Blogger news

You are reading eza's blog

my experience

Pemeran Pengganti


29 Oktober 2011, hari yang tidak pernah aku lupakan dalam hidupku. Ketika sore yang harusnya indah itu, menjadi sore terburuk dalam hidup. Ade memberitahuku, Ayah jatuh, dan harus  dirawat di ICU,  stroke telah membuat Ayah tidak sadarkan diri. Setelah satu minggu, alih-alih membaik, Ayah malah membutuhkan ventilator untuk membantu kerja paru-parunya. Kami hanya bisa melihat Ayah dibalik jendela ruang ICU rumah sakit di bilangan bogor setelah perawat membuka tirai ruang ICU pada jam besuk. Ayah Somnolen, membuat aku bertanya-tanya apakah Ayah mendengar suara kami ketika kami memanggilnya, atau tahu  kami berada di dekatnya begitu kami genggam tangannya.

Semakin lama Ayah di ICU semakin bercabang pikiran kami, bukan hanya memikirkan kesembuhan ayah, tetapi juga memikirkan tagihan rumah sakit yang nilainya sudah sampai puluhan juta.  Askes hanya mampu menjamin biaya perawatan ayah 30%, sisanya kami harus bayar sendiri. Aku sedih, bingung atau bisa dibilang sedikit frustasi. Hingga akhirnya aku bertemu bapak tua ini.

Baca selengkapnya »

Angkot dan Sepatuku

Bagi orang-orang seperti aku yang pekerja, mereka yang pelajar serta mahasiswa, naik turun angkot adalah hal yang sudah menjadi rutinitas. Saking dikerjakan setiap harinya, sampai ada beberapa hal yang ku anggap sebagai gangguan tetap yang terjadi secara berkala, seperti sopir angkot yang nge-tem terlalu lama, atau kebiasaan penumpang angkot yang malas turun naik di halte, sehingga membuat para sopir mengambil blunder untuk kucing-kucingan dengan polisi dan berisiko kena tilang demi tambahan setoran 3000 perak.

Model gangguan lainnya adalah cara penumpang duduk di angkot, mbak-mbak yang pakai rok pendek sering menghabiskan tempat dengan dengan duduk serong 45 derajat, atau bapak-bapak yang duduk melebar membentuk sudut 60 derajat, juga kalau angkot penuh, dan tinggal menyisakan satu kursi lagi, penumpang terakhir ini harus susah payah nge-rangsek sampai ke pojok karena penumpang yang sudah ada tidak mau geser ke dalam.

Senin pagi, aku sengaja mencari angkot yang sudah hampir penuh agar waktu tidak habis karena acara nge-tem. Dan sepeti biasa, penumpang yang sudah di dalam enggan geser sehingga aku susah payah mencari tempat duduk ku di pojok sana. Sudah sempit, ditambah lagi Si sopir sudah tancap gas kembali karena dari belakang polisi sudah membelalakkan mata, membuata persoalan sepele seperti naik angkot jadi bikin emosi

Setelah diperhatikan ternyata penumpang angkot sebagian besar adalah karyawan pabrik elektronik di Jalan Raya Bogor yang aku perkirakan baru saja pulang shift 3. di depanku dua orang pelajar SMA dan ibu yang baru pulang dari pasar. Tepat disebelahku adalah wanita cantik dengan penampilan modis, rok span super pendek dan kakinya hanya dibungkus sandal yang banyak lilitan talinya mirip sandal yang dipakai prajurit Roma dalam film Gladiator dan tampak seperti pegawai bank.

Karena kesal sudah merusak pagi yang seharusnya semangat ini, aku melangkah garang keluar dari angkot hingga aku menginjak kaki si pegawai bank. Sial buat si pegawai bank , aku lupa kalau pagi itu aku berangkat kerja menggunakan sepatu safety dengan pengaman dari besi yang dideaign untuk menahan beban puluhan kilo yang juga dipakai oleh satpam, polisi, tentara atau pekerja bangunan. Terinjak sepatu model ini tentu saja membuatnya menjerit sekeras-kerasnya apa lagi kakinya cuma dilindungi lilitan tali ala prajurit roma itu.aku yang sudah di luar angkot tidak peduli dan terus melaju menuju tempat kerja.

Sesaat setelah turun dari angkot, aku tersenyum lebar, tanpa sengaja aku telah memberi pelajaran pada penumpang angkot lainnya yang suka seenaknya sendiri.


MEREKA BILANG, INI BUKAN ZAMAN SITI NURBAYA

Suatu senja, aku dan tiga orang sahabat berkumpul di pusat perbelanjaan di Depok. Tepat di hari aku membaca catatan di facebook Yeli yang berjudul "Kapan Nikah". Kebetulan, kami berempat adalah wanita single yang sudah sepantasnya memasuki gerbang pernikahan, hanya saja waktunya belum tiba. Seperti biasa, setelah ngalor ngidul kesana kemari, menghamburkan apa saja yang ada di benak kami, membahas isu selebritis, sampai menyerempet urusan politik, pada akhirnya kami selalu kembali ke urusan genting , Jodoh.

Berawal dari curahan hati Nina, ia beberapa hari ini kerap pulang lebih malam demi menghindari obrolan dengan orangtuanya yang berkaitan dengan perjodohan. Pasalnya, saat umurnya menginjak 28 tahun ia belum menemukan pendamping hidup yang membuat kedua orangtuanya berinisiatif mengenalkan nina dengan Pemuda yang sudah mereka kenal. Baru saja sebatas wacana, Nina menolak ide itu mentah - mentah.

"Hari gini, masih dijodohin?, cape deh!!" begitu kata Nina.

Ya ampun Na, emang bonyok lo tuh terlampau kolot" . kali ini sari yang berpendapat.

Dan diskusi tentang dijodohkan orang tua ini tampak mencapai aklamasi, hampir semua berpendapat bahwa dijodohkan sudah tidak relevan lagi dengan zaman serba canggih ini.

Tetapi baru tampak mencapai aklamasi, karena aku belum mengeluarkan pendapatku.

Nina, sari dan Ajeng mulai menyadari kalau dari tadi aku hanya menjadi pendengar setia mereka.

"Menurut lo gimana Za?" Tanya Nina.
"Hmmm...!!!"

"Jangan hhhmmm aja dong Za!!" Sari mulai kesal

Aku masih diam

"Za...???" Ajeng pensaran menunggu jawabanku.

Aku diam beberapa saat menatap wajah sahabat-sahabatku yang menanti jawabanku dengan harap-harap cemas.

"Begini..." aku mulai bicara sambil membenarkan posisi dudukku.

"Kalau orang tua gue mau menjodohkan gue dengan seseorang, gue nggak akan keberatan" kataku yakin-seyakinnya.

"Hah... yang bener aja Za" Nina menentang keras pendapatku.
"Emang ini zaman Siti Nurbaya Za," kata Nina lagi.

"Iya Za, cukup Situ Nurbaya aja yang menderita karena dijodohkan orang tua" Timpal Ajeng.

aku tersenyum, aku sudah duga respon mereka seperti ini.

"Ok, ini memang bukan zaman Siti Nurbaya" kataku.

"Dan orang tua gue juga nggak seperti orang tua Situ Nurbaya. Seburuk apapun keadaan kami, Orang tua gue nggak akan mungkin menjodohkan gue dengan seseorang yang tipikal Datuk Maringgih. gue percaya bahwa mereka akan memberikan gue yang terbaik, karena dari dulu mereka selalu begitu, memberikan yang terbaik buat gue." Aku mencoba menjelaskan.

"Kecuali lo berpendapat orang tua lo adalah tipe orang lemah yang menggadaikan kebahagiaan anaknya demi sesuap nasi buat besok" aku menambahkan.

Mereka bertiga diam.

"Ya... orang tua gue juga nggak kaya gitu kali Za... cuma nggak enak aja, masa dijodohin" Kata Nina

"Lho bonyok lo juga kan baru mau mengenalkan, bukan harus merit sama cowok itu kan" kataku lagi.

"Apa salahnya, siapa tahu jalan jodoh lo memang seperti itu." Kataku lagi

Sempat terdiam beberapa lama, kami kembali ke topik-topik ringan untuk mencairkan suasana. Creeps yang sudah habis kami lahap, menjadi pertanda bahwa pertemuan hari ini usai.

***

aku tengah mencari bahan untuk ku tulis lagi di blog, beberapa cerita sebenarnya sudah aku siapkan, sampai tiba-tiba handphoneku berbunyi. SMS dari dari Nina rupanya.

Za, sorry banget besok gue nggak bisa ikutan Jenguk Ela, gue ada janji sama Wisnu. begitu bunyi pesannya.

aku mengernyitkan dahi, Wisnu? siapa wisnu? Perasaan Nina belum cerita tentang cowok yang namanya wisnu. aku kebingungan. ingin ku balas SMS nya dan menanyakan perihal cowok misterius itu. tetapi... ah sudahlah. Meskipun Nina sahabatku, aku tidak mau terlalu ikut campur urusann pribadinya.

Tiba-tiba satu pesan masuk lagi ke Handphoneku. Ku buka, ternyata Nina lagi.

Wisnu itu cowok yang dikenalkan bonyok gue kemarin. ternyata orangnya lumayan, and asyik juga di ajak ngobrol, he... he...

Aku tertegun. Mengingat kembali diskusi kami tentang dijodohkan orang tua beberapa hari lalu. Aku senyum-senyum sendiri.

"Ya ampun Na... ini bukan zaman Siti Nurbaya." kataku sambil geleng-geleng kepala. Tiba-tiba aku punya ide segar untuk postingan terbaru di blog.

CERITA DI KERETA


sekitar tahun 2004 silam, aku pernah bekerja di kawasan Pluit. Dari depok angkutan paling cepat adalah kereta. Hingga sat itu berdesakan di kereta mnejadi rutinitas sehari-hari. Kalau ada yang pernah merasakan berdesak-desakan di kereta pastilah mengerti bagaimana rasanya. Bukan hanya cerita tentang tumpukan manusia di gerbongnya, tetapi cerita konyol lainnya seputar petualangan di dalam kereta.

Mau naik Kereta, belilah karcis..!!

Suatu pagi, angkot yang aku naiki berjalan bagai siput, lambat... lambat sekali. satu persatu gang di kawasan depok II di intip oleh si sopir angkot, padahal jarak dari satu gang ke gang lain di kawasan ini tidak lebih dari 10 meter. Jadilah waktu tempuh rumah ke stasiun depok bertambah 20 menit dari biasanya.
Aku bergegas, dari kejauhan aku dengar suara yang biasanya menandai kereta akan datang. Aku berlarian, pontang-panting mengejarnya. Dan si kereta pun muncul dihadapanku, padahal saat itu aku masih di luar peron, dan belum membeli karcis. Meski demikian aku berkeyakinan kalau aku tidak boleh ketinggalan kereta ini. Maka dengan semangat ku terobos para penjaga stasiun, tidak ada yang aku pikirkan selain kereta. Bahkan tidak peduli pada karcis yang tidak aku beli.
Tidak seperti biasanya yang padat, aku beruntung kereta ini sangat lengang untuk ukuran kereta ekonomi jurusan jakarta Kota pada pukul 06.00. Biasanya masuk gerbong saja sudah sulit setengah mati. Lebih menggembirakan lagi, ketika di stasiun kalibata aku sudah dapat tempat duduk, what a lucky day!!! hatiku berbunga.
Tetapi bunga di hatiku layu seketika setelah melewati stasiun manggarai
kereta tak kunjung naik ke lintasan layang. Seharusnya setelah stasiun manggarai, kereta akan masuk stasiun cikini yang merupakan stasiun layang. ohh ala... apa yang terjadi, kereta apa yang aku naiki.
Setelah momohon penjelasan dari beberapa orang dalam kereta, barulah aku sadar ternyata, yang aku naiki adalah kereta Jurusan tanah abang, padahal aku mau ke kota.
Sungguh sial hari ini, aku terpaksa turun di stasiun berikutnya, dan melanjutkan perjalanan dengan busway.
Aku pikir semua karena hari ini aku curang. ingin menikmati fasilitas tapi ogah membayar, atau menciptakan pembenaran untuk mangkir dari kewajiban. hmm... jadi pelajaran bahwa hukum ada uang ada barang berlaku juga unutk urusan kereta.

Untung sepatu yang hilang, bukan kakimu..!!
Butuh perjuangan ekstra untuk dapat masuk kereta ekonomi Jurusan Jakarta dari stasiun depok baru pada jam kerja. Kalau ada yang menyebut aku lebay, silahkan coba sendiri. Hari itu, setelah aku menerobos pintu kereta yang terbuat dari tubuh manusia, aku merasa kehilangan sesuatu. setelah ku amati ternyata sebelah sepatuku hilang, terlepas dari kkiku sendiri.
" permisi pak, sepatu saya hilang sebelah". kataku
Bapak-bapak yang mendengar keluhan ku tertawa dan hanya mengatakan
"Waduh neng, untung hanya sepatu, coba kalau kaki yang hilang"
Huh... menyesali kebodohanku. Unutk berdiri saja sulit, apalagi mencari sepatu. Akhirnya pasrah saja. Jadilah sebelah kakiku hanya dibungkus kaos kai hitam. Pikiranku menerawang menyusun rencana untuk membeli sandal jepit di kota nanti.
memasuki stasiun cikini, kereta mulai lengang. dan samar-samar ku lihat benda hitam yang aku kenali sebagai sepatuku terkulai di dekat pintu kereta. Bergegas aku meraihnya, ku coba tepis rasa malu karena beberapa orang (banyak orang tepatnya) menyadari kalau aku memakai sebelah sepatu sejak tadi. Aku hibur diri sendiri dengan sugesti setidaknya aku tidak perlu keluar uang untuk beli sandal jepit. Sejak itu aku putuskan untuk menebalkan muka hingga aku lenyap dari stasiun Kota.

Cari Saja Perbatasan Gerbong 4 & 5, Maka Kamu Aman

kenapa harus di perbatasan gerbong 4 dan 5?. karena di perbatasan itu tidak ada pintu penghubung yang menghubungkan gerbong 4 dan 5, sehingga beberapa orang duduk beralaskan koran, atau ada ibu-ibu yang sengaaj membwa kusi lipat kecil. Untuk lebih nyaman, mereka menutup pintu samping kereta dan mengganjalnya dengan batu. sehingga orang tidak bisa masuk dari pintu tersebut. Jadilah orang-orang yang disana aman, atau sedikit lebih nyaman dari pada yang berdesak-desakan sambil berdiri.
Aku mengetahui komunitas ini tanpa sengaja. Dari seorang ibu yang duduk di kursi lipat aku dapatkan cerita ini. Rupanya mereka yang ada di situ adalah orang-orang yang setiap hari naik kereta, selama bertahun-tahun. Pengalaman juga yang mengajarkan untuk survive di kejamnya kereta jabotabek, sehingga setiap hari mereka bertemu di perbatasan gerbong 4 dan 5, menciptakan tempat yang sedikit lebih nyaman (walau juga terkesan egois). Dan karena kenal bertahun-tahun, maka komunitas ini mirip suasana rapat. Ada perbincangan, ada cemilan yang kadang di bawa seseorang, bahkan kadang ada konser live dangdut.
Sejak saat itu, jika pulang kantor, aku selalu usahakan bertemu mereka di sana, di gerbong 4 yang berbatasan dengan gerbong 5.
Tak sampai 6 bulan dan itu sudah 6 tahun yang lalu, aku sudah tidak lagi bekerja di Pluit, kadang aku bertanya, apa mereka masih disana?

Pencuri di kereta, Terkutuklah kalian...!!

Kalau yang ini cerita di tahun 1999. Aku hendak ke rumah sakit dengan ayahku untuk berobat. sampai di Tanjung Barat, sadarlah ayahku kalau dompetnya telah raib dari kantongnya. Padahal itu uang untuk berobat. Hendak pulang pun ongkos sudah tidak ada. Lalu ayah putuskan untuk meminjam pada warga sekitar stasiun, agar aku tetap bisa ke dokter. Sudah susah payah ayah meyakinkan sorang warga yang tampak berada untuk meminjamkannya uang dengan jaminan KTP, dan menjelaskan kalau hari ini anaknya harus cek up di rumah sakit, tetap tidak membuat orang itu percaya. Tetapi ia sedikit menolong. Ia berikan sejumlah uang pada ayahku dan berkata
"Bapak pulang saja dulu, ini saya kasih ongkos, ke rumah sakitnya besok saja"
Ayah menatap uang itu, masih lebih baik dari pada tidak bisa pulang sama sekali. Maka hari itu pencuri menggagalkan cek up ku ke dokter. Aku bertanya-tanya, tidka bisakah melihat-lihat orang yang hendak di curi, apa ia tidak lihat wajah ayahku ayng khawatir pada penyakit anaknya. Sepanjang pulang aku yang tengah sakit mengeluarkan sumpah serapah untuk pencuri terkutuk itu.




Postingan Lama