Blogger news

You are reading eza's blog

traveling

Surabaya

Acara keliling Surabaya ini hanya dalam rangka menunggu jadwal kereta yang baru berangkat jam 8 Malam. So... daripada harus stay di wisma dan bayar, lebih baik keliling Surabaya.

Stasiun Pasar Turi
House Of Sampoerna...

Baca selengkapnya »

Tanjung Papuma - Jember

Kawasan wisata yang ramah terhadap traveler berkantong pas-pasan menurutku. Bagaimana tidak... warung-warung di kawasan pantai papuma tidak keberatan lapaknya ditiduri para backpacker dan gratis...Meskipun begitu tersedia area camping dan home stay untuk yang ingin privasi lebih.
Sunrise @Tanjung Papuma

Even a tree Enjoy the Sunrise

Baca selengkapnya »

Teluk Hijau-Banyuwangi

Butuh usaha besar unutk sesuatu yang besar... Pepatah yang pas untuk menggambarkan rute menuju Teluk Hijau, ditambah trekkingnya yang lumayan maknyusss... tetapi setelahnya dijamin tidak akan menyesal telah bersusah payah menuju Teluk Hijau karena pemandangannya luar biasa...

Siluet

Camping di Teluk Hijau

Baca selengkapnya »

Bromo

Sebuah foto dengan latar belakang Bromo muncul di beranda facebook malam ini, seorang peserta trip mengupload untuk mengenang trip dengan jumlah peserta yang bengkak itu. Aku tertawa cekikan sendiri mengenang perjalanan ke Bromo pertengahan Oktober tahun lalu (tepat 2 minggu sebelum ayah sakit hik..hik...)

Dengan peserta 60 orang yang harus di urus, aku salut sama ketuplak trip ini, uni Silfia ini meng-arrange trip langsung dari padang (aku langsung yakin kalau orang ini niat betul ke Bromo). Dengan bantuan dari peserta lainnya jadilah sekitar 60 orang berangkat ke Malang dengan kereta ekonomi Matar Maja, yang kemudian perjalanan dilanjutkan dengan mobil elf sewaan untuk sampai ke BROMO.

Perjalanan ini dimulai dari pengumuman di http://backpackerindonesia.com untuk trip ke Bromo, gak perlu waktu lama, peserta langsung melebihi kuota. singkat cerita, pertengahan oktober itu menjadi hari yang seru bagi 60 orang yang gak sabar menyaksikan Bromo.




Air terjun Madakaripura

Baca selengkapnya »

MANCING

Sabtu pagi, dua puluh orang yang sedang butuh hiburan meluncur ke bilangan Sentul untuk menjauh dari ibukota sebentar saja. Area pemancingan adalah tempat yang akan dituju. Begitu sampai,  Alat pancing dan sejumlah umpan segera dikeluarkan, mereka yang sudah masuk golongan ahli memancing langsung mencari tempat duduk untuk melesatkan umpan di kail mereka, sedangkan mereka yang baru pertama kali mengenal dunia pancing hanya duduk memperhatikan para senior beraksi. Para junior baru beraksi setelah umpan salah satu rekan bergerak tanda ada ikan yang terjerat umpan. Mereka membantu melepaskan ikan dari kait pancing, dan memasukkan ikan ke dalam bubuh. Aktivitas baru berhenti setelah makan siang kami datang, dan acara berlanjut setelah segala jenis santapan habis dilahap.

Baca selengkapnya »

BROMO (1) : 17 Jam di Matar Maja

Dari dulu sudah sering aku dengar tentang tempat wisata yang namanya Bromo, Tapi baru "Ngeh" kalau Bromo itu indah banget justru dari Asty dan Mas Bambang saat aku nge-host di rumah mereka ketika traveling ke Jogja beberapa tahun yang lalu. Mereka yang menunjukkan foto-foto keren tentang bromo, dan dari mereka pula aku tahu kalau turis mancanegara pun banyak yang mengunjungi Gunung Bromo. Sejak saat itu, Bromo jadi target travelingku berikutnya.

Rupanya butuh dua tahun sejak traveling ke Yogya hingga akhirnya Bromo bisa aku datangi. Sekitar bulan Juli rencana ke Bromo sudah muncul di forum backpacker indonesia untuk rencana perjalanan di bulan Oktober 2011. Setelah melalui proses seleksi alam terkumpullah 60 orang backpacker yang siap mendatangi bromo dengan Backpacker Budget tentu saja.


Dengan biaya sekitar 300 ribu rupiah untuk perjalanan pulang pergi 4 hari 3 malam ke daerah Jawa Timur, tentu kami tidak bisa berharap fasilitas lebih. Kereta ekonomi Matar Maja Jurusan Pasar Senen - Malang menjadi sarana transportasi pilihan jika ingin mempertahankan budget backapacker kami. Itu artinya 17 jam sekali jalan di kereta api kelas ekonomi yang penuh sesak  berjubel dan mungkin sedikit tidak manusiawi.

Tetapi rupanya kami harus berterimakasih pada PT Kereta Api yang sudah mengeluarkan kebijakan baru, bahwa seluruh kereta jarak jauh termasuk kelas ekonomi hanya akan ada tiket duduk 100 % yang artinya jika kapasitas tempat duduk sudah penuh, karcis tidak akan di jual lagi, meskipun pedagang masih bisa seliweran dengan bebas di gerbong kereta. Thanks God. Dan bayangan kereta bejubel, penuh sesak dan tidak manusiawi hilang sudah, terutama karena 1/2 gerbong kereta berisi pasukan backpacker indonesia yang cinta bersih, dan taat pada aturan tidak merokok di area publik. 17 jam perjalanan gerbong kami masih lumayan bersih dan bebas asap rokok.

Baca selengkapnya »

Arung Jeram Bersama Arus Liar

Terasa jadi orang beruntung banget, karena ketika lagi cekak-cekaknya, kantor punya kebijakan ngadain social gathering untuk meningkatkan kekompakan dan kerjasama sekalian bos baru mau PDKT sama kita.
Tadinya kita punya beberapa pilihan bentuk social gathering.

1. Makan-makan di rumah makan sekitar UI, tetapi nggak jadi karena kayanya kurang seru secara kita sudah tiap hari makan.
2. Ke Dufan, ya ampun ngebayanginnya saja sudah bikin males. ngantrinya itu loh...
3. Rafting di Sungai Citarik Sukabumi, walahhh ini baru OK punya. Setuju komandan... berangkat...!!

Baca selengkapnya »

Serunya Jadi Wartawan "Perang"

Jadi wartawan perang...?? Karena terlalu ingin tahu gimana rasanya jadi wartawan perang, jadilah saya nekat maju ke medan perang demi mengabadikan momen yang tidak biasa itu.. Bermodal kamera digital biasa, dan google untuk antisipasi kalau-kalau kena peluru nyasar, jadilah saya wartawan perang... Wartawan Perang Paint Ball.

Baca selengkapnya »

Malam Mingguan di Kota Tua Jakarta

Ke kota tua lagi...??? yup... ke kota tua lagi... kali ini bukan cuma melihat gedung-gedung tua yang jadi saksi sejarah atau ikut beraksi di pawai barongsai. Sabtu malam 13 maret 2010, Pemerintah DKI Jakarta, British Council, dan KADIN serta beberapa sponsor lainnya mengadakan acara bertajuk "transformasi Kota Tua menjadi Ruang kreative". Walaupun sabtu itu masih harus gawe, tapi tetap bela-belain berangkat ke Kota Tua karena penasaran sama acaranya, yang digadang-gadang akan seru. Dari berita yang aku dapat, serunya acara itu karena akan ada pentas seni berupa video mapping 3D, apa sih tuh...??? penasaran... makanya langsung cabut ke Jakarta modal 1500 perak naik kereta ekonomi... yiipiieee...

Aku baru tiba di Museum Fatahillah sekitar 18.45. Marching Band dari Mandiri Heritage Bank Mandiri sedang beratraksi. Dibelakang mereka, Museum Ftahillah yang tua berubah menjadi objek yang lebih menarik karena sentuhan video mapping. Aku baru tahu, kalau video mapping yang dimaksud adalah semacam film yang diputar, tetapi layar putih lebar sebagai displaynya digantikan oleh dinding-dinding museum fatahillah. karena dinding museum ikut menjadi bagian dari film, maka menurut yang punya gawean, dibutuhkan data mengenai ukuran Museum yang presisi, sehingga video mappingnya benar-benar hidup, sehingga timbul adegan beberapa orang membatik dinding depan museum, atau orang yang meloncati jendela-jendela museum, atau yang nggak aklah keren adegan "robohnya" museum. hmmm... bukan cuma berseni, tetapi berteknologi.


Aslinya Museum Fatahillah


Setelah di video mapping, begini jadinya...


Sebenarnya, banyak tampilan-tampilan bagus pada pemutaran video mapping. sayang kameraku kurang bisa menangkap semua tampilan tersebut, alhasil cuma ini yang aku dapat.

Pangandaran : Traveling ke Kampung Halaman Yayan

Sekitar tahun 2008. Ssetelah sempat dihinggapi perasaan ragu-ragu untuk berangkat, akhirnya kami berlima Aku, Esa, Imran, Ayu, dan boyan berangkat ke Pangandaran. Anehnya sebelum menuju pangandaran, kami punya beberapa alternatif dan ide konyol untuk mengisi weekend saat itu, salah satunya adalah ngegembel ke bandung sambil ngamen, walau akhirnya tidak jadi dan tujuan di tetapkan ke Pangandaran, berhubung Kampung Halamaan Yayan di sana, maka kami tidak perlu ngegembel dan dapat traveling dengan layak.



Perjalanan dimulai dari Terminal Depok, Bus Budiman yang kami tumpangi berangkat sekitar jam 21.30 WIB. KAmi hanya perlu mebayar 40ribu rupiah untuk perjalanan ke Pangandaran di kelas ekonomi. Syukurnya. perjalanan lumayan lancar. Dan kami berhenti di Kali Pucang, rumah yayan, dimana ibunya sudah menyiapkan sarapan berupa ikan asin dan sambal terasi yang nikmat sedap dan mantap...

Setelah istirahat sekitar 1 jam, kami segera menuju ke Pantai Pangandaran, dengan menggunakan angkutan umum berupa elf, tetapi aku lupa berapa rupiah yang kami bayarkan untuk sampai ke Pangandaran dari Kali Pucang.

Sampai di Gerbang Pangandaran, kami mampir ke sebuah mini mart untuk membeli beberapa makanan ringan, miuman dan sunblock yang tidak pernah kami pakai. Selanjutnya kami menuju Pantai menggunakan Delman (aku juga lupa berapa biaya delman ini). Saat itu adalah beberapa bulan setelah Tsunami menerjang kawasan Pangandaran. Suasanya sepi sekali. Beberapa bangunan yang roboh akbiat Tsunami belum dibangun kembali. Tetapi itu justru menjadi keuntungan bagi kami, pasalnya harga barang-barang seperti baju khas Pangandaran, makanan, dan sewa perahu menjadi harga normal. Tidak seperti daerah wisata umumnya yang harganya bisa beberapa kali harga normal.

Dari pantai, kami ditawari oleh seorang tukang perahu untuk menyebrang sampai ke Pasir Putih, sebuah Cagar Alam dengan pantai pasir putihnya yang mantap, sekalian mengintip batu hiu yang menurutku nggak mirip hiu sama sekali. setelah tawar menawar, kami akhirnya sepakat menumpang kapal nelayan ini untuk sampai ke Pasir putih.

Sebagai kawasan Cagar Alam, wajar saja jika disana banyak binatang sejenis monyet yang hidup bebas, saking bebasnya, beberapa kali mereka mencoba mencuri bekal makanan kami, hingga beberapa kali kami harus main kucing-kucingan dengan mamalia yang satu ini. Kadang muncul binatang sejenis rusa yang cantik tetapi malu-malu, sehingga setiap kali kami mau ambil fotonya, si Rusa sudah ambil langkah seribu. Air di pasir putih snagat jernih, dan bersihnya melebihi dugaanku. Menurut pemilik perahu yang kami tumpangi, sebelum terjadi tsunami pantai ini sedikit kotor, membutaku harus bersyukur karena kami datang disaat yang tepat. Menurut penduduk setempat ada banyak gua-gua alam di kawasan cagar alam pasir putih. Tetapi karena tidka ada persiapan trekking, akhirnya kami menolak tawaran untuk ke gua alam tersebut

Dan kegembiraanpun dimulai, snorkeling, Mengubur orang dalam pasir, makan rujak di pantai dan melihat beberpa turis bule beraksi membuat hari itu terasa pendek.


Puas bermain seharian di pantai, kami segera kembali ke rumah Yayan. sayang kami tidak sempat mengunjungi Grand Canyon padahal yayan sudah merekomendasikannya. Bus executice seharga 60 ribu Jurusan Pangandaran - Kampung Rambutan membawa kami kembali ke Jakarta. Sedikit hiburan, dalam bis executive tersebut hanya ada sedikit penumpang sehingga, kami bebas, sebebeas-bebasnya mengambil kursi manapun yang kami mau...

DI FESTIVAL KOTA TUA

Aku teringat pada acara Jakarta City Tour 2 yang diadakan Backpacker Murah. Walau sudah terlalu terlambat untuk di posting. tetapi cerita ini sayang kalau dibiarkan, kemudian akan hilang begitu saja.

Jakarta City Tour 2 mengambil tema keliling Kota Tua Jakarta. Dari Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Jembatan Kota Intan, Klenteng Petak Sembilan di Glodok dan terakhir ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Usai bernarsis ria di Jembatan Kota Intan, kami naik Kopaja yang melaju khusus mengangkut anak BM yang jumlahnya mungkin 50-an orang menuju Klenteng Petak Sembilan Di kawasan Glodok. Begitu sampai di sana, kawasan itu sudah dipenuhi orang-orang Tionghoa yang sepertinya akan merayakan sesuatu, setelah diselidiki ternyata ada perayaan Sejit Bio Fat Cu Kung sekaligus mengisi Festival Kota Tua sehingga akan ada karnaval keliling Kota . Karena kami gagal masuk ke dalam Klenteng. Akhirnya kami, segera melanjutkan perjalanan kembali ke Museum Fatahillah (kali ini jalan kaki).

Di tengah perjalanan kami, bertemu rombongan karnaval ini, yang ternyata pesertanya banyak sekali. Bukan hanya di isi orang-orang Tionghoa, bahkan TNI pun ikut berpartisipasi. Dan bukan pula hanya di isi oleh orang Tionghoa Jakarta, dari papan nama yang mereka bawa diketahui kalau peserta juga berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Pakaian mereka yang mayoritas merah mencolok membuat karnaval yang panjang itu sangat menarik. Mereka memainkan Barongsai, ada arak-arakan yang berisi patung dewa yang ditandu dan dibawa oleh beberapa orang pria. orang-orangTionghoa yang dilewati arak-arakan tersebut ada yang memasukkan Angpao ke dalam tandu tersebut

Kejadian yang paling menarik adalah, ketika aku yang terpesona pada arak-arakan tersebut, memancing seorang peserta untuk menawarkan aku ikut serta membawa salah satu tandu.

"Mau coba nggak mbak?" begitu katanya.

aku yang terheran-heran dan masih kebingungan, tergagap menyatakan mau mencoba.

Akhirnya inilah yang terjadi. Sahabatku Endah sempat mengabadikan Kejadian menarik ini.
Koleksi Foto : Suryani Endah Sari

Aku Sempat ikut membawa tandu hanya sekitar satu atau dua menit karena ternyata tandu itu masih berat walaupun sudah banyak sekali orang yang ikut menggotong. hhmm.. coba perhatikan warna bajuku yang kontras berbeda dengan peserta karnaval, dan perhatikan sumringahnya aku karena pengalaman langka ini.

Selesai menandu, aku sempat tanyakan pada Yeli dan Endah, dari sekian banyak orang yang menonton di pinggir jalan, kenapa aku yang di ajak ikut nandu, dan jawaban kedua sahabatku itu sama, yaitu AKU MUPENG.

Cerita Menjelang PialaThomas dan Uber 2010

2010, saatnya piala Thomas dan Uber diperebutkan kembali. Aku teringat pada perhelatan Thoma Uber dua tahun lalu di Jakarta, dimana aku bersama 7 orang teman sepakat untuk menyaksikan langsung Kompetisi bergengsi itu langsung di Senayan, karena kesempatan untuk digelar di jakarta lagi mungkin masih beberapa tahun kemudian. Walaupun Tim piala Thomas dan Uber Indonesia ketika itu tidak difavoritkan juara karena dominasi China yang belum terbendung negara manapun, terlebih Tim Uber Indonesia yang secara individu minim prestasi tidak menyurutkan niat kami untuk memberi semangat pada pahlawan olahraga.

Tidak disangka, Tim Uber Indonesia yang hanya ditargetkan masuk semifinal waktu itu, bisa adu kemampuan dengan raksasa bulutangkis di partai final. Mengetahui hal itu, kami berburu tiket masuk stadion untuk partai final Uber tersebut. Setelah berburu informasi, kami ketahui kalau pembelian langsung tiket bisa dibeli di Senayan, tetapi satu orang hanya dapat dua tiket. Karena kami berdelapan, kami tidak punya waktu untuk mengantri tiket yang katanya antriannya sudah panjang. Tidak patah arang, kami menelepon Customer Service salah satu bank sponsor, dan gagal lagi karena untuk mendapatkannya harus dengan kartu kredit bank tersebut, yang kami semua tidak punya. Aku teringat pada tetanggaku yang bekerja di Bank, dan langsung menghubunginya. Lagi-lagi kami kecewa, karena menurut tetanggaku, tiket sudah habis, ludes tidak tersisa.

Putus asa hanya berlangsung beberapa menit saja, kami dapat informai kalau di Senayan di pasang big screen, sehingga bagi yang tidak dapat tiket bisa nonton bareng di sana. Tidak bisa nonton di dalam stadion, di sampingnya pun jadi. Kami langsung meluncur ke Jakarta. Touring dengan 4 motor dari Cibubur, dan 45 menit kemudian tiba di salah satu area parkir Stadion Gelora Bung Karno, tempat big screen berdiri mantap dengan jumlah penonton yang banyak, sebagian cuek melantai tanpa alas, sebagian menjadikan sandal atau koran sebagai alas duduk, lampu sorot dari dalam stadion terlihat menari-nari kesana-kemari dan sesekali penjual minuman menawarkan dagangannya menjadikan suasana mirip nonton layar tancap, tetapi tidak mengurangi semangat kami untuk memberi dukungan pada atlet bulutangkis Indonesia yang berlaga.

Kami segera mencari posisi duduk yang nyaman. Dan pas kami duduk, pas pertandingan pertama di mulai. Maria Kristin menghadapi Xie Xing Fang di partai pertama. Kami bersorak kegirangan jika Maria mendapatkan point, dan bersorak jengkel jika Xie yang berhasil mencuri angka. ada saja alat untuk membuat bunyi-bunyian. yang paling murah ya tangan sendiri, tetapi karena kelamaan sakit juga, akhirnya ada yang menggunakan botol plastik bekas minuman, dan beberapa ada yang memakai sepasang stik panjang dari plastik menyerupai balon, yang jika ditepuk akan mengeluarkan bunyi. Kami celingukan mencari asal-muasal benda lucu itu, ternyata dijual seharga sepuluh ribu rupiah sepasang. Kami membeli delapan pasang. Sayang stik tersebut jarang kami pakai karena Partai Pertama ini dominasi pemain China tidak dapat diatasi dengan baik oleh Maria, membuat stik yang baru kami beli lebih banyak nganggur daripada beraksi.

Partai Kedua dimainkan partai ganda. Lilyana Natsir dan Vita Marissa memberikan perlawanan keras pada lawan. Membuat jantung kami berdegup lebih cepat, kerongkongan sakit karena terlalu banyak berteriak, dan stik kami kempes karena terlalu banyak dihantam ke pasangannya. Saking ramainya, suara dari dalam stadion terdengar hingga ke luar, suara yang tidak membuat kami iri, karena di sini pun tidak kalah hebohnya. Setelah kalah di set pertama, kami berteriak sejadi-jadinya ketika Pasangan Indonesia berhasil merebut set kedua. kami yang tadinya duduk melantai spontan berdiri dan berjingkrak kegirangan karena masih ada harapan. Awal set ketiga suasana masih gaduh, karena pertarungan masih sengit. Sayang, disaat-saat terakhir Lilyana dan Vita seperti kehabisan tenaga, membuat kami terduduk lemas menyaksikan kekalahan yang kedua.
Partai ketiga sudah dapat dibaca hasilnya, maka sebelum pertandingan habis, banyak dari penonton yang angkat kaki dari tempat duduknya. Kami masih sempat menyaksikan akhir Final Piala Uber, pulang dengan tangan merah dan suara serak, dan lebih menyedihkan mengetahui lagi-lagi Piala Uber kembali ke China, Tetapi kami tetap berharap Perebutan Piala Thoma dan Uber berikutnya Indonesia berjaya.

Dua tahun kemudian, apa yang kami impikan sepertinya masih jauh dari harapan bahkan menurutku prestasi Atlet Bulutangkis kita kian menurun saja. Jika pada perebutan Thoma Uber 2008 lalu ada Markis Kido dan Hendra Setiawan yang eksis sebagai Ganda Putra terbaik sedunia, dan ada Lilyana Natsir dan Nova Widianto yang berkibar sebagai Mix Double paling jago sejagad, yang membuat TimThomas ditargetkan melenggang ke Final waktu itu (walau akhirnya gagal juga). Thomas dan Uber kali ini diawali dengan minim prestasi. Prestasi Markis dan Hendra menurun sebelum PBSI memiliki penggantinya, hal yang sama terjadi pada Nova dan Lily.

Tidak ada regenerasi bisa dipastikan penyebebnya. Aku sempat tidak percaya, ketika melihat susunan Tim bulutangkis Sea Games di Laos akhir tahun lalu masih menurunkan Markis dan hendra serta Sony Dwi KUncoro yang nota bene, bukan levelnya lagi main untuk Sea Games. Lebih-lebih membaca artikel tentang Maria Kristin yang kalau saja 2012 nanti masih berumur dibawah 25 tahun masih akan diikutkan dalam PON untuk membela Jawa Tengah. Jika PON saja masih mengandalkan pemain sekaliber Maria Kristin, kapan yang junior bisa unjuk gigi. Pantas saja tidak ada regenerasi Bulutangkis Indonesia. Pantas saja prestasi bulutangkis kian merosot.


Ujung Genteng (2nd Entri)

2 Januari 2010

Inilah bedanya bepergian dengan rombongan backpacker dan rombongan kantor. Biaanya jika denagn para backpacker, kami selalu memburu sunrise dan sunset, begitupun rencana kami. Rencananya kami akan lihat sunrise pagi ini, tetapi apa daya, kami baru bangun 06.30. setelah shalat shubuh (yang kesiangan), kami baru menuju pantai ketika jam menunjukkan 06.15, dan matahari sudah tidak malu-malu lagi. Kami kemudian menyusuri pantai. Benar apa yang dikatakan orang, Ujung Genteng adalah aquarium alam. Pantainya sangat jernih, saking jernihnya kita bisa melihat bayangan kita dengan jelas, di beberapa titik ada batu karang besar yang banyak di jadikan area bernarsis ria oleh para pengunjung, sayang beberapa tumpukan sampah terlihat di sekitar pantai, mencemari keindahan alam yang menakjubkan ini.

Tepat pukul 12.00 kami check out. Dengan ojek kami berencana mengunjungi amanda ratu dan Curug Cikaso (ini juga yang membedakan pergi dengan backpacker dan pergi dengan rombongan kantor).
Setelah perjalanan sekitar 15 menit dengan motor, kami pun tiba di Amanda Ratu. Menurut cerita dulu Amanda Ratu adalah villa milik keluarga mantan Presiden Soeharto. Di Amanda Ratu kita bisa melihat duplikat Tanah Lot yang ada di Bali (Sayang memori card Ayu, yang didalamnya banyak foto Amanda Ratu, termasuk foto kami ketika menyusuri Ujung Genteng terserang virus dari card reader Jono), setelah menikmati Amanda Ratu dan shalat di masjid yang berada di dalamnya, kami segera menuju Curug Cikaso. Sebelumnya kami mampir ke sebuah gubug tempat keluarga pembuat Gula kelapa (gula merah). menurut bapak pembuat Gula kelapa, gula yang ada di Jakarta sudah tidak asli lagi alias sudah di tambah zat lain seperti ubi (membuatku berpikir, apa yang masih asli di jakarta ini). Gula kelapa asli ini seharga 10000 rupiah per kilonya. Tidak tega dengan keadaan keluarga pembuat gula kelapa ini, Ayu membeli 2 kilogram Gula kelapa yang kemudian di masukkan ke dalam ranselnya (:D). Puas mengamati pembuatan gula kelapa kamu meluncur ke curug Cikaso. Jalanan yang cukup lebar dan baik membuat motor di pacu dengan sangat kencang oleh Bapak Ojek, membuat aku mengeratkan genggamanku pada panel motor, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan Ayu dan Yelni baik-baik saja.
Di Amanda Ratu

Tidak seperti yang aku duga, ternyata dengan motorpun perjalanan cukup jauh. setelah 30 menit di atas motor, kami tiba di pos Curug cikaso, dan untuk mencapai curug, kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 5 menit dengan perahu. Harga sewa perahu sebesar 75 ribu untuk setiap perahunya, dan perahu itu berkapasitas 10 orang. karena kami cuma bertiga, maka kami bergabung dengan grup kecil lainnya sehingga jumlah kami menjadi 7 orang.
Seperti di Ujung Genteng, curug pun dipenuhi pengunjung. curug ini memang indah, tetapi menurutku lebih menakjubkan curug di Cianjur.
Curug Cikaso


Kami sempat mkan siang (yang terlambat) di pos curug, menjadi makan paling memuaskan selama perjalanan. Selain karena enak dengan menu ikan tongkol dan sayur sawi ditambah sambal yang maknyusss, kami hanya perlu membayar 5000 rupiah, padahal gaku punya acara nambah segala.
Selesai makan, kami segera kembali ke terminal Surade untuk mengejar Bus MGI jurusan Bogor, karena menurut informasi Bus MGI ke arah Bogor terakhir berangkat jam 16.00, atau nanti jam 21.00. Sesampainya di Terminal Surade, Bus MGI sudah kosong, terpaksa kami kembali menggunakan angkutan Elf untuk ke sukabumi terlebih dahulu kemudian lanjut ke Bogor.
hingga 2 km pertama, elf berjalan sangat lambat, penumpang sepi. Kami bertiga dari awal sudah sepakat untuk duduk bersama di depan. Sesekali ada ojek yang mengejar elf kami, untuk mengantar penumpang. setelah elf penuh, barulah elf menunjukkan jati diri sesungguhnya, melaju kencang sekencang-kencangnya, yang lebih parah hari sudah gelap, kami yang duduk didepan, tidak dapat melihat tikungan ke kiri atau ke kanan atau lurus saja. Menurut kami hanya Tuhan dan supir Elf yang tahu ke arah mana tikungan berikutnya.
Pukul 12 malam, kami baru tiba di bogor, untungnya kakakku ada yang kost di bogor, sehingga dari terminal bogor kami berjalan kaki ke arah Bintang Pelajar, dan untungnya lagi masih banyak warung makan yang buka di sekitar terminal Baranangsiang sehingga suasana sedikit terang. Sepiring Nasi Goreng dan Segelas Teh manis menutup perjalan kami hari itu.

3 Januari 2010

Pukul 04.30 pagi, kami sudah bangun, bersiap untuk pulang kembali ke depok. Di sekitar Taman Topi kami menikmati sarapan pagi berupa Ketupat Padang. Di kereta kami terkantuk-kantuk, tidak menyadari kaalu ternyata kereta sudah penuh. Beruntung kami mendekap backpack dan day pack kami erat-erat sehingga kondisi kami yang kelelahan tidak dimanfaatkan para pencoleng yang banyak berkeliaran di kereta api.
Setelah kami bertiga melakukan perjalanan yang hampir saja jadi rencana abadi akhirnya kami selesaikan trip ini denagn aman dan lancar. Ayu turun di satsiun depok baru, sedangkan Aku dan Yekni berpisah di Pondok Cina



Ujung Genteng (1st Entri)

Setelah cancel berkali-kali, akhirnya jadi juga aku menyambangi Ujung Genteng. Bersama Ayu dan Yelni teman perjalananku kali ini. Berbekal catatan Perjalanan milik Joko yang ia tulis di facebook kami menelusuri Ujung Genteng, 120 km dari sukabumi.
Awalnya kami berencana untuk berangkat pada malam tahun baru yaitu tanggal 31 desember, akan tetapi setelah di timbang-timbang dan khawatir jalanan akan macet karena perayaan tahun baru, kami putuskan untuk berangkat esok pagi. Kami akan naik kereta ke Bogor menggunakan kereta pertama, karena itu kami janjian untuk bertemu di Stasiun Depok Baru pada pukul 05.30 pagi. Untuk memastikan kami dapat tempat di penginapan, kami menelepon beberapa penginapan. Untungnya masih ada kamar di villa pak Ujang seharga 200 ribu rupiah semalam. Untuk memastikan kami tidak tersesat maka kami print out catatan perjalan Joko.

1 Januari 2009

Awal perjalanan kami sudah tidak lancar, padahal belum sampai mana-mana. Jam 05.20 Ayu menelepon bahwa ia baru saja bangun alias kesiangan, dan sialnya dompetku ketinggalan di rumah. Rencana awal berangkat jam 05.30 terpaksa mundur satu jam. Akhirnya kami naik kereta ke bogor pukul 06.30.
pukul 07.00 kami sudah tiba di Stasiun Bogor, melanjutkan perjalanan ke Terminal Barangsiang. Seharusnya kami mencoba mencari adakah bus Bogor-surade di Terminal, akan tetapi karena kami terpaku pada catatan perjalanan Joko, maka kami tetap naik elf ke Sukabumi. Tidak di nyana, dalam perjalanan ini, keluarlah semua keluh kesah yang selama ini di simpan, perjalanan diisi dengan membahas masalah seputar kantor, rekan-rekan di kantor. Acara gosip di elf membuat perjalanan terasa singkat.

Perjalan kembali terhambat lagi karena Yelni belum mengambil uang, dan uang yang sudah aku siapkan "dipalak" ibuku sebelum berangkat. kami menelusuri terminal sukabumi untuk mencari ATM. Sukur tidak begitu lama kami sudah menemukan ATM bersama.
Dari Terminal Suka Bumi kami naik angkot ke Lembur Situ. Di terminal lembur situ ini, aku sempat kesal pada pada petugas terminal yang meminta uang peron seharga 1500 rupiah per orang, tetapi tidak ada karcis atau tanda terima retribusi yang menyatakan pungutan itu bukan untuk pribadi alias pungutan liar. Ada satu elf ke Surade yang sudah penuh, tetapi karena khawatir sampai Ujung Genteng kemalaman, kami nekat ikut elf ini. Jadilah Ayu dan Yelni berbagi satu kursi, sedangkan aku cukup beruntung walaupun tidak bisa di sebut nyaman juga. Karena hari itu ramai, ongkos elf tiba-tiba melambung sekitar 10% dari yang di tulis Joko, tetapi karena penumpang lain pun membayar harga yang sama, dan menurut penjelasan seorang bapak di sebelahku bahwa jika ramai tarifnya naik, akhirnya kami rela juga membayar 25000 perorang.
Ini adalah Jalur Setan, begitu kata Ayu. Perjalanan Sukabumi Lembur Situ memang sangat menantang, Jalur sepanjang 120 km itu di dominasi oleh belokan ekstreme, membuat kami harus berpegangan kuat-kuat, terlebih Yelni dan Ayu yang harus berbagi kursi. Tikungannya yang membuat perut kami seperti di kocok-kocok ini, tidak membuat supir elf menurunkan kecepatannya, jadilah Ayu menjulukinya Elf Setan.
Sekitar 20 km sebelum Surade, Yelni sudah tidak kuasa menahan isi perutnya untuk tidak keluar melalui mulut alias muntah setelah sebelumnya penumpang di sebelahnya sudah muntah duluan. Untung saja, ada fasilitas plastik gratis dari elf bagi yang mabuk perjalanan. Setelah Yelni, berturut-turut penumpang di belakangku turut mabuk perjalanan, lalu orang di depanku, dan entah berapa lagi orang yang sudah mabuk.
Tepat Zuhur kami tiba di Surade, Setelah Shalat Zuhur kami melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng. saking sedikitnya penumpang dari terminal Surade, si Sopir angkot sampai bersedia menunggui kami makan siang. beruntung karena harga makan sinag kami masih normal. Perjalanan dari Surade ke Ujung Genteng ini, ada suatu bangunan mirip monumen dengan bentuk Rudal, Si Sopir Angkot menjelaskan bahwa ada beberapa daerah di Ujung Genteng yang akan di ambil alih angkatan udara, untuk dijadikan pusat peluru kendali karena letak ujung genteng sebagai bentuk pertahanan keamanan atas kedaulatan negara, akan tetapi rencana tersebut masih ditentang penduduk lokal setempat. Menjelang Ashar kami tiba di penginapan Pak Ujang. Ternyata kamar kami lumayan bersih, Sebuah tempat tidur besar di tambah tempat tidur tambahan, dan kipas angin membuatnya juga cukup nyaman untuk ditempati tiga orang.
Setelah istirahat dan shalat ashar kami menyewa ojek untuk ke tempat penangkaran penyu, melihat pelepasan tukik atau anak penyu ke pantai yang biasanya di lakukan jam 17.00. Tidak seperti yang aku duga, ternyata di sana sudah banyak orang, mungkin karena liburan. Ujung Genteng yang aku pikir hanya didatangi kaum Backpacker karena jalurnya yang sulit, ternyata juga di kunjungi kaum borju. Kami menikmati pantai sambil menunggu waktu pelepasan tukik. pukul 17.15 baru para petugas keluar membawa ember berisi anak penyu yang baru berumur satu hari. Orang-orang yang sebelumnya asyik dengan rombongannya masing-masing bergegas menghampiri penyu. setelah di beri aba-aba oleh salah seorang petugas, penyu pun di lepaskan, pengunjung bersorak sorai memberi semangat pada tukik-tukik itu agar dapat mencapai laut. beberapa tukik berhasil mencapai bibir pantai, yang lain ada yang terbalik, ada yang di hempaskan ombak sehingga kembali ke pantai. Belum sampai laut saja perjuangan Tukik untuk bertahan hidup sudah sulit, pantas saja menurut petugas, dari 100 tukik yang di lepas, hanya satu yang mampu bertahan hidup.
Sebelum maghrib kami sudah kembali kepenginapan. Setelah Shalat Maghrib kami mencari makanan, karena tadi siang kami lupa memesan pada pak Ujang. Untunglah tidak Jauh dari Villa Pak Ujang, ada kedai yang menjual Soto Mie dan sebelahnya ada warung sehingga aku bisa minta tolong pada Ibu warung untuk membuatkan Mie Instant. Lagi-lagi aku beruntung karena Soto Mie yang dipesan Yelni dan Ayu jauh dari harapan sehingga mereka makan sedikit sekali.
Selesai menyantap makan malam, kami kembali ke penginapan. Karena masih suasana Tahun Baru, beberapa pengunjung masih menyalakan kembang api, ribut sekali suasananya dan sedikit mengganggu waktu istirahat.

Yogya : My First Solo Backpacking (3rd Entri)

26 Desember

Ini hari terakhirku di Yogya, maka aku ingin memaksimalkan perjalanan hari ini. Setelah bertransaksi dengan supir taxi motor, maka dicapailah kesepakatan ongkos 80000 rupiah untuk keliling Yogya dari Jam 07.00 pagi sampai 15.00.
Tujuan pertama adalah Sentra Kerajinan Gerabah di Kasongan, Seperti Kota Gede, toko kerajinan gerabah berderet-deret sepanjang Jalan. Dari ukuran kecil hingga patung yang besar. harganya pun relatif murah, sehingga tempat ini bisa menjadi alternatif untuk berbelanja.Bukan hanya barang jadi yang bisa kita lihat, proses pembuatannya pun bisa kita saksikan dari pembentukan gerabah dari tanah liat hingga penyelesaian tahap akhir seperti pengecatan.





Puas melihat-lihat Kasongan, tujuan berikutnya adalah Taman Sari. Taman Sari ini sebetulnya berada di sekitar Kraton Yogya, akan tetapi ketika keliling Kraton pada hari pertama, aku tidak sempat mengunjungi tempat ini. Konon, Taman Sari adalah tempat pemandian bagi para Putri Kraton. Tempatnya lumayan luas, tetapi sayang tidak dirawat dengan baik menurutku. Akan tetapi tidak mengurangi minat pengunjung untuk menyusuri tempat ini. Di dalamnya ada sebuah kolam renang Besar, kemudian ada menara yang katanya merupakan tempat Sultan mengawasi Putri-putrinya. Jika bukan karena menyusup ke rombongan Taman kanak-kanak, aku mungkin tidak akan pernah sampai melihat Masjid yang berada di bawah tanah ini. Sekilas Masjid ini hanya seperti lorong yang melingkar. Untuk masuki tempat ini, kita keluar dari Kompleks Taman Sari, Kemudian menyusuri Kampung di sekitarnya hingga akan di temukan Pintu Masuk lainnya yaitu sebuah Terowongan.


Tujuan berikutnya adalah Monumen Yogya Kembali, menurut supir taxi, masyarakat Yogya menyebutnya Monjali. Di Monjali ada sebuah dinding besar dan tinggi, di mana di dinding itu dituliskan nama -nama pahlawan yang gugur di medan perang, juga terdapat sebuah cuplikan puisi Chairil Anwar "Antara Karawang Bekasi". Di depan monumen juga terdapat beberapa arena mainan anak seperti Flying Fox. Diorama-diorama seputar perjuangan rakyat Yogya banyak mengisi monumen ini, dilengkapi dengan fasilitas audio.


Dari Monjali aku meneruskan perjalanan ke Desa Wisata Ketingan, yang terletak di wilayah Sleman. Wisata utama di Ketingan adalah wisata flora dimana di desa ini banyak terdapat burung Kuntul yang sudah jarang terdapat di Pulau Jawa. Untuk menikmati wisata flora ini, menurut warga setempat sebaiknya pada sore hari. sayang aku tidak punya waktu banyak, hingga aku hanya bisa melihat sesekali burung Kuntul itu terbang di antara pohon-pohon tinggi. Selain itu kita juga menikmati suasana alam pedesaan yang kental.

lelah keliling Yogya aku beristirahat di Alun-alun kota Sleman. Makan siang dialun-alun di sebuah warung sego kucing merupakan makan siang dengan biaya paling murah selama perjalananku di Yogya, dimana nasi dengan lauk tempe orek, telur dadar dan satu buah gorengan di tambah teh manis hangat hanya ku bayar 4500 rupiah.

Yogya : My First Solo Backpacking (2nd entri)

25 Desember


Rencananya pagi-pagi sekali aku menuju Candi Borobudur, karena sudah bertekad naik sampai stupa teratas borobudur tanpa harus gosong. Taxi motor datang jam 6.15, langsung menuju terminal Jombor, sebelumnya si sopir taxi menawarkan harga tour sebesar 150 rb rupiah untuk tour selama 8 jam, tetapi kau hanya tersenyum dan bilang "gak usah mas, antar saya saja ke terminal Jombong, biar nanti saya naik Bis"
dari terminal Jombor naik Bis Cemara Tunggal yang akan mengantar sampai Candi Borobudur. Masih pagi sekali, penumpang sepi. Sebelum berangkat Asti dan Sopir Taxi sudah memberitahuku, kalau tarif Jombor-Borobudur sebesar 7000 rupiah. Sialnya, ditengah jalan si kenek bis bertanya sesuatu dalam bahasa jawa, aku yang emang nggak ngerti , dan aku langsung saja mengatakan aku nggak ngerti. Karena alasan itu uang kembalian sebesar 3000 rupiah tidak dikembalikan padaku. Dengan gaya yang menyebalkan si kenek bis mengatakan
"Yang 7000 itu bagi bapak ibu penjual itu, mahasiswa atau orang yang memang setiap hari naik bis ini, lah kalau seperti mbak ini tarifnya 10000, mas yang didepan itu juga bayar 10000"
Berbekal pengalaman ini, ketika perjalanan pulang, aku membayar 7000 rupiah, dan langsung pura-pura tidur. Perjalanan dari Jombor ke borobudur sekitar 45 menit jika lancar.
Dari terminal Borobudur, kita bisa jalan kaki sepuluh menit, atau naik becak denagn membayar 5000 rupiah.
Jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. belum terlalu ramai, tetapi sejumlah wisatawan sudah datang, tiket masuk candi borobudur sedikit lebih mahal dari Prambanan yaitu 22500 rupiah. Saat aku mengunjungi Borobudur, banyak terdapat perbaikan sedang dikerjakan, beberapa batu dilepas dari susunannya untuk dibersihkan. membuat perjalan sedikit terganggu.

Untuk solo traveler, menyewa seorang guide tentu sangat memberatkan kantong. Maka sejak dari Kraton di hari pertama aku menerapkan sistem "nebeng". Mengikuti rombongan yang jumlahnya cukup besar sehingga mereka tidak menyadari ada penyusup di dalamnya. dengan sistem ini, aku bisa mendengarkan cerita dari guide wisata tanpa keluar uang... yiipppieee...!!!. Seperti juga di borobudir ini. beebrapa kali aku menyelinap ke dalam rombongan tertentu utnuk mendengar cerita pemandu wisata mengenai candi ini.
Sebagai candi budha, tak terhitung banyaknya patung budha, tetapi sayang sebagian banyak yang sudah rusak, terutama kehilangan kepala, Disayangkan untuk warisan budaya semegah Candi Borobudur.

Tepat tengah hari, aku sudah kembali ke Yogya. Karena aku pergi tanpa itinerary, jadilah aku kelimbungan kemana lagi tujuan selanjutnya. Untungnya, ini di Yogya, yang di tempat wisata yang nggak pernah sepi. Di setiap halte Trans Yogya, ada informasi mengenai tempat wisata yang bisa dikunjungi, berikut transportasi yang bisa digunakan. Setelah membaca, dan memperkirakan tempat yang mungkin untuk dituju, aku putuskan untuk mengunjungi Kota Gede, Sentra Kerajinan Perak. Cukup dengan naik trans Yogya dari Malioboro denagn ongkos 3000 rupiah, turun di halte kehutanan, nyebrang dan Tampaklah Toko Perak yang cukup besar Tom's Silver yang menyambut kedatanganku

Toko perak dikawasan ini tidak ada putus-putusnya, setiap rumah yang berbaris menyatakan diri sebagai toko perak 925 yang artinya menjual perak dengan kemurnian 92,5%. Tetapi yang menjadi tujuan utamaku bukan tokonya, melainkan workshop untuk melihat bagaimana para pengrajin bisa menghasilkan produk yang katanya diekspor ke Jepang sampai ke Eropa. Tidak semua toko yang ada memilki workshop. tom's Silver memiliki workshop, namun saat aku datang mereka tengah beristirahat. Aku terus menyusuri kawasan ini hingga melihat plang MD silver yang memiliki workshop. Yang aku kagumi dari pengrajin disini adalah pada umumnya mereka sudah bekerja puluhan tahun. Di sini kita bisa membeli beragam jenis perhisan perak, jika perak 925 masih terlalu mahal, maka pemilik toko akan menaarkan produk imitasi,denagn harga yang sangat murah, akan tetapi jika ini masih mahal pun kita bisa mendapatkan pelajaran berharga tentang cara membuat benda seni tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30, ketika trans Yogya yang membawaku dari kota Gede tiba di sekitar Benteng Vredeberg, rupanya benteng masih buka dan pengunjung pun masih ramai. Sesuatu yang tidak akan kita dapatkan di Jakarta yang pada umumnya Museum atau semacamnya sudah tutup sejak pukul 3 sore. Hanya dengan 750 rupiah saja kita sudah bisa masuk ke dalam benteng ini. Benteng ini lumayan luas dan bersih serta asri dibandingkan dengan Museum Fatahillah di Jakarta. Didalamnya terdapat diorama seputar sejarah kota Yogya.







Yogya : My first Solo Backpacking (1st entri)

Biasanya traveling akan seru kalau bersama-sama, narsis bersama, makan bersama, cape juga masih sama-sama. Tapi tiba-tiba terpikir untuk sekali-kali nyobain traveling sendirian. gimana ya...??

Akhirnya, setelah ditunggu dua tahun, baru kesampaian menapaki Yogya. temanku di yogya sampai bilang " gak ada yang mau nemenin kamu ke yogya, karena semua orang jakarta sudah pernah ke yogya"
Bukan statement yang salah, Karena Yogya adalah destinasi yang paling dituju untuk study tour pelajar. Dalam sejarah hidupku menjadi pelajar, setidaknya ada dua kesempatan study tour ke Yogyakarta. Pertama, kelas tiga SMP, perpisahan kelas tiga ditahun 1998, tapi waktu itu aku putuskan tidak ikut, karena terbayang biaya masuk SMA yang tidak sedikit. Kesempatan kedua kelas IV SMA(kelas IV, iya aku SMA di SMAKBO yang sampai 4 tahun, ajibb kan...). Tujuan Study Tour Jawa Bali, tetapi aku dengan berbesar hati akhirnya memutuskan untuk tidak ikut, karena rencana ikut les untuk UMPTN yang dipastikan tidak murah (walau akhirnya gak ikut UMPTN juga). setelah lulus SMAKbo, kebetulan aku langsung bekerja, hingga kemudian yang tidak ada adalah waktu.
Dan libur natal kemarin adalah kesempatan emas. Libur 4 hari, habis gajian, dan isu ada bonus akhir tahun yang diprediksi lumayan, membuat aku membulatkan tekad untuk berangkat ke yogya.
Traveling ke yogya ini juga ku jadikan percobaan situs www.hospitalityclub.org yang
katanya ampuh untuk numpang akomodasi. sebulan sebelum keberangkatan aku hubungi member HC yogya, mencari tahu siapa yang kira-kira bisa nge-host in aku. minggu pertama jawaban yang aku dapat adalah member yang tidak bisa ng-hostin karena akan ke hongkong liburan natal. setelah itu sepi. Masuk ke minggu kedua baru ada jawaban yang positif dari member HC yogya, Asti dan suaminya Bambang. yiippiiee berhasil...!!
Niat awal untuk bersolo karir, naik kereta ekonomi... tapi ditengah jalan, rencana berubah, sempat ada beberapa teman yang mengajak pergi bersama, kemudian ada teman sekantorku, Jono yang juga mau balik ke Gombong. setelah mendapat nasihat dari Jono, maka gagallah naik kereta ekonomi , Yogya ditempuh dengan Bus ekonomi "Sumber Alam" seharga 60 rb.

Tanggal 23 Desember

Bis mulai jalan pukul lima sore, padahal jadwal jam 15.30 (biasalah...loh telat kok biasa). Perjalan lancar, sampai kami berhenti di sebuah rumah makan, untuk mengisi perut dan sholat Isya. Menyebalkan makan disini karena harganya mahal, Pop mie saja yang cuma 4000 rupiah dibandrol 7500 disini, tetapi apa boleh buat, demi perut yang harus tetap fit untuk 3 hari ke depan, ku ambil setengah piring nasi, sedikit sayur, dan sedikit tempe orek ditambah segelas Es teh manis yang semuanya bernilai 13000. Sampai pantura, macet karena ada beberapa perbaikan jalan . Yang menarik dari pantura adalah rumah makan yang didepannya berjejer wanita-wanita cantik bertank top ria, membuat Jono tidak bisa tidak menoleh ke luar. Bibirnya terus berkata Astaghfirullah, tetapi kepalanya sudah di patok tidak bisa lagi menoleh ke depan

Tanggal 24 Desember

sekitar pukul 03.00, kami sudah sampai di Gombong, kampung halaman Jono. dan ia pun pamit turun, tidak lupa memberi pesan untuk hati-hati. Jantungku mulai dag-dig-dug, bisakah aku selesaikan misi ini, tetapi akhirnya aku tidak peduli, rencana sudah matang, aku hanya mohon perlindungan Allah.

Jam 07.30, Bus baru tiba di Terminal Giwangan Yogya, sesuai pesan Asty, aku harus naik bis dari jalur 15. tetapi jalur itu dimana? Aku teliti keadaan dari sebuah masjid, sekalian istirahat dan membersihkan muka, dari masjid baru terlihat bagian-bagian lain terminal, tulisan Jalur 1,2 dll. Aku segera menuju jalur 15, untuk ke rumah Asty, tetapi sebelumnya, sarapan dulu dengan nasi Goreng buatan Orang Yogya, seharga 5000 rupiah.
Aku turun di Mirota Godean, dari sana, Asty pesan naik becak dan minta diturunkan di alamat yang dia berikan, seperti yang sudah diingatkan, jika terlihat asing, maka tarif angkutan (bahkan sekkelas becak Jadi mahal). Untuk jarak gak lebih dari 200 m, aku harus merogoh 10000. Tetapi yang aku naiki bukan sembarang becak. Bentuknya seperti becak dijakarta, sopir dibelakang, tetapi tiba-iba... ggrrrrrmmmm... suara mesin dihidupkan,... loh ini ojek becak toh...???
Didepan rumah Asty, aku disambut hangat, ia dan su
aminya adalah orang-orang yang bersahabat. Mereka memberi petunjuk bagaimana Yogya pada umumnya, termasuk informasi tentang taxi motor ini

Yogya memang daerah wisata, tetapi sayang, untuk traveler yang tidak membawa kendaraan sendiri, transportasi menjadi semacam benda asing. Maka Ojek taxi ini alternatif yang lumayan bagus. Namanya juga taxi, maka kita bisa menghubungi kantor pusatnya, minta dijemput ditempat kita, dan kita kan segera jalan-jalan keliling Yogya. Tarifnya adalah 10000 rupiah untuk wilayah yang masih didalam ring road, diluar itu maka harus ditanyakan dulu pada sopir.
Untuk Pemanasan aku memilih jalan-jalan sekitar keraton, masuk kraton (yang ternyata cuma sampai pendoponya doang), ke museum kereta (yang isisnya berbagai macam kereta kuda yang dipakai sultan), ke toko-toko batik sekitar keraton, sampai ke studio dagadu.


Selepas Zuhur, aku langsung menuju Candi Prambanan, untuk ke candi prambanan, bisa ditempuh dengan trans Yogya dengan tarif 3000 rupiah. Untuk masuk kawasan Candi Prambanan kita membayar tiket masuk seharga 20000 rupiah. Di dalam kompleks candi terdapat papan berukuran besar yang menunjukkan efek gempa yang terjadi di Yogya beberapa tahun lalu terhadap Candi Prambanan, Pagar besi juga mengelilingi tiga candi utama di prambanan, karena dikhawatirkan akan semakin merusak candi tersebut.
Ternyata didalam komples candi prambanan juga terdapat candi Sewu dan Candi Lumbung, tetapi sayang, kedua candi lainnya tidak diminati wisatawan.



Untuk urusan makan, seperti yang kita tau, semakin berada di daerah wisata, harga yang ditawarkan semakin tidak masuk akal, aku sendiri merencanakan makan di tempat luar kompleks candi, apa daya, perut susah diajak kompromi, hingga siang itu aku makan nasi goreng (lagi...???) di sentar makanan dan souvenir Prambanan.


Postingan Lama