Blogger news
Serunya Jadi Wartawan "Perang"
Jadi wartawan perang...?? Karena terlalu ingin tahu gimana rasanya jadi wartawan perang, jadilah saya nekat maju ke medan perang demi mengabadikan momen yang tidak biasa itu.. Bermodal kamera digital biasa, dan google untuk antisipasi kalau-kalau kena peluru nyasar, jadilah saya wartawan perang... Wartawan Perang Paint Ball.
Mengenang kembali...
FLASHPACKER : SENI TRAVELING ABAD 21
Minggu, 07 November 2010 eza 1
ALIVE
Senin, 20 September 2010 eza my books 4
Alive, 16 Orang - 72 Hari di Neraka Salju by Piers Paul Read
My rating: 4 of 5 stars
UNLIMITED tetapi LIMITED
Sabtu, 18 September 2010 eza 0
Senangnya bukan main ketika modem pesananku datang. Mengingat empat bulan aku bolos nge-blog karena lenyapnya akses internet di rumah. Setelah beberapa kali gagal dalam menginstall modem dengan kartu GSM, akhirnya aku berhasil masuk ke dunia maya dengan menggunakan salah satu jasa operator berbekal paket unlimited.
Unlimited. Begitu katanya!. Tetapi kemudian kudapati bahwa paket yang ku beli unlimited tetapi dibatasi quota dengan kapasitas tertentu yang artinya setelah melebihi batas kuota yang ada maka speed internet menurun drastis, yang dapat membuat kesal, hilangnya kesabaran yang berujung pada di non aktifkannya modem baru yang umurnya baru beberapa hari itu. Aku tidak mengerti mengapa paket internet dengan batas atau kuota sedemikian rupa perlu sekali diberi istiliah unlimited.
Unlimited, aaihh... ku rasa penyelenggara broadband internet perlu diberi tahu lagi apa arti unlimited dalam bahasa Indonesia.
Biarkan Aku Berdiri Sendirian
Biarkan Aku Berdiri Sendirian by Rachel Corrie
My rating: 3 of 5 stars
Belajar Ikhlas
Ia adalah pengajar terbaik untuk aku, ia jarang berbicara, ia hanya sering berbuat. Ia tidak pernah berkhotbah di telingaku yang sudah bosan mendengar ceramah tanpa bukti nyata, ia hanya melakukannya. Malam ini aku duduk diteras rumahku, menunggu ia datang, menunggu sang guru datang, menunggu wajah yang selalu tenang, menunggu hati yang selalu ikhlas.
I Just Need Your Best Effort
Ini tentang Standard Kejujuran Kita
Jumat, 02 April 2010 eza In my Mind 3
INTO THE WILD
Into The Wild: Kisah Tragis Sang Petualang Muda by Jon Krakauer
My rating: 3 of 5 stars
pertama kali mendengar cerita tentang Chris McCandless dari note seorang kawan di facebook,yang baru saja traveling ke Asia Tenggara, dari sana temanku itu bertemu dengan beberapa backpacker mancanegara yang akhirnya keluarlah cerita mengenai pemuda 20 tahunan yang memutuskan meninggalkan kehidupan mapannya untuk ke Alaska, hingga ia akhirnya tewas di sana. Penasaran dengan cerita lengapnya, aku mulai berburu Into The Wild. Berbagai toko buku dari yang paling canggih sampai yang berjejer sepanjang rel kereta api di kawasan UI ku sambangi demi mendapatkan buku ini. Tetapi justru akhirnya aku dapatkan dari situs www.kutukutubuku.com
Karakter dan pola pikir Chris McCandless lah yang membuat aku bersedia berjibaku mencari buku ini, aku sangat ingin tahu apa yang ada dalam pikiran seorang lulusan universitas dengan nilai yang sangat baik, hingga ia lebih memilih meninggalkan keluarga dan harta yang dimilkinya demi petulangan solo ke alam liar Alaska. Tetapi sayang menurutku, Jon Krakauer selaku penulis buku terlalu berusaha memberikan sudut pandang yang lain terhadap orang-orang seperti Chris yang menikmati petualangan ke alam liar, Aku bahkan terganggu dengan dua bab yang khusus menceritakan perjalanan pendakian Jon sendiri, yang mungkin saja maksudnya untuk membantu pembaca memahami pola pikir Chris, tetapi hal itu justru merusak eksplorasiku terhadap karakter Chris.
Untuk buku dengan jenis yang sama (true story), aku lebih menikmati Alive yang diceritakan secara apik oleh Piers Paul Read. Meskipun Into The Wild dan Alive sama-sama memiliki kontroversi dalam kisahnya, namun Piers Paul Read tidak terjebak opini pribadi terhadap kasus Alive.
View all my reviews >>
My Name Is Khan
Senin, 29 Maret 2010 eza My Movie 4
Sudah sering aku katakan, aku orang yang sangat selektif dalam menonton film di Bioskop. Jika ceritanya biasa, murahan, picisan, terlebih nggak ada pesan kuat yang bisa aku ambil seperti film horor vulgar, yang sekarang kembali menyambangi dunia perfilman Indonesia, lebih baik tidak. My Name is Khan mungkin film yang membuat aku penasaran beberapa minggu ini, setelah aku membaca beritanya di sebuah situs, yang menyebutkan film ini menarik perhatian publik eropa. aaiihhh... film India macam apa yang bisa membuat orang-orang Eropa sana berdecak kagum?.Menurutku film ini lebih menyerupai tamparan keras bagi warga dan Pemerintah Amerika yang berkoar-koar tentang demokrasi, padahal pasca kejadian 11 september, ilmu demokrasi mereka pastilah terjun bebas ke titik hampir nol. Mereka harus lebih giat belajar dan harus lebih sering bepergian untuk melihat cakrawala yang lebih luas, dan agar mereka lebih melihat segala sesuatu dengan objektif.
Tetapi, ada beberapa hal menarik yang menjadi perhatianku selama pemutaran film ini, selama perjalanannya untuk menemui presiden, Rizvan Khan memanggul backpacknya, yang menurutku selalu terlihat kosong, padahal yang ada dibayanganku ia memnggul backpack yang menggelembung persis seperti kaum backpacker beneran. tetapi backpack Rizvan terlihat kempes, membuat aku berpikir mungkin yang ia bawa hanya buku harianya, tetapi kemudian aku berpikir lagi, kalau cuma bawa buku harian, kenapa harus bawa backpack segala 9tetapi jangan khawatir, masalah backpack ini tidak akan mengurngi keindahan film). Hal menarik lainnya adalah, dalam film ini setting waktunya adalah saat Amerika masih dipimpin Presidennya yang berkulit putih, dan pada akhir film diceritakan bahwa Amerika memulai pemilihan presiden baru, yang pada akhirnya di menangi seorang Afro Amerika, lalu apa yang menarik? yaitu kesan yang ditonjolkan sangat bertolak belakang mengenai karkater kedua Pemimpin ini, dimana presiden yang berkulit putih digambarkan sebagai karakter yang tidak peduli pada rakyatnya sendiri. sedangkan yang Afro Amerika diberi karakter penuh kepedulian pada rakyatnya, yang ditunagkan dalam kejadian banjir di salah satu kota di Amerika, membuat aku berpikir apakah penokohan seperti ini adalah memnag imej yang ditangkap para pembuat film. Dan ngomong-ngomong mengenai presiden yang berkulit hitam, seharusnya Karan Johar si Sutradara mengumumkan Audisi ke penjuru dunia, karena di sini, di Indonesia, ada tokoh yang lebih mirip Presiden berkulit berwarna pertama di Amerika itu daripada tokoh yang bermain di film.
New Idea For my another blog
Beberapa hari ini, aku memikirkan novel yang pernah aku ikutkan dalam lomba, novel yang nggak pernah menang itu pada akhirnya cuma memenuhi folder PC-ku, menunggu untuk diserang virus jahat, atau menunggu di depak adikku karena ia butuh memori besar untuk Tugas Akhirnya.
Jadi, beri aku sedikit waktu untuk merenovasi rumahku di www.eza-f.blogspot.com
pphheeewwww... I have to be patient
Kadang kita perlu waktu untuk sendiri bukan...?? mem-flash back semua yang sudah kita alami, yang sudah kita raih, hingga mengevaluasi beberapa hal yang gagal kita dapatkan.
Mengenai Saya
Categories
- In my Mind (21)
- kuliah sambil kerja (1)
- LOMBA BLOG UII (1)
- my books (3)
- my experience (4)
- My Movie (2)
- traveling (25)
