setelah perawat membuka tirai ruang ICU pada jam besuk. Ayah Somnolen, membuat aku bertanya-tanya apakah Ayah mendengar suara kami ketika kami memanggilnya, atau tahu  kami berada di dekatnya begitu kami genggam tangannya.

Semakin lama Ayah di ICU semakin bercabang pikiran kami, bukan hanya memikirkan kesembuhan ayah, tetapi juga memikirkan tagihan rumah sakit yang nilainya sudah sampai puluhan juta.  Askes hanya mampu menjamin biaya perawatan ayah 30%, sisanya kami harus bayar sendiri. Aku sedih, bingung atau bisa dibilang sedikit frustasi. Hingga akhirnya aku bertemu bapak tua ini.

Baca selengkapnya »

MANCING

Sabtu pagi, dua puluh orang yang sedang butuh hiburan meluncur ke bilangan Sentul untuk menjauh dari ibukota sebentar saja. Area pemancingan adalah tempat yang akan dituju. Begitu sampai,  Alat pancing dan sejumlah umpan segera dikeluarkan, mereka yang sudah masuk golongan ahli memancing langsung mencari tempat duduk untuk melesatkan umpan di kail mereka, sedangkan mereka yang baru pertama kali mengenal dunia pancing hanya duduk memperhatikan para senior beraksi. Para junior baru beraksi setelah umpan salah satu rekan bergerak tanda ada ikan yang terjerat umpan. Mereka membantu melepaskan ikan dari kait pancing, dan memasukkan ikan ke dalam bubuh. Aktivitas baru berhenti setelah makan siang kami datang, dan acara berlanjut setelah segala jenis santapan habis dilahap.

Baca selengkapnya »

BROMO (1) : 17 Jam di Matar Maja

Dari dulu sudah sering aku dengar tentang tempat wisata yang namanya Bromo, Tapi baru "Ngeh" kalau Bromo itu indah banget justru dari Asty dan Mas Bambang saat aku nge-host di rumah mereka ketika traveling ke Jogja beberapa tahun yang lalu. Mereka yang menunjukkan foto-foto keren tentang bromo, dan dari mereka pula aku tahu kalau turis mancanegara pun banyak yang mengunjungi Gunung Bromo. Sejak saat itu, Bromo jadi target travelingku berikutnya.

Rupanya butuh dua tahun sejak traveling ke Yogya hingga akhirnya Bromo bisa aku datangi. Sekitar bulan Juli rencana ke Bromo sudah muncul di forum backpacker indonesia untuk rencana perjalanan di bulan Oktober 2011. Setelah melalui proses seleksi alam terkumpullah 60 orang backpacker yang siap mendatangi bromo dengan Backpacker Budget tentu saja.


Dengan biaya sekitar 300 ribu rupiah untuk perjalanan pulang pergi 4 hari 3 malam ke daerah Jawa Timur, tentu kami tidak bisa berharap fasilitas lebih. Kereta ekonomi Matar Maja Jurusan Pasar Senen - Malang menjadi sarana transportasi pilihan jika ingin mempertahankan budget backapacker kami. Itu artinya 17 jam sekali jalan di kereta api kelas ekonomi yang penuh sesak  berjubel dan mungkin sedikit tidak manusiawi.

Tetapi rupanya kami harus berterimakasih pada PT Kereta Api yang sudah mengeluarkan kebijakan baru, bahwa seluruh kereta jarak jauh termasuk kelas ekonomi hanya akan ada tiket duduk 100 % yang artinya jika kapasitas tempat duduk sudah penuh, karcis tidak akan di jual lagi, meskipun pedagang masih bisa seliweran dengan bebas di gerbong kereta. Thanks God. Dan bayangan kereta bejubel, penuh sesak dan tidak manusiawi hilang sudah, terutama karena 1/2 gerbong kereta berisi pasukan backpacker indonesia yang cinta bersih, dan taat pada aturan tidak merokok di area publik. 17 jam perjalanan gerbong kami masih lumayan bersih dan bebas asap rokok.

Baca selengkapnya »

Arung Jeram Bersama Arus Liar

Terasa jadi orang beruntung banget, karena ketika lagi cekak-cekaknya, kantor punya kebijakan ngadain social gathering untuk meningkatkan kekompakan dan kerjasama sekalian bos baru mau PDKT sama kita.
Tadinya kita punya beberapa pilihan bentuk social gathering.

1. Makan-makan di rumah makan sekitar UI, tetapi nggak jadi karena kayanya kurang seru secara kita sudah tiap hari makan.
2. Ke Dufan, ya ampun ngebayanginnya saja sudah bikin males. ngantrinya itu loh...
3. Rafting di Sungai Citarik Sukabumi, walahhh ini baru OK punya. Setuju komandan... berangkat...!!

Baca selengkapnya »

Serunya Jadi Wartawan "Perang"

Jadi wartawan perang...?? Karena terlalu ingin tahu gimana rasanya jadi wartawan perang, jadilah saya nekat maju ke medan perang demi mengabadikan momen yang tidak biasa itu.. Bermodal kamera digital biasa, dan google untuk antisipasi kalau-kalau kena peluru nyasar, jadilah saya wartawan perang... Wartawan Perang Paint Ball.

Baca selengkapnya »

Mengenang kembali...

Membaca beberapa postingan asty tentang merapi, membawa aku kembali pada pengalaman traveling ke yogya akhir tahun lalu. Akhir tahun lalu, Yogya sangat ceria, sesekali turun hujan untuk menyejukkan hari yang bagi traveler seperti aku lumayan panas. Aku ingat betapa macetnya malioboro saat itu karena begitu banyaknya siswa dari luar yogya melakukan study tour ke sana. Aku ingat semua tempat yang aku kunjungi di Yogya, di mulai dari jalan-jalan di Yogya yang penuh dengan karya seni,   kawasan sekitar keraton Yogya, kemudian mampir ke Kota Gede untuk melihat pengrajin perak beraksi, melihat Candi prambanan yang cantik,  menyusuri kawasan kasongan yang dipenuhi kerajinan tradisional seperti gerabah, hingga Candi Borobudur yang luar biasa itu. Saking Semangatnya ke Borobudur, sekitar pukul 7 atau 8 pagi aku sudah berada di puncak Borobudur bersama beberapa orang lainnya yang juga sama semangatnya denganku. Ketika hari mulai terik, aku mulai keluar dari kompleks Borobudur sementara orang-orang yang baru datang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Saat itu Borobudur semarak,  penjual pernak-pernik bersemangat, dan alam bersahabat.

Baca selengkapnya »

FLASHPACKER : SENI TRAVELING ABAD 21

Sebagai seorang pekerja yang hobi jalan-jalan, sering kali masalah waktu menjadi kendala bagi keinginan untuk traveling. Bayangkan jika kita adalah tenaga kerja reguler  dengan jadwal kerja tetap senin sampai jumat dan jatah cuti cuma 12 hari per tahun bahkan kadang masih dipotong untuk cuti bersama, sehingga kita benar-benar cuma punya waktu sedikit untuk merealisasikan rencana traveling kita. Beberapa dari kita memang punya ekstra jalan keluar dengan menambah jatah cuti dengan konsekuensi potong gaji, atau kadang mendoktrin diri sendiri dengan istilah "Kerja belakangan yang penting jalan-jalan", dan berakibat keluarnya surat peringatan 1-3, tetapi bagi mereka yang bekerja demi hajat hidup orang banyak, mereka yang belum punya plan B untuk antisipasi jika di depak dari kerjaan karena terlalu sering mengajukan cuti, maka doktrin "kerja belakangan yang penting jalan-jalan" dan ekstra cuti tidak berlaku.

Baca selengkapnya »

Father

No matter what, he's always besides us...









ALIVE

Alive, 16 Orang - 72 Hari di Neraka SaljuAlive, 16 Orang - 72 Hari di Neraka Salju by Piers Paul Read
My rating: 4 of 5 stars

Alive, Menceritakan pengalaman enam belas orang yang selamat dari kecelakaan pesawat di pegunungan Andes yang sejauh mata memandang hanya terdapat salju, salju dan salju. Tidak ada tanaman yang tumbuh atau binatang yang dapat diburu untuk bertahan hidup.

Oktober 1972, Pesawat angakatan udara Uruguay terbang membawa tim Pemain Rugbi, sehingga hampir seluruh penumpang pesawat itu saling kenal satu sama lain, mengalami kecelakaan di pegunungan Andes. Mereka yang selamat memanfaatkan sisa-sisa makanan dalam badan pesawat untuk bertahan hidup. Ketika makanan mereka habis sedangkan bantuan belum kunjung tiba, mereka diharuskan untuk mengambil keputusan tersulit yang mungkin harus mereka hadapi seumur hidup mereka, yaitu memakan daging penumpang yang telah meninggal dunia, yang tidak lain merupakan teman mereka sendiri.

Baca selengkapnya »

UNLIMITED tetapi LIMITED

Senangnya bukan main ketika modem pesananku datang. Mengingat empat bulan aku bolos nge-blog karena lenyapnya akses internet di rumah. Setelah beberapa kali gagal dalam menginstall modem dengan kartu GSM, akhirnya aku berhasil masuk ke dunia maya dengan menggunakan salah satu jasa operator berbekal paket unlimited.

Unlimited. Begitu katanya!. Tetapi kemudian kudapati bahwa paket yang ku beli unlimited tetapi dibatasi quota dengan kapasitas tertentu yang artinya setelah melebihi batas kuota yang ada maka speed internet menurun drastis, yang dapat membuat kesal, hilangnya kesabaran yang berujung pada di non aktifkannya modem baru yang umurnya baru beberapa hari itu. Aku tidak mengerti mengapa paket internet dengan batas atau kuota sedemikian rupa perlu sekali diberi istiliah unlimited.

Unlimited, aaihh... ku rasa penyelenggara broadband internet perlu diberi tahu lagi apa arti unlimited dalam bahasa Indonesia.

Biarkan Aku Berdiri Sendirian

Biarkan Aku Berdiri SendirianBiarkan Aku Berdiri Sendirian by Rachel Corrie
My rating: 3 of 5 stars


Salah satu kapal yang akan mengirim bantuan ke Gaza itu bernama "Rachel Corrie" tadinya aku pikir Rachel Corrie adalah si pemilik kapal, aku pikir ia orang kaya narsis yang ingin memberitahukan kepada dunia bahwa ia pemilik kapal. Tetapi aku salah, alih-alih nama seorang jutawan, Rachel Corrie ternyata aktivis kemanusiaan yang tewas di Gaza palestina karena terlindas buldozer saat mencegah buldozer milik Israel menghancurkan rumah penduduk Gaza.

Hal menarik dari buku ini adalah memahami pola pikir seseorang yang memilih jalan hidup yang tidak biasa, terutama bagi seorang amerika seperti Rahel Corrie. Hal lainnya adalah bagaimana seorang Amerika bisa memiliki sudut pandang yang begitu berbeda tentang konflik palestina dari kebanyakan warga amerika dan pemerintahnya yang turut andil dalam konflik ini.

Baca selengkapnya »

Belajar Ikhlas

Aku menunggu datangnya wanita berkerudung itu. Sudah sebulan ia tidak mengunjungi aku. Aku rindu padanya.  Aku  ingin lebih mendengar ia bercerita tentang hidupnya yang tidak mudah. Meski begitu, sekalipun aku tidak pernah mendengar ia bertanya pada Tuhan mengapa, Ia tidak pernah mengeluhkan hidupnya yang susah, tidak pernah bersedih karena tidak bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan, aku hanya melihat ia melakukan apa saja yang bisa ia lakukan. Aku tidak tahu apa yang ia mau, tetapi ia selalu tahu apa yang orang lain butuh.

Ia adalah pengajar terbaik untuk aku, ia jarang berbicara, ia hanya sering berbuat. Ia tidak pernah berkhotbah di telingaku yang sudah bosan mendengar ceramah tanpa bukti nyata, ia hanya melakukannya. Malam ini aku duduk diteras rumahku, menunggu ia datang, menunggu sang guru datang, menunggu wajah yang selalu tenang, menunggu hati yang selalu ikhlas.


I Just Need Your Best Effort

Perhelatan Piala Uber baru saja berakhir. Korea membungkam kepongahan China, terutama pelatih Li Yongbo yang sesumbar tentang juara Uber Cup akan jatuh ke tangan China lagi Di atas kertas Seharusnya Tim China memang akan menang menilik pada prestasi individu serta peringkat atlet bulutangkisnya yang mengisi lima besar dunia. Tetapi mungkin emang dasar tidak rejeki Pemain Korea merontokan China dengan skor 3-1.

Melihat pertandingan sore tadi, hanya ada satu jawaban atas kunci keberhasilan Tim Korea, yaitu mereka gigih berjuang, persetan dengan lawannya yang nomor satu dunia, masa bodo dengan peringkatnya sendiri yang jauh diurutan 16, lawan ya lawan, yang penting berusaha, hasilnya kita lihat saja nanti.

Menanti pertandingan Final Thomas Cup besok hari anatara Indonesia melawan China, aku sangat berharap, para pahlawan olahraga ini bersedia melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk membawa pulang trofi bergengsi ini.

Ini tentang Standard Kejujuran Kita

21.30, kereta ekonomi AC jurusan Kota - Bogor pergi begitu saja meninggalkan aku dan kawanku yang sudah pontang-panting mengejarnya. Itu berarti kami harus menunggu hingga 22.20 untuk kereta terakhir jurusan Bogor, yang artinya kami masih punya waktu hampir satu jam untuk ngobrol ngalor ngidul demi membunuh waktu.

Hari itu, 27 Maret 2010, aku dan kawanku mengikuti acara 60 Earth Hour yang diadakan WWF di monas. Rencanya kami akan berkumpul dengan anggota Backpacker Murah lainnya di Monas, tetapi sayang, setelah menunggu di pintu gerbang patung kuda, kami tidak juga menemukan keberadaan anggota BM, tetapi tidak mengurangi antusias kami dalam mengikuti Earth Hour, kami tetap setia menunggu pukul 20.30 dimana saat itu secara serentak pusat kota akan mematikan lampu selama satu jam kemudian untuk menghemat energi. Tepat pukul 21.00 kami segera meninggalkan monas untuk pulang ke Bogor. pukul 21.30 kami tiba di Stasiun Kota (Stasiun Kota selalu menjadi meeting point kami kalau bepergian, bahkan mau ke Senayan pun harus lewat stasiun Kota). Dan disinilah pembicaraan kami dimulai.

Kami adalah dua orang pekerja yang tergagap-gagap menghadapi kenyataan di dunia tempat kami bekerja. Kami mulai masuk dunia kerja ini dengan polosnya. Menuruti perintah atasan, atau perintah senior tanpa memikirkan hal lainnya. Pengetahuan kami tentang dunia sekitar begitu minim, hingga kami yakin tempat ini bukan tempat yang layak untuk di korupsi atau dimanipulasi. Tetapi itu dulu, beberapa tahun silam, ketika kami masih menjadi pekerja lugu. sekarang, kami sudah lebih memahami apa yang terjadi disini. Segala kebusukan yang ada mulai tercium, dan kami jengah menghadapi semuanya, tetapi juga tidka berdaya melawan lingkungan yang sudah demikian rusak, bahkan mungkin sekarang kamilah pelakunya.

Pembicaraan ini membuat aku termenung, pikiranku kembali ke masa beberapa tahun silam ketika aku masih pendatang baru, rasanya aku memiliki standard yang tegas tentang kejujuran, orang tuaku bisa jadi merupakan korban ketidakjujuran beberapa pihak yang berusaha mencurangi golongan bawah, dengan menciptakan seribu kabar untuk membenarkan kecurangan mereka, dan saat itu, aku tahu betul bahwa itu salah, itu tidak benar, dan aku berjanji tidak akan terjadi padaku.

Tetapi sepertinya merealisasikan janji tidak semudah ketika mengikrarkannya. Lambat laun standard kejujuran makin pudar. aku makin sulit membedakan mana yang benar, wajar, atau aku sudah terjun ke jurang kebohongan. Budaya manipulasi, lingkungan yang serba kompak dalam kebusukan, terlebih lagi sulitnya jujur seorang diri, membuat standard kejujuran ini mulai melebar, mulai pudar, dan sulit dikenali.

Mungkin saja, inilah kegalauan yang dulu dialami pemuda McCandless sehingga ia memilih mengasingkan diri dalam arti yang sebenarnya karena muak dengan kemunafikan lingkungannya. McCandless jelas memilih melindungi prinsipnya dari kotoran yang dapat menodai prinsipnya sewaktu-waktu.

Mendapati dirku sekarang, terkadang aku ingin tahu apakah kelak aku bisa mengatakan "Lebih Baik Diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" seperti dulu pernah dikatakan Gie.


Posting Lama