Blogger news

You are reading eza's blog

In my Mind

Ini tentang Standard Kejujuran Kita

21.30, kereta ekonomi AC jurusan Kota - Bogor pergi begitu saja meninggalkan aku dan kawanku yang sudah pontang-panting mengejarnya. Itu berarti kami harus menunggu hingga 22.20 untuk kereta terakhir jurusan Bogor, yang artinya kami masih punya waktu hampir satu jam untuk ngobrol ngalor ngidul demi membunuh waktu.

Hari itu, 27 Maret 2010, aku dan kawanku mengikuti acara 60 Earth Hour yang diadakan WWF di monas. Rencanya kami akan berkumpul dengan anggota Backpacker Murah lainnya di Monas, tetapi sayang, setelah menunggu di pintu gerbang patung kuda, kami tidak juga menemukan keberadaan anggota BM, tetapi tidak mengurangi antusias kami dalam mengikuti Earth Hour, kami tetap setia menunggu pukul 20.30 dimana saat itu secara serentak pusat kota akan mematikan lampu selama satu jam kemudian untuk menghemat energi. Tepat pukul 21.00 kami segera meninggalkan monas untuk pulang ke Bogor. pukul 21.30 kami tiba di Stasiun Kota (Stasiun Kota selalu menjadi meeting point kami kalau bepergian, bahkan mau ke Senayan pun harus lewat stasiun Kota). Dan disinilah pembicaraan kami dimulai.

Kami adalah dua orang pekerja yang tergagap-gagap menghadapi kenyataan di dunia tempat kami bekerja. Kami mulai masuk dunia kerja ini dengan polosnya. Menuruti perintah atasan, atau perintah senior tanpa memikirkan hal lainnya. Pengetahuan kami tentang dunia sekitar begitu minim, hingga kami yakin tempat ini bukan tempat yang layak untuk di korupsi atau dimanipulasi. Tetapi itu dulu, beberapa tahun silam, ketika kami masih menjadi pekerja lugu. sekarang, kami sudah lebih memahami apa yang terjadi disini. Segala kebusukan yang ada mulai tercium, dan kami jengah menghadapi semuanya, tetapi juga tidka berdaya melawan lingkungan yang sudah demikian rusak, bahkan mungkin sekarang kamilah pelakunya.

Pembicaraan ini membuat aku termenung, pikiranku kembali ke masa beberapa tahun silam ketika aku masih pendatang baru, rasanya aku memiliki standard yang tegas tentang kejujuran, orang tuaku bisa jadi merupakan korban ketidakjujuran beberapa pihak yang berusaha mencurangi golongan bawah, dengan menciptakan seribu kabar untuk membenarkan kecurangan mereka, dan saat itu, aku tahu betul bahwa itu salah, itu tidak benar, dan aku berjanji tidak akan terjadi padaku.

Tetapi sepertinya merealisasikan janji tidak semudah ketika mengikrarkannya. Lambat laun standard kejujuran makin pudar. aku makin sulit membedakan mana yang benar, wajar, atau aku sudah terjun ke jurang kebohongan. Budaya manipulasi, lingkungan yang serba kompak dalam kebusukan, terlebih lagi sulitnya jujur seorang diri, membuat standard kejujuran ini mulai melebar, mulai pudar, dan sulit dikenali.

Mungkin saja, inilah kegalauan yang dulu dialami pemuda McCandless sehingga ia memilih mengasingkan diri dalam arti yang sebenarnya karena muak dengan kemunafikan lingkungannya. McCandless jelas memilih melindungi prinsipnya dari kotoran yang dapat menodai prinsipnya sewaktu-waktu.

Mendapati dirku sekarang, terkadang aku ingin tahu apakah kelak aku bisa mengatakan "Lebih Baik Diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" seperti dulu pernah dikatakan Gie.


MEREKA BILANG, INI BUKAN ZAMAN SITI NURBAYA

Suatu senja, aku dan tiga orang sahabat berkumpul di pusat perbelanjaan di Depok. Tepat di hari aku membaca catatan di facebook Yeli yang berjudul "Kapan Nikah". Kebetulan, kami berempat adalah wanita single yang sudah sepantasnya memasuki gerbang pernikahan, hanya saja waktunya belum tiba. Seperti biasa, setelah ngalor ngidul kesana kemari, menghamburkan apa saja yang ada di benak kami, membahas isu selebritis, sampai menyerempet urusan politik, pada akhirnya kami selalu kembali ke urusan genting , Jodoh.

Berawal dari curahan hati Nina, ia beberapa hari ini kerap pulang lebih malam demi menghindari obrolan dengan orangtuanya yang berkaitan dengan perjodohan. Pasalnya, saat umurnya menginjak 28 tahun ia belum menemukan pendamping hidup yang membuat kedua orangtuanya berinisiatif mengenalkan nina dengan Pemuda yang sudah mereka kenal. Baru saja sebatas wacana, Nina menolak ide itu mentah - mentah.

"Hari gini, masih dijodohin?, cape deh!!" begitu kata Nina.

Ya ampun Na, emang bonyok lo tuh terlampau kolot" . kali ini sari yang berpendapat.

Dan diskusi tentang dijodohkan orang tua ini tampak mencapai aklamasi, hampir semua berpendapat bahwa dijodohkan sudah tidak relevan lagi dengan zaman serba canggih ini.

Tetapi baru tampak mencapai aklamasi, karena aku belum mengeluarkan pendapatku.

Nina, sari dan Ajeng mulai menyadari kalau dari tadi aku hanya menjadi pendengar setia mereka.

"Menurut lo gimana Za?" Tanya Nina.
"Hmmm...!!!"

"Jangan hhhmmm aja dong Za!!" Sari mulai kesal

Aku masih diam

"Za...???" Ajeng pensaran menunggu jawabanku.

Aku diam beberapa saat menatap wajah sahabat-sahabatku yang menanti jawabanku dengan harap-harap cemas.

"Begini..." aku mulai bicara sambil membenarkan posisi dudukku.

"Kalau orang tua gue mau menjodohkan gue dengan seseorang, gue nggak akan keberatan" kataku yakin-seyakinnya.

"Hah... yang bener aja Za" Nina menentang keras pendapatku.
"Emang ini zaman Siti Nurbaya Za," kata Nina lagi.

"Iya Za, cukup Situ Nurbaya aja yang menderita karena dijodohkan orang tua" Timpal Ajeng.

aku tersenyum, aku sudah duga respon mereka seperti ini.

"Ok, ini memang bukan zaman Siti Nurbaya" kataku.

"Dan orang tua gue juga nggak seperti orang tua Situ Nurbaya. Seburuk apapun keadaan kami, Orang tua gue nggak akan mungkin menjodohkan gue dengan seseorang yang tipikal Datuk Maringgih. gue percaya bahwa mereka akan memberikan gue yang terbaik, karena dari dulu mereka selalu begitu, memberikan yang terbaik buat gue." Aku mencoba menjelaskan.

"Kecuali lo berpendapat orang tua lo adalah tipe orang lemah yang menggadaikan kebahagiaan anaknya demi sesuap nasi buat besok" aku menambahkan.

Mereka bertiga diam.

"Ya... orang tua gue juga nggak kaya gitu kali Za... cuma nggak enak aja, masa dijodohin" Kata Nina

"Lho bonyok lo juga kan baru mau mengenalkan, bukan harus merit sama cowok itu kan" kataku lagi.

"Apa salahnya, siapa tahu jalan jodoh lo memang seperti itu." Kataku lagi

Sempat terdiam beberapa lama, kami kembali ke topik-topik ringan untuk mencairkan suasana. Creeps yang sudah habis kami lahap, menjadi pertanda bahwa pertemuan hari ini usai.

***

aku tengah mencari bahan untuk ku tulis lagi di blog, beberapa cerita sebenarnya sudah aku siapkan, sampai tiba-tiba handphoneku berbunyi. SMS dari dari Nina rupanya.

Za, sorry banget besok gue nggak bisa ikutan Jenguk Ela, gue ada janji sama Wisnu. begitu bunyi pesannya.

aku mengernyitkan dahi, Wisnu? siapa wisnu? Perasaan Nina belum cerita tentang cowok yang namanya wisnu. aku kebingungan. ingin ku balas SMS nya dan menanyakan perihal cowok misterius itu. tetapi... ah sudahlah. Meskipun Nina sahabatku, aku tidak mau terlalu ikut campur urusann pribadinya.

Tiba-tiba satu pesan masuk lagi ke Handphoneku. Ku buka, ternyata Nina lagi.

Wisnu itu cowok yang dikenalkan bonyok gue kemarin. ternyata orangnya lumayan, and asyik juga di ajak ngobrol, he... he...

Aku tertegun. Mengingat kembali diskusi kami tentang dijodohkan orang tua beberapa hari lalu. Aku senyum-senyum sendiri.

"Ya ampun Na... ini bukan zaman Siti Nurbaya." kataku sambil geleng-geleng kepala. Tiba-tiba aku punya ide segar untuk postingan terbaru di blog.

STANDARD GANDA, DIMANA-MANA STANDARD GANDA...

ketika krisis ekonomi melanda, pengusaha memakainya sebagai alasan menaikkan gaji karyawan dalam jumlah yang terlampau kecil. Ketika Ekonomi cemerlang, inflasi bisa ditekan dan perusahaan untung milyaran rupiah, perusahaan mengatakan "inflasi segitu ya gaji naik segitu".

Ketika kita berkoar-koar tentang anti korupsi, ternyata kita sedang korupsi waktu.

ketika mahasiswa sibuk mengkritisi ketidakjujuran pemerintah, mahasiswa lihat jawaban teman sebelah ketika ujian.

Ketika kita benci disakiti, kita kerap menyakiti.

ketika Seorang Suami hendak menikah lagi dengan alasan diperbolehkan agama, ia lupa jika menyakiti istrinya, ia telah melanggar perintah agama.

Ketika Seorang Pria mau meresmikan hubungannya dengan wanita secara hukum agama, ia menggunakan hukum negara untuk tanggung jawab ekonomi dan waris bagi anak-anaknya.

Suatu negara di larang memanfaatkan nuklir oleh negara yang sudah memilikinya.

Sekelumit kejadian di kehidupan kita yang sangat menggelikan. Begitu banyak alasan yang kita buat demi membenarkan segala tindakan kita. Alasan yang dibuat unuk menghindari tanggung jawab. membuat hukum B dibelakang hukum A, dan hukum C untuk membayangi hukum B, dan jika semua tidak berhasil kita akan membuat hukum D, E, F, G dan seterusnya, dan sialnya itu terjadi dari masyarkat terkecil sampai yang mendunia

Tidak pernah kita sadari, ternyata hidup kita penuh dengan polemik, polemik yang kita ciptakan sendiri karena kita terlalu egois, terlalu pengecut untuk bertanggung jawab, terlalu takut untuk kalah, dan terlalu sombong untuk mengaku salah.


NEPOTISME : SI PENGHANCUR SISTEM

Aku kenal istilah nepotisme mungkin sekitar 12 atau 13 tahun yang lalu, ketika Presiden RI saat itu (alm) Soeharto, mengangkat putrinya sendiri Mbak Tutut menjadi Mentri Sosial. Isu nepotisme ini menjadi salah satu alasan terjadinya gerakan reformasi. Saat itu aku baru kelas 3 SMP, belum terpikirkan mengapa nepotisme sangat diharamkan para reformis.

Setelah bertahun-tahun kemudian, baru aku pahami mengapa nepotisme bisa sangat menghancurkan sistem yang telah di bangun oleh suatu perusahaan atau mungkin suatu negara.

Aku, sudah lima tahun terakhir ini bekerja di sebuah perusahaan swasta. Lima tahun penuh perjuangan untuk bisa memahami segala kebijakan yang diambil sekelompok orang yang menamakan diri mereka management. Kebijakan yang sulit diterapkan ketika terbentur pada tembok bernama nepotisme. Sistem yang setiap pagi dipekikkan untuk memberi semangat dalam bentuk slogan perusahaan akhirnya hanya menjadi bahan cemoohan kami di waktu istirahat.

Proses memahami nepotisme di mulai dari kasus makan siang. Makan siang menjadi saat yang terburuk selama 8 jam kerja di kantor. Betapa tidak, setelah 4 jam di kelilingi pekerjaan yang baru kelar nanti jika kita pensiun, makan siang seharusnya menjadi sumber tambahan energi untuk melanjutkan kerja selama 4 jam berikutnya. Tetapi sialnya, makan siang justru menjadi hal paling membosankan, yang pada akhirnya membuat aku mengeluarkan uang ekstra atau membiarkan asam lambung naik sampai merusak ulu hati. Ada saja keluhannya, sayur kurang garam, Ayam goreng yang kurang digoreng dan puncaknya Telur busuk yang masuk menu makan siangku. Tidak cukup sekali dapat telur busuk, aku dapatkan menu yang serupa untuk kedua kalinya, membuat aku kehilangan selera amakn jika tahu menunya adalah telur.
Lima tahun bekerja, beberapa kali mengisi questioner untuk menilai catering kami (pertanyaan questiner itu ku isi dengan jawaban "tidak memuaskan", kecuali petugas cateringnya yang baik sekali). Tetapi bagaimanapun jawaban kami atas performance si Suplier, tetap saja selama lima tahun ini makan siang kami masih di suply pihak yang sama, dan atasanku yang sudah bekerja sepuluh tahun masih menyantap makan siang dari pihak yang sama selama masa kerjanya itu, dan menurutku sepuluh tahun kemudian (jika aku masih di sini) aku masih makan, dengan kualitas yang sama.
Setelah diselidiki dengan seksama, baru aku tahu mengapa, cengkraman si suplier ini begitu kuat. Penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah pemilik catering adalah kerabat bosku sendiri. alasan yang mebuat pihak HRD hanya bisa bilang "lah kok mau ngelawan yang punya duit" setiap kali kita mengeluhkan catering ini. Padahal sebagai perusahaan dengan serifikat ISO, setiap supplier mendapat record masing-masing untuk kemudian di evaluasi. Suatu sistem yang akan membuat para suplier terus meningkatkan performanya jika ingin kerja sama antar dua perusahaan tetap berjalan, suatu sistem yang membuat kompetisi untuk meningkatkan kualitas. Jika semua rule di patuhi seharusnya ada evaluasi suplier catering untuk kemudian di putuskan apakah kerja sama masih bisa di lanjutkan atau tidak.

Tetapi rule tetap saja hanya menjadi hitam di atas puith, semuanya hanya menjadi omong kosong belaka jika sudah menyangkut kelangsungan hidup sang kerabat dekat. Tidak ada kualitas ketika kompetisi di tiadakan, tidak ada mutu ketika yang terjadi adalah monopoli. Bukti nyata, bahwa nepotisme telah membuat sistem tidak berdaya.



YOUR WIFE, YOUR HONOR

Baru saja semalam aku menyaksikan salah satu acara yang dibawakan oleh presenter kocak di suatu stasiun televisi. Acara itu itu masih saja sama, penuh lelucon, riang dan menggelitik. Tidak ada yang salah sampai kemudian beberapa kali si pembawa acara membawa istrinya sebagai bahan perbincangan, bukan sebagai nara sumber untuk di explore kelebihannya atau prestasinya, tetapi aku menangkap kesan hanya untuk sekedar di ejek dan menjadi bahan komedian belaka.

Si Pembawa acara menikmati joke yang ia lontarkan, penonton di buat terpingkal-pingkal, tetapi aku tidak. Aku merasakan suatu perasaan miris ketika mendengar si pembawa acara menjadikan istrinya sebagai bahan komedian. Mungkin baginya itu masalah biasa, ia biasa membuat joke bersama istrinya, atau ia tahu betul istrinya tidak akan keberatan, atau ia memang tidak pernah memikirkan semuanya. Bagiku tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat seorang pria untuk mengolok-olok istrinya terlebih lagi di depan jutaan pemirsa.



PENYANGKALAN

Seribu kalimat ku tuliskan untuk sebuah pernyataan
"Dia adalah segalanya
Dia adalah hidupku
Aku tidak bisa hidup tanpanya"

Kemudian aku tulis lagi seribu kalimat yang sama
"Dia adalah hidup dan matiku"

Keadaan tetap sama

Ia tetap Jauh

Dan aku menulis lagi

"Aku bergantung padanya"

Tetapi tidak juga membuatku lebih baik

Karena tidak membuatku sedekat yang aku inginkan

Ku tulis kembali kalimat berikutnya

"Aku bahagia bila bersamanya
Jadi izinkan ia bersamaku"

Tapi ia semakin jauh saja

Lalu aku putus asa

Hingga ku dengar Tuhan berkata

"Jika kau sudah tuliskan ribuan kata untuknya
Panjatkan jutaan doa
lakukan segalanya
dan ia tidak kunjung datang
maka ia bukan segalanya
ia bukan hidupmu
Kau bisa lanjutkan hidupmu tanpanya
Dia bukan hidup dan matimu
Kau mandiri dan sejati
Kau mampu membahagiakan dirimu sendiri
Bahkan orang di sekitarmu"

(aku menemukan catatan ini di buku harianku tertanggal 29 Juni 2008, ku publikasikan untuk temanku yang sedang menghiperbola keadaannya sendiri)



KETIKA ORANG AWAM IKUT BERFATWA

Beberapa waktu silam, MUI berencana mengeluarkan fatwa haram merokok,disusul fatwa untuk facebook (hingga aku diundang oleh salah seorang teman, untuk masuk dalam grup menolak fatwa tersebut). Dan kali ini, usul untuk mengeluarkan fatwa haram atas rebonding rambut bagi wanita , foto pre wedding dan ojek perempuan juga sudah menyulut publik untuk ikut beropini.
Yang membuat aku jengah adalah ketika kita dengan pengetahuan terbatas terutama tentang agama, beramai-ramai menolak rencana fatwa haram tersebut . Terlampau asyik dengan facebook saat itu membuat kita tidak bisa terima, kalau "mainan" baru itu diharamkan. Kelak, setelah beberapa bulan pasca munculnya rencana fatwa haram, baru muncul berbagai publikasi mengenai dampak penggunan facebook, bahkan seorang kawanku mengirimkan video berisi puisi yang dibacakan seorang anak, tentang kebiasaan ibunya berfacebook ria yang keterlaluan. Satu hal yang kemudian aku mengerti dari kasus ini adalah kita, manusia sangat sulit mengendalikan diri.
Temanku yang perokok mengeluarkan banyak pembenaran untuk menolak fatwa haram mengenai rokok. dari kekhawatiran banyaknya pengangguran karena pabrik rokok ditutup hingga menyatakan walaupun sudah bertahun-tahun menjadi perokok ia masih dalam kondisi sehat wal afiat.
Aku jadi teringat tentang perbincangan aku dan seorang kawan ketika membicarakan Jalan Baru Juanda di Depok. Aku yang tidak punya kendaraan pribadi sangat jengkel karena JAlan baru Juanda tersebut tidak bisa di akses angkutan umum. Satu-satunya angkutan yang bisa lewat adalah Ojek, sehingga aku merasa diriku di rugikan. Dan Temanku yang kebetulan punya mobil pribadi, merasa senang dengan keadaan sekarang dimana tanpa adanya angkutan umum Jalan Juanda bebas macet. Suatu hal ketika menyinggung kepentingan kita kita akan mudah bereaksi, Begitupun dengan kita yang kadang aku anggap terlalu subjektif pada fatwa-fatwa tersebut.
Aku pribadi lebih senang jika ada diskusi dua arah antara masyarakat dan MUI agar semua pertanyaan-pertanyaan di benak masyarakat ada pencerahan, ketimbang kita menolak fatwa-fatwa tersebut dengan alasan yang kita buat padahal kapabilitas kita tentang ilmu agama yang rendah. Sekali lagi kita sepatutnya berkaca, apakah kita sudah cukup memilki kemampuan untuk ikut berfatwa...???










Sekali Saja, Jadilah Minoritas

Tanpa kita sadari, ternyata terlalu banyak hal-hal yang kita lakukan yang menyakiti seseorang. Begitu seringnya kita tidak menghargai orang lain. Atau entah berapa kali kita mencemooh orang lain. dan kita terlampau sering menertawakan seseorang karena berbeda dar kita. Semua perilaku itu ada karena kita selalu menjadi mayoritas, menjadi bagian yang sempurna dari lingkungan kita, sehingga kita tidak ubahnya dengan dia atau mereka.

Sekali saja, Pergi ke tempat dimana kita akan ditelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut. Pergi ke tempat dimana orang akan berbisik-bisik membicarakan pakaianmu. Pergi ke tempat, selain tempat di mana kita menjadi yang mayoritas.
Karena di tempat itu, ketika kita menjadi minoritas, kita akan memohon untuk juga dihargai. Karena di tempat itu kita kan mengerti bagaimana rasanya tidak dihargai. Atau mungkin ditempat itu, kita akan menyaksikan sendiri, bagaimana orang tetap menghargai kita meskipun kita bukan golongan mereka.
Ketika aku ke thailand Juni lalu, aku merasakan apa yang disebut menjadi kaum minoritas. dalam satu gerbong monorail menjadi satu-satunya wanita berkerudung, meskipun demikian ketika waktu shalat tiba, mereka (orang thai) memberikan aku tempat bersih untuk melaksanakan shalat, memberitahu ke mana arah barat, dan susah payah mencarikan makanan halal untukku.
Di tempat dimana kita jadi minoritas, kita akan menangis karena tidak dihargai atau menangis karena terharu oleh pengertian orang lain.
Mungkin inilah yang aku sukai dari traveling. Keluar sejenak dari zona nyaman, untuk lebih memahami kehidupan bukan dari sekedar kata-kata, tetapi juga tindakan nyata.

HAPPY BIRTHDAY GREETING

Lucu... waktu deretan pesan dinding memenuhi dinding Facebook-ku ketika tanggal 2 november lalu. Yup... itu bertepatan dengan hari ulang tahunku. Nggak tahu kenapa, deretan pesan itu menjadi amat berkesan karena datang dari orang-orang yang ada dalam hidupku. seketika itu juga aku langsung terpikir untuk memajang pesan dinding itu ke dalam blog-ku. Namun setelah sekian lama baru sekarang aku bisa merealisasikan niat itu. Ini adalah sebagian pesan dinding ucapan happy birthday yang masuk ke facebook-ku.








UNDANGAN DARI DEWAN KESENIAN JAKARTA


Kemarin, undangan yang cuma sehelai seukuran kartu pos itu dikirim oleh tukang post (ehmmm... sudah lama juga tukang post gak datang ke rumah). Setelah di cek, ternyata undangan dari dewan kesenian jakarta (DKJ) untuk menghadiri Malam Anugrah Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009. Walaupun terdapat salah cetak (sedikit) pada nama penerima dimana namaku ditulis Eva Faizah (seharusnya Eza Faizah), tetapi aku yakin kalau undangan itu tidak salah alamat.
Aku memang pernah mengikuti sayembara menulis novel yang diadakan DKJ tahun 2008 lalu, tetapi itu sudah lewat dan aku jelas bukan pemenangnya, bahkan sebagai peserta sayembara, aku tidak mendapatkan undangan untuk menghadiri malam anugrah saymbara menulis novel 2008 tersebut.
Nah, sekarang...?? Sayembara telaah sastra ini aku nggak ikuti, tetapi secarik undangan dari Dewan Kesenian Jakarta dialamatkan padaku, untuk apa??? terlebih lagi, acara berlangsung malam hari pada hari jumat depan.
Antara malas pergi, dan penasaran. malas karena acara kemalaman dan tidak ada teman, tetapi pensaran mau berada diantara para sastrawan.
hhhfffhhh... mumpung masih ada beberapa hari lagi untuk memikirkannya... semoga ada sesuatu yang bisa meyakinkan aku untuk ikut atau tidak. Sehingga apapun itu, keputusan yang aku ambil bukan sesuatu yang akan membuat aku menyesal.

Dolls

Kalian bisa saja membuat standard baku
Tapi jika nanti aku perlu, aku buat standard baru, kemudian aku akan pura-pura tidak tahu. dan masalahku selesai.

Lalu bagaimana masalah kalian? aah.... aku disini bukan untuk mengurusi masalah kalian. Aku disini untuk memenuhi pundi-pundi uangku.

Aku sudah berikan kalian upah, apa lagi...??

Lalu bagaimana dengan hati kami? kemana kami bisa mengubah hati kami menjadi karet-karet elastis yang semua bongkahan kebencian bisa kami sempalkan ke dalamnya.

Ahhh... itukan urusan kalian

Atau mau dengar cara kami mengutukmu, mengejekmu dan menertawakanmu.

Aku tidak dengar apa yang kalian gunjingkan
Karena aku sudah pasang beberapa orang yang sudah aku dehumanisasi menjadi sekedar boneka untuk menjaga jarakku dengan kalian.

Dan boneka itu, benar-benar sudah tidak kami anggap manusia.

Apa kau pikir aku peduli pada boneka-boneka itu...??
Terhadap boneka-boneka itu, aku sama tidak pedulinya.

Dan kemudian, boneka itu hanya menjadi rongsokan tidak berguna, bahkan untuk dicerca.


SAYA MATI KEBOSANAN


Rutinitas adalah sesuatu yang melegakan, ia bersifat datar, tidak bergolak, dan kita telah mengantisipasi segala sesuatu untuk menghadapainya, mengalaminya berkali-kali seperti deja vu.
Rutinitas menyenangkan sampai kita membuat kalkulasi tentang aktivitas kita setiap harinya, hingga kita sadari bahwa hidup telah kita jalani hanya dengan satu warna, satu corak.
Seperti aku yang memulai hari ditempat yang sama, aktivitas yang sama, kemudian menuju ladang tempat Tuhan menitipkan rezeki padaku, kemudian pulang dengan penampilan yang sama, lusuh.
Aku butuh sesuatu yang mendebarkan jantungku.
Aku butuh sesuatu yang membuat ku berlari lebih jauh dari yang aku mampu.
Aku butuh sesuatu yang baru, yang tidak aku duga sebelumnya.
Aku butuh lebih banyak warna.

Aku butuh itu semua sebelum aku mati karena bosan.

GREAT PRESENTS IS ONLY GIVEN TO GREAT STRUGGLERS


Tidak ada yang gratis di dunia ini. Sinis?, tetapi itulah kenyataannya. Bahkan Tuhan sudah ingatkan bahwa hanya kepada orang yang mau berupaya yang dapat merubah nasibnya. Alam memilki seleksi sendiri untuk menentukan siapa yang layak menjadi yang terbaik. Bukan melalui voting ala demokrasi, yang dirancang diruang loby. Seleksi alam yang ketat untuk menyaring orang-orang pilihan yang akan di beri gelar "sukses". Bila sekarang ini kita melihat teman-teman kita yang dulu payah di bangku sekolah atau kuliah, menjlema menjadi seorang berpangkat maka itulah dia yang berhasil melalui seleksi alam. Jika suatu saat kita bertemu lagi dengan si jenius di sekolah, namun kali ini kita menjumpainya di pinggir jalan , maka itulah hasil seleksi baginya.
Suatu saat kita akan jumpai bahwa deretan angka di buku rapot kita bukan suatu indikator yang valid untuk menentukan masa depan kita. Alam, alam adalah penguji sesungguhnya, alam adalah penguji yang tidak mengenal suap dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Alam patuh pada perintah Penciptanya untuk menyingkirkan siapa saja yang tidak layak menjadi orang pilihan.

Posisi puncak tidak banyak, karena itu bukan untuk di obral.

tempat tertinggi hanya untuk mereka yang bersungguh-sungguh. Hadiah terbesar hanya untuk mereka yang memperjuangkannya.

Beruntunglah kalian yang sedang berpeluh karena mengejar impian, berbahagialah kalian yang kehilangan waktu untuk bersenang-senang demi kesenangan yang sesungguhnya kalian butuhkan, dan kalian yang sedang berjuang, bersiaplah untuk mendapatkan yang layak kalian dapatkan.

Resolusi 2010 : None Coz Im lost

tahun baru...???

tidak seperti tahun baru yang lainnya, tahun baru kali ini terasa lemah, kosong dan bingung. Biasanya selalu ada resolusi di awal tahun, sekedar catatan yang di cetak tebal untuk mengingatkan diriku sendiri apa yang harus aku lakukan di tahun yang akan datang.
Tapi tahun ini ada yang lain. Optimistisku merosot ke titik terendah dalam hidupku. bukan saja pesimis, tetapi juga kehilangan kontrol. aku merasa semua rancangan masa depanku berantakan. aku terhamat disana-sini. kehilangan konsentrasi dan akhirnya menjadi pudar, buyar, dan suram.
Aku kehilangan energi. Energi untuk bercita-cita, untuk bermimpi, dan terlebih kehilangan energi utnuk meraih semua yang pernah aku inginkan.
Aku kehilangan pedoman, kehilangan kepercayaan diri, dan kehilangan semangat. Tutup tahun paling buruk dari segi mental yang pernah ku lalui.
Teapi sama seperti lost spirit cases lainnya, aku tidak akan biarkan ini berlarut-larut. aku harus memompa kembali spiritku, jangan sampai musnah.
Beberapa trip akhir tahun kali ini, aku harap aku bisa mersakan kembali energiku. Dapat tambahan energi dari alam. aku harap...

SAYA WANITA INDONESIA, WARNA KULIT SAYA SAWO MATANG

Cerita ini bermula dari celotehan teman-temanku (Pria), tentang definisi wanita cantik versi mereka yang asli 100% orang indonesia. Aneh dan ajaib ketika menurut mereka wanita cantik haruslah berkulit putih.

"Come on guys, we are Indonesian".

Hampir semua teman pria didiskusi ini berpendapat sama : Wanita cantik berarti berkulit putih.

Aku tidak habis pikir, aku merasa mereka atau kita lupa jati diri kita. Lupa bahwa kita dilahirkan didaerah tropis dengan adanya sinar matahari sepanjang tahun.
Menjadi sesuatu yang masuk akal kemudian, jika kami, para wanita Indonesia ini kemudian berlomba-lomba mencari ramuan bleaching warna kulit yang dikeluarkan oleh berbagai macam perusahaan dengan berbagai macam merk, mengeluarkan begitu banyak uang demi untuk mengubah warna kulit menjadi lebih putih. Atau berakhir di meja operasi plastik demi mendapat warna baru.
Sekedar mengingatkan kalian, manusia di Eropa sana belomba-lomba berjemur saat musim panas untuk mendapatkan warna kulit coklat. Bahwa bangasa lain iri pada warna kulit kita yang kecoklatan ini. Bahwa dari warna kulit inilah, orang asing mengenali asal usul kita.
Sedikit berharap di kemudian hari kita semua bisa menjadi lebih realistis dalam menentukan sesuatu yang sifatnya sudah kehendak Tuhan. Mungkin kedepan kita bisa membelanjakan uang kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, kita kan bangga pada jati diri kita yang sesungguhnya, kita akan mengatakan bahwa kita orang Indonesia, berkulit sawo matang, dan kita adalah wanita-wanita yang cantik.







KOMUNITAS MANUSIA LEBAY

Lebay, over acting a.k.a over respons….

Manusia tipe ini mudah dikenali dari perilaku dan tingkah lakunya sehari-hari. Menanggapi sesuatu dengan persepsi sendiri sehingga terkesan berlebihan, enggan mengubah sudut pandang, sehingga orang lain melihatnya seperti sesuatu yang dibuat-buat dan tidak alami. Kalau orang lain menanggapi dengan datar, ia meledak-ledak sendiri, jika orang lain berusaha untuk positif, ia negative sendiri, jika orang lain tertawa dibuatnya ia merasa bersalah…. Aiihhhh.. ia berlebihan dalam menanggapi sesuatu.
Termasuk golongan ini adalah para “miss peagent” yang kelimpungan jika kukunya patah. Wanita-wanita yang menghabiskan jutaan rupiah untuk permak wajah, atau orang yang over sensitive… selalu merasa dibicarakan orang, selalu difitnah orang, sepertinya ia makhluk berharga sehingga orang lain perlu menjatuhkan dia.
Para miss peagent ini, selalu membuat hariku membosankan karena yang mampu ia bicarakan hanya seputar jerawat, lipstick, film baru dan gandengan baru… bosannya. Lebih membosankan lagi jika berjalan bersama miss peagent ini, mereka merasa perlu membalas lirikan manusia lain, atau mengeluarkan cermin kecil untuk memastikan penampilan mereka baik-baik saja… ayolah nona, hidung kalian masih ditempatnya.
Orang-orang over sensitive cenderung menunjukkan kekurangan sendiri, bahkan cenderung mengeksposenya kehadapan publik. Kalimat andalan orang over sensitive adalah “ iya deh, aku tahu aku memang sudah…” atau “ya deh .. aku akui kalau aku……”. Orang seperti ini bukannya membuat aku bosan, tapi menguras tenagaku dengan pasti karena aku harus berpikir dan menemukan kata-kata yang tepat, dan memastikan ia tidak akan mengeluarkan kalimat “aku memang… bla..bla..” setelah mendengar celotehanku.
Sedangkan aku orang yang cenderung bebas, 90% cuek, dan bersopan santun ala kadarnya juga tidak pandai berbasa-basi. Maka bisa dibayangkan penderitaan ku jika bergabung bersama manusia lebay ini., atau tersiksanya para Lebay jika ada dikeliling aku.
Aku tahu, rupa manusia bermacam-macam, otaknya pun bermacam-macam.
Aku menulis ini bukan melarang kaum Lebay untuk berinteraksi denganku, Tapi harus aku ingatkan dari sekarang, bahwa kalian Para Lebay akan sulit berkomunikasi denganku.

Pulau Komodo : Berkaca pada "kegagalan" Candi Borobudur

Tanpa sengaja, trip ke Ujung Kulon kemarin memperkenalkan gue pada Weni. sarjana dibidang arsitektur yang sekarang sedang bekerja (semacam) rekonstruksi Candi Borobudur,terutama dari segi Landscape. Dari Beliau-lah gue tahu, kalau Label World Heritage Candi borobudur terancam dicabut karena peran sebagai warisan arkeologi tidak dikelola dengan baik. Borobudur, yang merupakan warisan arkeologi, dibiarkan begitu saja dirampas, diporak porandakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Gue pernah lihat berita tentang pencurian patung-patung Budha yang terjadi Di Candi buatan dinasti Syailendra itu tidak dapat diatasi, sehingga kini banyak patung budha tak berkepala. Pelestarian yang jauh dari semestinya sebagai world heritage.
Ancaman pencabutan status Borobudur sebagai World heritage berlanjut ke hilangnya Candi Borobudur dari daftar 7 keajaiban dunia.
Tidak masuk dalam 7 keajaibana dunia merupakan indikator bahwa Borobudur tidak lagi populer sebagai tempat wisata, karena 7 keajaiban dunia di rilis berdasarkan voting di berbagai belahan dunia.
Baru ngeh kalau Borobudur tidak lagi populer baru membuat pemerintah dan stake holder setempat kelimpungan, mencoba memperbaiki dan membenahi Candi Borobudur, dan mengupayakan pengembalian jati diri Borobudur sebagai warisan arkeologi.
Saat ini tengah dilakukan voting untuk penentuan 7 keajaiban dunia yang akan diumumkan ditahn 2011, walaupun untuk diumumkan ditahun 2011, namun voing sudah dilakukan dari skarang. Tak ayal, masyarakat indonesia terutama kaum muda yang sudah melek internet mencoba mempromosikan, memberitahukan dan mensosialisasikan untuk mem-vote pulau komodo sebagai satu-satunya calon dari Indonesia agar bisa bertengger di 7 keajaban dunia. Bahkan sebuah grup di Facebook dibuat khusus untuk mensosialisasikan acara ini untuk memenangkan pulau Komodo sebagai 7 keajaiban dunia, tidak tanggung-tanggung anggota grup ini mencapai 1 juta lebih, menunjukkan semangat bangsa indonesia untuk mempopulerkan kekayaan alamnya.
Sedang semangat-semangatnya mem-vote pulau komodo, datanglah berita-berita tidak sedap. Isu pemindahan komodo ke pulau bali yang katanya untuk pemurnian genetik, hingga isu akan dibukanya pertambangan di pulau ini sangat mengganggu. tidak terbayangkan jika benar pertambangan akan dibuka dipulau ini. Sama seperti jati diri Borobudur yang rusak sebagai warisan arkeologi, Pulau Komodo pun siap kehilangan label sebagai habitat binatang komodo.
Jika sudah ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya, jika kita pernah salah, haruskah kita mengulanginya??.
Kasus Borobudur semoga dapat membuat kita bercermin bahwa kita kerap tidak adil terhadap warisa budaya dan alam kita. Semoga dari Borobudur kita dapat berkaca pada kegagalan sebelumnya untuk kemudian tidak diulangi kembali.



DREAM IT PLAN IT DO IT

Seseorang berkomentar di salah satu grup facebook

Dream it... plan it... do it

Komentar yang menghentak, sekaligus menusuk hati. Betapa tidak... aku punya mimpi tetapi terlalu lambat dalam menggapainya. Siapa bilang banyak orang takut bermimpi... dari kecil kita sudah bermimpi... setiap saat kita menginginkan sesuatu itulah mimpi...

Jika semua orang punya mimpi, maka penakluk mimpi itulah yang jarang kita temukan. Jika semua orang bisa bermimpi maka hanya orang-orang sukses saja yang rela menebus mimpinya dengan keringat, keletihan mental, kegigihan untuk berjuang, dan tidak takut gagal.

Anggun C. sasmi dalam suatu wawancara pernah mengatakan jika kamu punya mimpi, bangun, mandi dan pergi mengejar mimpimu.
Hakikat dari Laskar Pelangi adalah bukan bermimpi, tetapi justru bagaimana mimpi itu harus diperjuangkan. Sejauh apa mimpimu sejauh itu pula kau harus berjalan, semustahil apapun mimpimu semustahil itu pula usahamu.

jangan pernah bermimpi jauh jika kau hanya mau berjalan sepelamparan batu.

Jika kita menelaah lebih lanjut akan hidup kita, atas semua mimpi yang kita ikrarkan, sudahkah kita melakukan sesuatu untuk mencapainya.

Seorang backpacker Indonesia hendak melakukan perjalanan keliling ASEAN bulan oktober mendatang. Dia melukiskan bahwa sejak beberapa bulan sebelumnya ia telah merencanakan untuk duet backpacker, halangan hingga pada akhirnya ia harus bertualang sendirian tidak menyurutkan niatnya. ia menuliskan rincian perjalanan, rute yang akan ditempuh, tempat ia akan tinggal di tempat-tempat yang telah ditetapkan, bahkan mempersiapkan latihan fisik dan mental dari sekarang.

Mimpi tidak akan terkabul dalam sekejap mata, tidak datang begitu saja... susuri jejak mimpi kita, dekati dia, jika mimpimu kelewat membumbung tinggi, jangan turunkan targetnya, tapi buatlah rencana, Andrea Hirata dan Anggun C sasmi butuh belasan tahun untuk menggapai mimpinya, begitupun
Jika tidak dari sekarang... kapan lagi???

I DID NOT LIKE SPORT, BUT I HAVE TO DO NOW

Olah raga...??? sumpah, itu adalah suatu hal yang gue nggak suka dari gue kecil. Lannganan jadi bahan ejekan karena lari paling lambat, karena nggak kuat pegang peluru di olahraga tolak peluru, nggak bisa nge-roll waktu senam lantai, dan nggak bisa-nggak bisa lainnya dalam hal olah raga. Jadilah olah raga adalah momok dalam kehidupan gue di sekolah. Bahkan dari SD sampai SMP dimana gue cemerlang di sekolah, olahraga selalu menjadi batu sandungan. Langganan kena her pelajaran olah raga, itulah gue...!!.
Bertahun-tahun anti olahraga, tetapi belakangan seperti muncul pencerahan, bagaimana tidak, hoby jalan-jalan yang semakin sulit dikendalikan, cita-cita keliling dunia hingga eropa mneyadarkan gue kalau itu semua butuh fisik yang kuat.
Pengalaman di Anyer yang langsung juntai hanya karena diterjang ombak kecil benar-benar membulatkan tekad gue untuk memperkuat diri. Nggak lucu kan, baru sampe eropa langsung roboh cuma karena ketiup angin... (Kalau sampai kejadian bisa nyesel seumur hidup gue).
Mengingat, menimbang segala angan dan mimpi itulah, sekarang gue memutuskan untuk mulai olahraga.
Mimpi memang bisa menggerakkan hati kita untuk bertindak nyata. Dulu, bertahun-tahun yang lalu, guru-guru olahraga gue sampe males marahin gue karena gue gak pernah olahraga. Coba kalau dulu guru gue ngingetin bahwa ada hubungan antara keliling dunia and olah raga pasti gue nggak perlu frustasi sama pelajaran satu ini.

BALADA KAMERA BARU

Ini sepenggal usaha untuk mensyukuri apa yang ada...

Dari hoby travelling, lanjut ke hobi motret, karena setelah disadari setiap menapaki suatu daerah yang baru, yang tidak lazim, yang menarik maka kita ingin mengabadikannya, dari sekedar mengabadikannya, sampai ingin menjadikannya sebagai kenangan sempurna. Dari mulanyahanya jeprat-jepret sampai ingin yang terbaik.

Inilah manusia... tidak pernah sampai ke satisfied line. selalu merasa kurang.

Keinginan yang terus berkembang inilah, yang kemudian menimbulkan cita-cita memiliki kamera baru.

Setelah hunting kesana-kemari dan pikir panjang maka kamera yang dibandrol 3 juta pun jadi sasaran. Walaupun uang tidak ada di tangan, tetapi kamera tetap harus di bawa pulang untuk trip berikutnya. Mencuri..?? ya tidak. Solusi dari berbagai consumer finance sebenarnya bisa membantu. cukup memberikan KTP dan slip gaji, maka kamera bisa berpindah tangan.
waktu kritis adalah saat terakhir memutuskan, bayangan sejumlah cicilan yang harus dibayar beberapa bulan ke depan, ancaman tidka bisa travelling karena ada pengeluaran tambahan, bahkan bayangan menakutkan kalau kamera 3 juta itu hanya bisa di bawa tidur (karena plan travelling bisa dibatalkan demi cicilan).
Saat terakhir itulah ditetapkan, debt no... travelling yes... maka kupandangi lagi kamera rendah mutu yang selama ini selalu mengabadikan perjalananku, kamera yang beberapa menit lalu hendak ku lego semurah-murahnya... kamera yang selama ku pandang sebelah mata.

Kamera baru... kamera baru... pada akhirnya kamera baru hanya menjadi penggalan cerita untuk dipublikasikan. hanya sebuah balada... keinginan yang entah kapan bisa ku dapat.

Postingan Lama