Blogger news
traveling
Tanjung Papuma - Jember
![]() |
| Sunrise @Tanjung Papuma |
![]() |
| Even a tree Enjoy the Sunrise |
Teluk Hijau-Banyuwangi
Butuh usaha besar unutk sesuatu yang besar... Pepatah yang pas untuk menggambarkan rute menuju Teluk Hijau, ditambah trekkingnya yang lumayan maknyusss... tetapi setelahnya dijamin tidak akan menyesal telah bersusah payah menuju Teluk Hijau karena pemandangannya luar biasa...
![]() |
| Siluet |
![]() |
| Camping di Teluk Hijau |
Bromo
Selasa, 03 April 2012 eza traveling 3
Perjalanan ini dimulai dari pengumuman di http://backpackerindonesia.com untuk trip ke Bromo, gak perlu waktu lama, peserta langsung melebihi kuota. singkat cerita, pertengahan oktober itu menjadi hari yang seru bagi 60 orang yang gak sabar menyaksikan Bromo.
![]() |
| Air terjun Madakaripura |
MANCING
Rabu, 28 Maret 2012 eza traveling 0
BROMO (1) : 17 Jam di Matar Maja
Selasa, 25 Oktober 2011 eza traveling 0
Arung Jeram Bersama Arus Liar
Minggu, 05 Juni 2011 eza traveling 3
Serunya Jadi Wartawan "Perang"
Jadi wartawan perang...?? Karena terlalu ingin tahu gimana rasanya jadi wartawan perang, jadilah saya nekat maju ke medan perang demi mengabadikan momen yang tidak biasa itu.. Bermodal kamera digital biasa, dan google untuk antisipasi kalau-kalau kena peluru nyasar, jadilah saya wartawan perang... Wartawan Perang Paint Ball.
Malam Mingguan di Kota Tua Jakarta
Minggu, 14 Maret 2010 eza traveling 2
Setelah di video mapping, begini jadinya...
Sebenarnya, banyak tampilan-tampilan bagus pada pemutaran video mapping. sayang kameraku kurang bisa menangkap semua tampilan tersebut, alhasil cuma ini yang aku dapat.
Pangandaran : Traveling ke Kampung Halaman Yayan
Senin, 08 Maret 2010 eza traveling 6
Sekitar tahun 2008. Ssetelah sempat dihinggapi perasaan ragu-ragu untuk berangkat, akhirnya kami berlima Aku, Esa, Imran, Ayu, dan boyan berangkat ke Pangandaran. Anehnya sebelum menuju pangandaran, kami punya beberapa alternatif dan ide konyol untuk mengisi weekend saat itu, salah satunya adalah ngegembel ke bandung sambil ngamen, walau akhirnya tidak jadi dan tujuan di tetapkan ke Pangandaran, berhubung Kampung Halamaan Yayan di sana, maka kami tidak perlu ngegembel dan dapat traveling dengan layak.
Perjalanan dimulai dari Terminal Depok, Bus Budiman yang kami tumpangi berangkat sekitar jam 21.30 WIB. KAmi hanya perlu mebayar 40ribu rupiah untuk perjalanan ke Pangandaran di kelas ekonomi. Syukurnya. perjalanan lumayan lancar. Dan kami berhenti di Kali Pucang, rumah yayan, dimana ibunya sudah menyiapkan sarapan berupa ikan asin dan sambal terasi yang nikmat sedap dan mantap...
Setelah istirahat sekitar 1 jam, kami segera menuju ke Pantai Pangandaran, dengan menggunakan angkutan umum berupa elf, tetapi aku lupa berapa rupiah yang kami bayarkan untuk sampai ke Pangandaran dari Kali Pucang.
Sampai di Gerbang Pangandaran, kami mampir ke sebuah mini mart untuk membeli beberapa makanan ringan, miuman dan sunblock yang tidak pernah kami pakai. Selanjutnya kami menuju Pantai menggunakan Delman (aku juga lupa berapa biaya delman ini). Saat itu adalah beberapa bulan setelah Tsunami menerjang kawasan Pangandaran. Suasanya sepi sekali. Beberapa bangunan yang roboh akbiat Tsunami belum dibangun kembali. Tetapi itu justru menjadi keuntungan bagi kami, pasalnya harga barang-barang seperti baju khas Pangandaran, makanan, dan sewa perahu menjadi harga normal. Tidak seperti daerah wisata umumnya yang harganya bisa beberapa kali harga normal.
Dari pantai, kami ditawari oleh seorang tukang perahu untuk menyebrang sampai ke Pasir Putih, sebuah Cagar Alam dengan pantai pasir putihnya yang mantap, sekalian mengintip batu hiu yang menurutku nggak mirip hiu sama sekali. setelah tawar menawar, kami akhirnya sepakat menumpang kapal nelayan ini untuk sampai ke Pasir putih.
Sebagai kawasan Cagar Alam, wajar saja jika disana banyak binatang sejenis monyet yang hidup bebas, saking bebasnya, beberapa kali mereka mencoba mencuri bekal makanan kami, hingga beberapa kali kami harus main kucing-kucingan dengan mamalia yang satu ini. Kadang muncul binatang sejenis rusa yang cantik tetapi malu-malu, sehingga setiap kali kami mau ambil fotonya, si Rusa sudah ambil langkah seribu. Air di pasir putih snagat jernih, dan bersihnya melebihi dugaanku. Menurut pemilik perahu yang kami tumpangi, sebelum terjadi tsunami pantai ini sedikit kotor, membutaku harus bersyukur karena kami datang disaat yang tepat. Menurut penduduk setempat ada banyak gua-gua alam di kawasan cagar alam pasir putih. Tetapi karena tidka ada persiapan trekking, akhirnya kami menolak tawaran untuk ke gua alam tersebut
Dan kegembiraanpun dimulai, snorkeling, Mengubur orang dalam pasir, makan rujak di pantai dan melihat beberpa turis bule beraksi membuat hari itu terasa pendek.





Puas bermain seharian di pantai, kami segera kembali ke rumah Yayan. sayang kami tidak sempat mengunjungi Grand Canyon padahal yayan sudah merekomendasikannya. Bus executice seharga 60 ribu Jurusan Pangandaran - Kampung Rambutan membawa kami kembali ke Jakarta. Sedikit hiburan, dalam bis executive tersebut hanya ada sedikit penumpang sehingga, kami bebas, sebebeas-bebasnya mengambil kursi manapun yang kami mau...
DI FESTIVAL KOTA TUA
Jumat, 19 Februari 2010 eza traveling 3
Di tengah perjalanan kami, bertemu rombongan karnaval ini, yang ternyata pesertanya banyak sekali. Bukan hanya di isi orang-orang Tionghoa, bahkan TNI pun ikut berpartisipasi. Dan bukan pula hanya di isi oleh orang Tionghoa Jakarta, dari papan nama yang mereka bawa diketahui kalau peserta juga berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Pakaian mereka yang mayoritas merah mencolok membuat karnaval yang panjang itu sangat menarik. Mereka memainkan Barongsai, ada arak-arakan yang berisi patung dewa yang ditandu dan dibawa oleh beberapa orang pria. orang-orangTionghoa yang dilewati arak-arakan tersebut ada yang memasukkan Angpao ke dalam tandu tersebut
"Mau coba nggak mbak?" begitu katanya.
aku yang terheran-heran dan masih kebingungan, tergagap menyatakan mau mencoba.
Akhirnya inilah yang terjadi. Sahabatku Endah sempat mengabadikan Kejadian menarik ini.
Aku Sempat ikut membawa tandu hanya sekitar satu atau dua menit karena ternyata tandu itu masih berat walaupun sudah banyak sekali orang yang ikut menggotong. hhmm.. coba perhatikan warna bajuku yang kontras berbeda dengan peserta karnaval, dan perhatikan sumringahnya aku karena pengalaman langka ini.
Selesai menandu, aku sempat tanyakan pada Yeli dan Endah, dari sekian banyak orang yang menonton di pinggir jalan, kenapa aku yang di ajak ikut nandu, dan jawaban kedua sahabatku itu sama, yaitu AKU MUPENG.
Cerita Menjelang PialaThomas dan Uber 2010
Sabtu, 13 Februari 2010 eza traveling 2
Putus asa hanya berlangsung beberapa menit saja, kami dapat informai kalau di Senayan di pasang big screen, sehingga bagi yang tidak dapat tiket bisa nonton bareng di sana. Tidak bisa nonton di dalam stadion, di sampingnya pun jadi. Kami langsung meluncur ke Jakarta. Touring dengan 4 motor dari Cibubur, dan 45 menit kemudian tiba di salah satu area parkir Stadion Gelora Bung Karno, tempat big screen berdiri mantap dengan jumlah penonton yang banyak, sebagian cuek melantai tanpa alas, sebagian menjadikan sandal atau koran sebagai alas duduk, lampu sorot dari dalam stadion terlihat menari-nari kesana-kemari dan sesekali penjual minuman menawarkan dagangannya menjadikan suasana mirip nonton layar tancap, tetapi tidak mengurangi semangat kami untuk memberi dukungan pada atlet bulutangkis Indonesia yang berlaga.
Kami segera mencari posisi duduk yang nyaman. Dan pas kami duduk, pas pertandingan pertama di mulai. Maria Kristin menghadapi Xie Xing Fang di partai pertama. Kami bersorak kegirangan jika Maria mendapatkan point, dan bersorak jengkel jika Xie yang berhasil mencuri angka. ada saja alat untuk membuat bunyi-bunyian. yang paling murah ya tangan sendiri, tetapi karena kelamaan sakit juga, akhirnya ada yang menggunakan botol plastik bekas minuman, dan beberapa ada yang memakai sepasang stik panjang dari plastik menyerupai balon, yang jika ditepuk akan mengeluarkan bunyi. Kami celingukan mencari asal-muasal benda lucu itu, ternyata dijual seharga sepuluh ribu rupiah sepasang. Kami membeli delapan pasang. Sayang stik tersebut jarang kami pakai karena Partai Pertama ini dominasi pemain China tidak dapat diatasi dengan baik oleh Maria, membuat stik yang baru kami beli lebih banyak nganggur daripada beraksi.
Partai Kedua dimainkan partai ganda. Lilyana Natsir dan Vita Marissa memberikan perlawanan keras pada lawan. Membuat jantung kami berdegup lebih cepat, kerongkongan sakit karena terlalu banyak berteriak, dan stik kami kempes karena terlalu banyak dihantam ke pasangannya. Saking ramainya, suara dari dalam stadion terdengar hingga ke luar, suara yang tidak membuat kami iri, karena di sini pun tidak kalah hebohnya. Setelah kalah di set pertama, kami berteriak sejadi-jadinya ketika Pasangan Indonesia berhasil merebut set kedua. kami yang tadinya duduk melantai spontan berdiri dan berjingkrak kegirangan karena masih ada harapan. Awal set ketiga suasana masih gaduh, karena pertarungan masih sengit. Sayang, disaat-saat terakhir Lilyana dan Vita seperti kehabisan tenaga, membuat kami terduduk lemas menyaksikan kekalahan yang kedua.
Partai ketiga sudah dapat dibaca hasilnya, maka sebelum pertandingan habis, banyak dari penonton yang angkat kaki dari tempat duduknya. Kami masih sempat menyaksikan akhir Final Piala Uber, pulang dengan tangan merah dan suara serak, dan lebih menyedihkan mengetahui lagi-lagi Piala Uber kembali ke China, Tetapi kami tetap berharap Perebutan Piala Thoma dan Uber berikutnya Indonesia berjaya.
Dua tahun kemudian, apa yang kami impikan sepertinya masih jauh dari harapan bahkan menurutku prestasi Atlet Bulutangkis kita kian menurun saja. Jika pada perebutan Thoma Uber 2008 lalu ada Markis Kido dan Hendra Setiawan yang eksis sebagai Ganda Putra terbaik sedunia, dan ada Lilyana Natsir dan Nova Widianto yang berkibar sebagai Mix Double paling jago sejagad, yang membuat TimThomas ditargetkan melenggang ke Final waktu itu (walau akhirnya gagal juga). Thomas dan Uber kali ini diawali dengan minim prestasi. Prestasi Markis dan Hendra menurun sebelum PBSI memiliki penggantinya, hal yang sama terjadi pada Nova dan Lily.
Tidak ada regenerasi bisa dipastikan penyebebnya. Aku sempat tidak percaya, ketika melihat susunan Tim bulutangkis Sea Games di Laos akhir tahun lalu masih menurunkan Markis dan hendra serta Sony Dwi KUncoro yang nota bene, bukan levelnya lagi main untuk Sea Games. Lebih-lebih membaca artikel tentang Maria Kristin yang kalau saja 2012 nanti masih berumur dibawah 25 tahun masih akan diikutkan dalam PON untuk membela Jawa Tengah. Jika PON saja masih mengandalkan pemain sekaliber Maria Kristin, kapan yang junior bisa unjuk gigi. Pantas saja tidak ada regenerasi Bulutangkis Indonesia. Pantas saja prestasi bulutangkis kian merosot.
Ujung Genteng (2nd Entri)
Senin, 25 Januari 2010 eza traveling 0
2 Januari 2010
Tepat pukul 12.00 kami check out. Dengan ojek kami berencana mengunjungi amanda ratu dan Curug Cikaso (ini juga yang membedakan pergi dengan backpacker dan pergi dengan rombongan kantor).
Setelah perjalanan sekitar 15 menit dengan motor, kami pun tiba di Amanda Ratu. Menurut cerita dulu Amanda Ratu adalah villa milik keluarga mantan Presiden Soeharto. Di Amanda Ratu kita bisa melihat duplikat Tanah Lot yang ada di Bali (Sayang memori card Ayu, yang didalamnya banyak foto Amanda Ratu, termasuk foto kami ketika menyusuri Ujung Genteng terserang virus dari card reader Jono), setelah menikmati Amanda Ratu dan shalat di masjid yang berada di dalamnya, kami segera menuju Curug Cikaso. Sebelumnya kami mampir ke sebuah gubug tempat keluarga pembuat Gula kelapa (gula merah). menurut bapak pembuat Gula kelapa, gula yang ada di Jakarta sudah tidak asli lagi alias sudah di tambah zat lain seperti ubi (membuatku berpikir, apa yang masih asli di jakarta ini). Gula kelapa asli ini seharga 10000 rupiah per kilonya. Tidak tega dengan keadaan keluarga pembuat gula kelapa ini, Ayu membeli 2 kilogram Gula kelapa yang kemudian di masukkan ke dalam ranselnya (:D). Puas mengamati pembuatan gula kelapa kamu meluncur ke curug Cikaso. Jalanan yang cukup lebar dan baik membuat motor di pacu dengan sangat kencang oleh Bapak Ojek, membuat aku mengeratkan genggamanku pada panel motor, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan Ayu dan Yelni baik-baik saja.
Tidak seperti yang aku duga, ternyata dengan motorpun perjalanan cukup jauh. setelah 30 menit di atas motor, kami tiba di pos Curug cikaso, dan untuk mencapai curug, kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 5 menit dengan perahu. Harga sewa perahu sebesar 75 ribu untuk setiap perahunya, dan perahu itu berkapasitas 10 orang. karena kami cuma bertiga, maka kami bergabung dengan grup kecil lainnya sehingga jumlah kami menjadi 7 orang.
Seperti di Ujung Genteng, curug pun dipenuhi pengunjung. curug ini memang indah, tetapi menurutku lebih menakjubkan curug di Cianjur.
Kami sempat mkan siang (yang terlambat) di pos curug, menjadi makan paling memuaskan selama perjalanan. Selain karena enak dengan menu ikan tongkol dan sayur sawi ditambah sambal yang maknyusss, kami hanya perlu membayar 5000 rupiah, padahal gaku punya acara nambah segala.
Selesai makan, kami segera kembali ke terminal Surade untuk mengejar Bus MGI jurusan Bogor, karena menurut informasi Bus MGI ke arah Bogor terakhir berangkat jam 16.00, atau nanti jam 21.00. Sesampainya di Terminal Surade, Bus MGI sudah kosong, terpaksa kami kembali menggunakan angkutan Elf untuk ke sukabumi terlebih dahulu kemudian lanjut ke Bogor.
hingga 2 km pertama, elf berjalan sangat lambat, penumpang sepi. Kami bertiga dari awal sudah sepakat untuk duduk bersama di depan. Sesekali ada ojek yang mengejar elf kami, untuk mengantar penumpang. setelah elf penuh, barulah elf menunjukkan jati diri sesungguhnya, melaju kencang sekencang-kencangnya, yang lebih parah hari sudah gelap, kami yang duduk didepan, tidak dapat melihat tikungan ke kiri atau ke kanan atau lurus saja. Menurut kami hanya Tuhan dan supir Elf yang tahu ke arah mana tikungan berikutnya.
Pukul 12 malam, kami baru tiba di bogor, untungnya kakakku ada yang kost di bogor, sehingga dari terminal bogor kami berjalan kaki ke arah Bintang Pelajar, dan untungnya lagi masih banyak warung makan yang buka di sekitar terminal Baranangsiang sehingga suasana sedikit terang. Sepiring Nasi Goreng dan Segelas Teh manis menutup perjalan kami hari itu.
3 Januari 2010
Pukul 04.30 pagi, kami sudah bangun, bersiap untuk pulang kembali ke depok. Di sekitar Taman Topi kami menikmati sarapan pagi berupa Ketupat Padang. Di kereta kami terkantuk-kantuk, tidak menyadari kaalu ternyata kereta sudah penuh. Beruntung kami mendekap backpack dan day pack kami erat-erat sehingga kondisi kami yang kelelahan tidak dimanfaatkan para pencoleng yang banyak berkeliaran di kereta api.
Setelah kami bertiga melakukan perjalanan yang hampir saja jadi rencana abadi akhirnya kami selesaikan trip ini denagn aman dan lancar. Ayu turun di satsiun depok baru, sedangkan Aku dan Yekni berpisah di Pondok Cina
Ujung Genteng (1st Entri)
Minggu, 24 Januari 2010 eza traveling 0
1 Januari 2009
Awal perjalanan kami sudah tidak lancar, padahal belum sampai mana-mana. Jam 05.20 Ayu menelepon bahwa ia baru saja bangun alias kesiangan, dan sialnya dompetku ketinggalan di rumah. Rencana awal berangkat jam 05.30 terpaksa mundur satu jam. Akhirnya kami naik kereta ke bogor pukul 06.30.
pukul 07.00 kami sudah tiba di Stasiun Bogor, melanjutkan perjalanan ke Terminal Barangsiang. Seharusnya kami mencoba mencari adakah bus Bogor-surade di Terminal, akan tetapi karena kami terpaku pada catatan perjalanan Joko, maka kami tetap naik elf ke Sukabumi. Tidak di nyana, dalam perjalanan ini, keluarlah semua keluh kesah yang selama ini di simpan, perjalanan diisi dengan membahas masalah seputar kantor, rekan-rekan di kantor. Acara gosip di elf membuat perjalanan terasa singkat.
Perjalan kembali terhambat lagi karena Yelni belum mengambil uang, dan uang yang sudah aku siapkan "dipalak" ibuku sebelum berangkat. kami menelusuri terminal sukabumi untuk mencari ATM. Sukur tidak begitu lama kami sudah menemukan ATM bersama.
Dari Terminal Suka Bumi kami naik angkot ke Lembur Situ. Di terminal lembur situ ini, aku sempat kesal pada pada petugas terminal yang meminta uang peron seharga 1500 rupiah per orang, tetapi tidak ada karcis atau tanda terima retribusi yang menyatakan pungutan itu bukan untuk pribadi alias pungutan liar. Ada satu elf ke Surade yang sudah penuh, tetapi karena khawatir sampai Ujung Genteng kemalaman, kami nekat ikut elf ini. Jadilah Ayu dan Yelni berbagi satu kursi, sedangkan aku cukup beruntung walaupun tidak bisa di sebut nyaman juga. Karena hari itu ramai, ongkos elf tiba-tiba melambung sekitar 10% dari yang di tulis Joko, tetapi karena penumpang lain pun membayar harga yang sama, dan menurut penjelasan seorang bapak di sebelahku bahwa jika ramai tarifnya naik, akhirnya kami rela juga membayar 25000 perorang.
Ini adalah Jalur Setan, begitu kata Ayu. Perjalanan Sukabumi Lembur Situ memang sangat menantang, Jalur sepanjang 120 km itu di dominasi oleh belokan ekstreme, membuat kami harus berpegangan kuat-kuat, terlebih Yelni dan Ayu yang harus berbagi kursi. Tikungannya yang membuat perut kami seperti di kocok-kocok ini, tidak membuat supir elf menurunkan kecepatannya, jadilah Ayu menjulukinya Elf Setan.
Sekitar 20 km sebelum Surade, Yelni sudah tidak kuasa menahan isi perutnya untuk tidak keluar melalui mulut alias muntah setelah sebelumnya penumpang di sebelahnya sudah muntah duluan. Untung saja, ada fasilitas plastik gratis dari elf bagi yang mabuk perjalanan. Setelah Yelni, berturut-turut penumpang di belakangku turut mabuk perjalanan, lalu orang di depanku, dan entah berapa lagi orang yang sudah mabuk.
Tepat Zuhur kami tiba di Surade, Setelah Shalat Zuhur kami melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng. saking sedikitnya penumpang dari terminal Surade, si Sopir angkot sampai bersedia menunggui kami makan siang. beruntung karena harga makan sinag kami masih normal. Perjalanan dari Surade ke Ujung Genteng ini, ada suatu bangunan mirip monumen dengan bentuk Rudal, Si Sopir Angkot menjelaskan bahwa ada beberapa daerah di Ujung Genteng yang akan di ambil alih angkatan udara, untuk dijadikan pusat peluru kendali karena letak ujung genteng sebagai bentuk pertahanan keamanan atas kedaulatan negara, akan tetapi rencana tersebut masih ditentang penduduk lokal setempat. Menjelang Ashar kami tiba di penginapan Pak Ujang. Ternyata kamar kami lumayan bersih, Sebuah tempat tidur besar di tambah tempat tidur tambahan, dan kipas angin membuatnya juga cukup nyaman untuk ditempati tiga orang.
Setelah istirahat dan shalat ashar kami menyewa ojek untuk ke tempat penangkaran penyu, melihat pelepasan tukik atau anak penyu ke pantai yang biasanya di lakukan jam 17.00. Tidak seperti yang aku duga, ternyata di sana sudah banyak orang, mungkin karena liburan. Ujung Genteng yang aku pikir hanya didatangi kaum Backpacker karena jalurnya yang sulit, ternyata juga di kunjungi kaum borju. Kami menikmati pantai sambil menunggu waktu pelepasan tukik. pukul 17.15 baru para petugas keluar membawa ember berisi anak penyu yang baru berumur satu hari. Orang-orang yang sebelumnya asyik dengan rombongannya masing-masing bergegas menghampiri penyu. setelah di beri aba-aba oleh salah seorang petugas, penyu pun di lepaskan, pengunjung bersorak sorai memberi semangat pada tukik-tukik itu agar dapat mencapai laut. beberapa tukik berhasil mencapai bibir pantai, yang lain ada yang terbalik, ada yang di hempaskan ombak sehingga kembali ke pantai. Belum sampai laut saja perjuangan Tukik untuk bertahan hidup sudah sulit, pantas saja menurut petugas, dari 100 tukik yang di lepas, hanya satu yang mampu bertahan hidup.
Selesai menyantap makan malam, kami kembali ke penginapan. Karena masih suasana Tahun Baru, beberapa pengunjung masih menyalakan kembang api, ribut sekali suasananya dan sedikit mengganggu waktu istirahat.
Yogya : My First Solo Backpacking (3rd Entri)
Rabu, 20 Januari 2010 eza traveling 0
26 Desember
Tujuan pertama adalah Sentra Kerajinan Gerabah di Kasongan, Seperti Kota Gede, toko kerajinan gerabah berderet-deret sepanjang Jalan. Dari ukuran kecil hingga patung yang besar. harganya pun relatif murah, sehingga tempat ini bisa menjadi alternatif untuk berbelanja.Bukan hanya barang jadi yang bisa kita lihat, proses pembuatannya pun bisa kita saksikan dari pembentukan gerabah dari tanah liat hingga penyelesaian tahap akhir seperti pengecatan.
Yogya : My First Solo Backpacking (2nd entri)
Selasa, 19 Januari 2010 eza traveling 0
25 Desember
Rencananya pagi-pagi sekali aku menuju Candi Borobudur, karena sudah bertekad naik sampai stupa teratas borobudur tanpa harus gosong. Taxi motor datang jam 6.15, langsung menuju terminal Jombor, sebelumnya si sopir taxi menawarkan harga tour sebesar 150 rb rupiah untuk tour selama 8 jam, tetapi kau hanya tersenyum dan bilang "gak usah mas, antar saya saja ke terminal Jombong, biar nanti saya naik Bis"
dari terminal Jombor naik Bis Cemara Tunggal yang akan mengantar sampai Candi Borobudur. Masih pagi sekali, penumpang sepi. Sebelum berangkat Asti dan Sopir Taxi sudah memberitahuku, kalau tarif Jombor-Borobudur sebesar 7000 rupiah. Sialnya, ditengah jalan si kenek bis bertanya sesuatu dalam bahasa jawa, aku yang emang nggak ngerti , dan aku langsung saja mengatakan aku nggak ngerti. Karena alasan itu uang kembalian sebesar 3000 rupiah tidak dikembalikan padaku. Dengan gaya yang menyebalkan si kenek bis mengatakan
"Yang 7000 itu bagi bapak ibu penjual itu, mahasiswa atau orang yang memang setiap hari naik bis ini, lah kalau seperti mbak ini tarifnya 10000, mas yang didepan itu juga bayar 10000"
Berbekal pengalaman ini, ketika perjalanan pulang, aku membayar 7000 rupiah, dan langsung pura-pura tidur. Perjalanan dari Jombor ke borobudur sekitar 45 menit jika lancar.
Dari terminal Borobudur, kita bisa jalan kaki sepuluh menit, atau naik becak denagn membayar 5000 rupiah.
Jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. belum terlalu ramai, tetapi sejumlah wisatawan sudah datang, tiket masuk candi borobudur sedikit lebih mahal dari Prambanan yaitu 22500 rupiah. Saat aku mengunjungi Borobudur, banyak terdapat perbaikan sedang dikerjakan, beberapa batu dilepas dari susunannya untuk dibersihkan. membuat perjalan sedikit terganggu.
Sebagai candi budha, tak terhitung banyaknya patung budha, tetapi sayang sebagian banyak yang sudah rusak, terutama kehilangan kepala, Disayangkan untuk warisan budaya semegah Candi Borobudur.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30, ketika trans Yogya yang membawaku dari kota Gede tiba di sekitar Benteng Vredeberg, rupanya benteng masih buka dan pengunjung pun masih ramai. Sesuatu yang tidak akan kita dapatkan di Jakarta yang pada umumnya Museum atau semacamnya sudah tutup sejak pukul 3 sore. Hanya dengan 750 rupiah saja kita sudah bisa masuk ke dalam benteng ini. Benteng ini lumayan luas dan bersih serta asri dibandingkan dengan Museum Fatahillah di Jakarta. Didalamnya terdapat diorama seputar sejarah kota Yogya.
Yogya : My first Solo Backpacking (1st entri)
Kamis, 14 Januari 2010 eza traveling 1
Biasanya traveling akan seru kalau bersama-sama, narsis bersama, makan bersama, cape juga masih sama-sama. Tapi tiba-tiba terpikir untuk sekali-kali nyobain traveling sendirian. gimana ya...??
Bukan statement yang salah, Karena Yogya adalah destinasi yang paling dituju untuk study tour pelajar. Dalam sejarah hidupku menjadi pelajar, setidaknya ada dua kesempatan study tour ke Yogyakarta. Pertama, kelas tiga SMP, perpisahan kelas tiga ditahun 1998, tapi waktu itu aku putuskan tidak ikut, karena terbayang biaya masuk SMA yang tidak sedikit. Kesempatan kedua kelas IV SMA(kelas IV, iya aku SMA di SMAKBO yang sampai 4 tahun, ajibb kan...). Tujuan Study Tour Jawa Bali, tetapi aku dengan berbesar hati akhirnya memutuskan untuk tidak ikut, karena rencana ikut les untuk UMPTN yang dipastikan tidak murah (walau akhirnya gak ikut UMPTN juga). setelah lulus SMAKbo, kebetulan aku langsung bekerja, hingga kemudian yang tidak ada adalah waktu.
Dan libur natal kemarin adalah kesempatan emas. Libur 4 hari, habis gajian, dan isu ada bonus akhir tahun yang diprediksi lumayan, membuat aku membulatkan tekad untuk berangkat ke yogya.
Traveling ke yogya ini juga ku jadikan percobaan situs www.hospitalityclub.org yang
katanya ampuh untuk numpang akomodasi. sebulan sebelum keberangkatan aku hubungi member HC yogya, mencari tahu siapa yang kira-kira bisa nge-host in aku. minggu pertama jawaban yang aku dapat adalah member yang tidak bisa ng-hostin karena akan ke hongkong liburan natal. setelah itu sepi. Masuk ke minggu kedua baru ada jawaban yang positif dari member HC yogya, Asti dan suaminya Bambang. yiippiiee berhasil...!!
Niat awal untuk bersolo karir, naik kereta ekonomi... tapi ditengah jalan, rencana berubah, sempat ada beberapa teman yang mengajak pergi bersama, kemudian ada teman sekantorku, Jono yang juga mau balik ke Gombong. setelah mendapat nasihat dari Jono, maka gagallah naik kereta ekonomi , Yogya ditempuh dengan Bus ekonomi "Sumber Alam" seharga 60 rb.
Tanggal 23 Desember
Bis mulai jalan pukul lima sore, padahal jadwal jam 15.30 (biasalah...loh telat kok biasa). Perjalan lancar, sampai kami berhenti di sebuah rumah makan, untuk mengisi perut dan sholat Isya. Menyebalkan makan disini karena harganya mahal, Pop mie saja yang cuma 4000 rupiah dibandrol 7500 disini, tetapi apa boleh buat, demi perut yang harus tetap fit untuk 3 hari ke depan, ku ambil setengah piring nasi, sedikit sayur, dan sedikit tempe orek ditambah segelas Es teh manis yang semuanya bernilai 13000. Sampai pantura, macet karena ada beberapa perbaikan jalan . Yang menarik dari pantura adalah rumah makan yang didepannya berjejer wanita-wanita cantik bertank top ria, membuat Jono tidak bisa tidak menoleh ke luar. Bibirnya terus berkata Astaghfirullah, tetapi kepalanya sudah di patok tidak bisa lagi menoleh ke depan
Tanggal 24 Desember
sekitar pukul 03.00, kami sudah sampai di Gombong, kampung halaman Jono. dan ia pun pamit turun, tidak lupa memberi pesan untuk hati-hati. Jantungku mulai dag-dig-dug, bisakah aku selesaikan misi ini, tetapi akhirnya aku tidak peduli, rencana sudah matang, aku hanya mohon perlindungan Allah.
Jam 07.30, Bus baru tiba di Terminal Giwangan Yogya, sesuai pesan Asty, aku harus naik bis dari jalur 15. tetapi jalur itu dimana? Aku teliti keadaan dari sebuah masjid, sekalian istirahat dan membersihkan muka, dari masjid baru terlihat bagian-bagian lain terminal, tulisan Jalur 1,2 dll. Aku segera menuju jalur 15, untuk ke rumah Asty, tetapi sebelumnya, sarapan dulu dengan nasi Goreng buatan Orang Yogya, seharga 5000 rupiah.
Aku turun di Mirota Godean, dari sana, Asty pesan naik becak dan minta diturunkan di alamat yang dia berikan, seperti yang sudah diingatkan, jika terlihat asing, maka tarif angkutan (bahkan sekkelas becak Jadi mahal). Untuk jarak gak lebih dari 200 m, aku harus merogoh 10000. Tetapi yang aku naiki bukan sembarang becak. Bentuknya seperti becak dijakarta, sopir dibelakang, tetapi tiba-iba... ggrrrrrmmmm... suara mesin dihidupkan,... loh ini ojek becak toh...???
Didepan rumah Asty, aku disambut hangat, ia dan suaminya adalah orang-orang yang bersahabat. Mereka memberi petunjuk bagaimana Yogya pada umumnya, termasuk informasi tentang taxi motor ini
Ternyata didalam komples candi prambanan juga terdapat candi Sewu dan Candi Lumbung, tetapi sayang, kedua candi lainnya tidak diminati wisatawan.
Mengenai Saya
Categories
- In my Mind (21)
- kuliah sambil kerja (1)
- LOMBA BLOG UII (1)
- my books (3)
- my experience (4)
- My Movie (2)
- traveling (25)








