Blogger news

You are reading eza's blog

Arung Jeram Bersama Arus Liar

Terasa jadi orang beruntung banget, karena ketika lagi cekak-cekaknya, kantor punya kebijakan ngadain social gathering untuk meningkatkan kekompakan dan kerjasama sekalian bos baru mau PDKT sama kita.
Tadinya kita punya beberapa pilihan bentuk social gathering.

1. Makan-makan di rumah makan sekitar UI, tetapi nggak jadi karena kayanya kurang seru secara kita sudah tiap hari makan.
2. Ke Dufan, ya ampun ngebayanginnya saja sudah bikin males. ngantrinya itu loh...
3. Rafting di Sungai Citarik Sukabumi, walahhh ini baru OK punya. Setuju komandan... berangkat...!!

Baca selengkapnya »

Serunya Jadi Wartawan "Perang"

Jadi wartawan perang...?? Karena terlalu ingin tahu gimana rasanya jadi wartawan perang, jadilah saya nekat maju ke medan perang demi mengabadikan momen yang tidak biasa itu.. Bermodal kamera digital biasa, dan google untuk antisipasi kalau-kalau kena peluru nyasar, jadilah saya wartawan perang... Wartawan Perang Paint Ball.

Baca selengkapnya »

Mengenang kembali...

Membaca beberapa postingan asty tentang merapi, membawa aku kembali pada pengalaman traveling ke yogya akhir tahun lalu. Akhir tahun lalu, Yogya sangat ceria, sesekali turun hujan untuk menyejukkan hari yang bagi traveler seperti aku lumayan panas. Aku ingat betapa macetnya malioboro saat itu karena begitu banyaknya siswa dari luar yogya melakukan study tour ke sana. Aku ingat semua tempat yang aku kunjungi di Yogya, di mulai dari jalan-jalan di Yogya yang penuh dengan karya seni,   kawasan sekitar keraton Yogya, kemudian mampir ke Kota Gede untuk melihat pengrajin perak beraksi, melihat Candi prambanan yang cantik,  menyusuri kawasan kasongan yang dipenuhi kerajinan tradisional seperti gerabah, hingga Candi Borobudur yang luar biasa itu. Saking Semangatnya ke Borobudur, sekitar pukul 7 atau 8 pagi aku sudah berada di puncak Borobudur bersama beberapa orang lainnya yang juga sama semangatnya denganku. Ketika hari mulai terik, aku mulai keluar dari kompleks Borobudur sementara orang-orang yang baru datang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Saat itu Borobudur semarak,  penjual pernak-pernik bersemangat, dan alam bersahabat.

Baca selengkapnya »

FLASHPACKER : SENI TRAVELING ABAD 21

Sebagai seorang pekerja yang hobi jalan-jalan, sering kali masalah waktu menjadi kendala bagi keinginan untuk traveling. Bayangkan jika kita adalah tenaga kerja reguler  dengan jadwal kerja tetap senin sampai jumat dan jatah cuti cuma 12 hari per tahun bahkan kadang masih dipotong untuk cuti bersama, sehingga kita benar-benar cuma punya waktu sedikit untuk merealisasikan rencana traveling kita. Beberapa dari kita memang punya ekstra jalan keluar dengan menambah jatah cuti dengan konsekuensi potong gaji, atau kadang mendoktrin diri sendiri dengan istilah "Kerja belakangan yang penting jalan-jalan", dan berakibat keluarnya surat peringatan 1-3, tetapi bagi mereka yang bekerja demi hajat hidup orang banyak, mereka yang belum punya plan B untuk antisipasi jika di depak dari kerjaan karena terlalu sering mengajukan cuti, maka doktrin "kerja belakangan yang penting jalan-jalan" dan ekstra cuti tidak berlaku.

Baca selengkapnya »

Father

No matter what, he's always besides us...









ALIVE

Alive, 16 Orang - 72 Hari di Neraka SaljuAlive, 16 Orang - 72 Hari di Neraka Salju by Piers Paul Read
My rating: 4 of 5 stars

Alive, Menceritakan pengalaman enam belas orang yang selamat dari kecelakaan pesawat di pegunungan Andes yang sejauh mata memandang hanya terdapat salju, salju dan salju. Tidak ada tanaman yang tumbuh atau binatang yang dapat diburu untuk bertahan hidup.

Oktober 1972, Pesawat angakatan udara Uruguay terbang membawa tim Pemain Rugbi, sehingga hampir seluruh penumpang pesawat itu saling kenal satu sama lain, mengalami kecelakaan di pegunungan Andes. Mereka yang selamat memanfaatkan sisa-sisa makanan dalam badan pesawat untuk bertahan hidup. Ketika makanan mereka habis sedangkan bantuan belum kunjung tiba, mereka diharuskan untuk mengambil keputusan tersulit yang mungkin harus mereka hadapi seumur hidup mereka, yaitu memakan daging penumpang yang telah meninggal dunia, yang tidak lain merupakan teman mereka sendiri.

Baca selengkapnya »

UNLIMITED tetapi LIMITED

Senangnya bukan main ketika modem pesananku datang. Mengingat empat bulan aku bolos nge-blog karena lenyapnya akses internet di rumah. Setelah beberapa kali gagal dalam menginstall modem dengan kartu GSM, akhirnya aku berhasil masuk ke dunia maya dengan menggunakan salah satu jasa operator berbekal paket unlimited.

Unlimited. Begitu katanya!. Tetapi kemudian kudapati bahwa paket yang ku beli unlimited tetapi dibatasi quota dengan kapasitas tertentu yang artinya setelah melebihi batas kuota yang ada maka speed internet menurun drastis, yang dapat membuat kesal, hilangnya kesabaran yang berujung pada di non aktifkannya modem baru yang umurnya baru beberapa hari itu. Aku tidak mengerti mengapa paket internet dengan batas atau kuota sedemikian rupa perlu sekali diberi istiliah unlimited.

Unlimited, aaihh... ku rasa penyelenggara broadband internet perlu diberi tahu lagi apa arti unlimited dalam bahasa Indonesia.

Biarkan Aku Berdiri Sendirian

Biarkan Aku Berdiri SendirianBiarkan Aku Berdiri Sendirian by Rachel Corrie
My rating: 3 of 5 stars


Salah satu kapal yang akan mengirim bantuan ke Gaza itu bernama "Rachel Corrie" tadinya aku pikir Rachel Corrie adalah si pemilik kapal, aku pikir ia orang kaya narsis yang ingin memberitahukan kepada dunia bahwa ia pemilik kapal. Tetapi aku salah, alih-alih nama seorang jutawan, Rachel Corrie ternyata aktivis kemanusiaan yang tewas di Gaza palestina karena terlindas buldozer saat mencegah buldozer milik Israel menghancurkan rumah penduduk Gaza.

Hal menarik dari buku ini adalah memahami pola pikir seseorang yang memilih jalan hidup yang tidak biasa, terutama bagi seorang amerika seperti Rahel Corrie. Hal lainnya adalah bagaimana seorang Amerika bisa memiliki sudut pandang yang begitu berbeda tentang konflik palestina dari kebanyakan warga amerika dan pemerintahnya yang turut andil dalam konflik ini.

Baca selengkapnya »

Belajar Ikhlas

Aku menunggu datangnya wanita berkerudung itu. Sudah sebulan ia tidak mengunjungi aku. Aku rindu padanya.  Aku  ingin lebih mendengar ia bercerita tentang hidupnya yang tidak mudah. Meski begitu, sekalipun aku tidak pernah mendengar ia bertanya pada Tuhan mengapa, Ia tidak pernah mengeluhkan hidupnya yang susah, tidak pernah bersedih karena tidak bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan, aku hanya melihat ia melakukan apa saja yang bisa ia lakukan. Aku tidak tahu apa yang ia mau, tetapi ia selalu tahu apa yang orang lain butuh.

Ia adalah pengajar terbaik untuk aku, ia jarang berbicara, ia hanya sering berbuat. Ia tidak pernah berkhotbah di telingaku yang sudah bosan mendengar ceramah tanpa bukti nyata, ia hanya melakukannya. Malam ini aku duduk diteras rumahku, menunggu ia datang, menunggu sang guru datang, menunggu wajah yang selalu tenang, menunggu hati yang selalu ikhlas.


I Just Need Your Best Effort

Perhelatan Piala Uber baru saja berakhir. Korea membungkam kepongahan China, terutama pelatih Li Yongbo yang sesumbar tentang juara Uber Cup akan jatuh ke tangan China lagi Di atas kertas Seharusnya Tim China memang akan menang menilik pada prestasi individu serta peringkat atlet bulutangkisnya yang mengisi lima besar dunia. Tetapi mungkin emang dasar tidak rejeki Pemain Korea merontokan China dengan skor 3-1.

Melihat pertandingan sore tadi, hanya ada satu jawaban atas kunci keberhasilan Tim Korea, yaitu mereka gigih berjuang, persetan dengan lawannya yang nomor satu dunia, masa bodo dengan peringkatnya sendiri yang jauh diurutan 16, lawan ya lawan, yang penting berusaha, hasilnya kita lihat saja nanti.

Menanti pertandingan Final Thomas Cup besok hari anatara Indonesia melawan China, aku sangat berharap, para pahlawan olahraga ini bersedia melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk membawa pulang trofi bergengsi ini.

Ini tentang Standard Kejujuran Kita

21.30, kereta ekonomi AC jurusan Kota - Bogor pergi begitu saja meninggalkan aku dan kawanku yang sudah pontang-panting mengejarnya. Itu berarti kami harus menunggu hingga 22.20 untuk kereta terakhir jurusan Bogor, yang artinya kami masih punya waktu hampir satu jam untuk ngobrol ngalor ngidul demi membunuh waktu.

Hari itu, 27 Maret 2010, aku dan kawanku mengikuti acara 60 Earth Hour yang diadakan WWF di monas. Rencanya kami akan berkumpul dengan anggota Backpacker Murah lainnya di Monas, tetapi sayang, setelah menunggu di pintu gerbang patung kuda, kami tidak juga menemukan keberadaan anggota BM, tetapi tidak mengurangi antusias kami dalam mengikuti Earth Hour, kami tetap setia menunggu pukul 20.30 dimana saat itu secara serentak pusat kota akan mematikan lampu selama satu jam kemudian untuk menghemat energi. Tepat pukul 21.00 kami segera meninggalkan monas untuk pulang ke Bogor. pukul 21.30 kami tiba di Stasiun Kota (Stasiun Kota selalu menjadi meeting point kami kalau bepergian, bahkan mau ke Senayan pun harus lewat stasiun Kota). Dan disinilah pembicaraan kami dimulai.

Kami adalah dua orang pekerja yang tergagap-gagap menghadapi kenyataan di dunia tempat kami bekerja. Kami mulai masuk dunia kerja ini dengan polosnya. Menuruti perintah atasan, atau perintah senior tanpa memikirkan hal lainnya. Pengetahuan kami tentang dunia sekitar begitu minim, hingga kami yakin tempat ini bukan tempat yang layak untuk di korupsi atau dimanipulasi. Tetapi itu dulu, beberapa tahun silam, ketika kami masih menjadi pekerja lugu. sekarang, kami sudah lebih memahami apa yang terjadi disini. Segala kebusukan yang ada mulai tercium, dan kami jengah menghadapi semuanya, tetapi juga tidka berdaya melawan lingkungan yang sudah demikian rusak, bahkan mungkin sekarang kamilah pelakunya.

Pembicaraan ini membuat aku termenung, pikiranku kembali ke masa beberapa tahun silam ketika aku masih pendatang baru, rasanya aku memiliki standard yang tegas tentang kejujuran, orang tuaku bisa jadi merupakan korban ketidakjujuran beberapa pihak yang berusaha mencurangi golongan bawah, dengan menciptakan seribu kabar untuk membenarkan kecurangan mereka, dan saat itu, aku tahu betul bahwa itu salah, itu tidak benar, dan aku berjanji tidak akan terjadi padaku.

Tetapi sepertinya merealisasikan janji tidak semudah ketika mengikrarkannya. Lambat laun standard kejujuran makin pudar. aku makin sulit membedakan mana yang benar, wajar, atau aku sudah terjun ke jurang kebohongan. Budaya manipulasi, lingkungan yang serba kompak dalam kebusukan, terlebih lagi sulitnya jujur seorang diri, membuat standard kejujuran ini mulai melebar, mulai pudar, dan sulit dikenali.

Mungkin saja, inilah kegalauan yang dulu dialami pemuda McCandless sehingga ia memilih mengasingkan diri dalam arti yang sebenarnya karena muak dengan kemunafikan lingkungannya. McCandless jelas memilih melindungi prinsipnya dari kotoran yang dapat menodai prinsipnya sewaktu-waktu.

Mendapati dirku sekarang, terkadang aku ingin tahu apakah kelak aku bisa mengatakan "Lebih Baik Diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" seperti dulu pernah dikatakan Gie.


INTO THE WILD

Into The Wild: Kisah Tragis Sang Petualang Muda Into The Wild: Kisah Tragis Sang Petualang Muda by Jon Krakauer


My rating: 3 of 5 stars
pertama kali mendengar cerita tentang Chris McCandless dari note seorang kawan di facebook,yang baru saja traveling ke Asia Tenggara, dari sana temanku itu bertemu dengan beberapa backpacker mancanegara yang akhirnya keluarlah cerita mengenai pemuda 20 tahunan yang memutuskan meninggalkan kehidupan mapannya untuk ke Alaska, hingga ia akhirnya tewas di sana. Penasaran dengan cerita lengapnya, aku mulai berburu Into The Wild. Berbagai toko buku dari yang paling canggih sampai yang berjejer sepanjang rel kereta api di kawasan UI ku sambangi demi mendapatkan buku ini. Tetapi justru akhirnya aku dapatkan dari situs www.kutukutubuku.com

Karakter dan pola pikir Chris McCandless lah yang membuat aku bersedia berjibaku mencari buku ini, aku sangat ingin tahu apa yang ada dalam pikiran seorang lulusan universitas dengan nilai yang sangat baik, hingga ia lebih memilih meninggalkan keluarga dan harta yang dimilkinya demi petulangan solo ke alam liar Alaska. Tetapi sayang menurutku, Jon Krakauer selaku penulis buku terlalu berusaha memberikan sudut pandang yang lain terhadap orang-orang seperti Chris yang menikmati petualangan ke alam liar, Aku bahkan terganggu dengan dua bab yang khusus menceritakan perjalanan pendakian Jon sendiri, yang mungkin saja maksudnya untuk membantu pembaca memahami pola pikir Chris, tetapi hal itu justru merusak eksplorasiku terhadap karakter Chris.

Untuk buku dengan jenis yang sama (true story), aku lebih menikmati Alive yang diceritakan secara apik oleh Piers Paul Read. Meskipun Into The Wild dan Alive sama-sama memiliki kontroversi dalam kisahnya, namun Piers Paul Read tidak terjebak opini pribadi terhadap kasus Alive.

View all my reviews >>

My Name Is Khan

Sudah sering aku katakan, aku orang yang sangat selektif dalam menonton film di Bioskop. Jika ceritanya biasa, murahan, picisan, terlebih nggak ada pesan kuat yang bisa aku ambil seperti film horor vulgar, yang sekarang kembali menyambangi dunia perfilman Indonesia, lebih baik tidak. My Name is Khan mungkin film yang membuat aku penasaran beberapa minggu ini, setelah aku membaca beritanya di sebuah situs, yang menyebutkan film ini menarik perhatian publik eropa. aaiihhh... film India macam apa yang bisa membuat orang-orang Eropa sana berdecak kagum?.

Film ini menceritakan perjuangan sebuah keluarga muslim di Amerika untuk bertahan pasca peristiwa 11 september, dimana setelah kejadian itu, tingkat rasial abuse meningkat di Amerika. Mulanya dampak dari serangan teroris ini menggerogoti keuangan keluarga Khan, dimana salon kecantikan mereka bangkrut akibat kehilangan pelanggan. Tadinya aku pikir konflik keluarga ini berkisar tentang perekonomian mereka yang mulai menurun, kenyataanya tidak, mereka masih bisa bahu-membahu menghadapi "paceklik" ini. Puncak film ini adalah ketika Mandira (Kajol) kehilangan anaknya Sameer akibat perkelahian yang bersifat rasis, karena semenjak Mandira menikah dengan Rizvan Khan (Sah Rukh Khan) yang Muslim berdarah India, baik Sameer maupun Mandira mengganti nama belakang mereka dengan nama "khan" yang identik dengan nama seorang muslim, walaupun pada kenyataannya Mandira tetap seorang Hindu. Merasa bahwa kematian anaknya berhubungan dengan status ayah tirinya yang beragama islam inilah, yang membuat Mandira ingin agar Rizvan, mengatakan pada seluruh rakyat Amerika terlebih pemimpinnya, bahwa ia bukanlah seorang teroris, dan Sameer bukanlah anak seorang teroris.

Menurutku film ini lebih menyerupai tamparan keras bagi warga dan Pemerintah Amerika yang berkoar-koar tentang demokrasi, padahal pasca kejadian 11 september, ilmu demokrasi mereka pastilah terjun bebas ke titik hampir nol. Mereka harus lebih giat belajar dan harus lebih sering bepergian untuk melihat cakrawala yang lebih luas, dan agar mereka lebih melihat segala sesuatu dengan objektif.

Tetapi, ada beberapa hal menarik yang menjadi perhatianku selama pemutaran film ini, selama perjalanannya untuk menemui presiden, Rizvan Khan memanggul backpacknya, yang menurutku selalu terlihat kosong, padahal yang ada dibayanganku ia memnggul backpack yang menggelembung persis seperti kaum backpacker beneran. tetapi backpack Rizvan terlihat kempes, membuat aku berpikir mungkin yang ia bawa hanya buku harianya, tetapi kemudian aku berpikir lagi, kalau cuma bawa buku harian, kenapa harus bawa backpack segala 9tetapi jangan khawatir, masalah backpack ini tidak akan mengurngi keindahan film). Hal menarik lainnya adalah, dalam film ini setting waktunya adalah saat Amerika masih dipimpin Presidennya yang berkulit putih, dan pada akhir film diceritakan bahwa Amerika memulai pemilihan presiden baru, yang pada akhirnya di menangi seorang Afro Amerika, lalu apa yang menarik? yaitu kesan yang ditonjolkan sangat bertolak belakang mengenai karkater kedua Pemimpin ini, dimana presiden yang berkulit putih digambarkan sebagai karakter yang tidak peduli pada rakyatnya sendiri. sedangkan yang Afro Amerika diberi karakter penuh kepedulian pada rakyatnya, yang ditunagkan dalam kejadian banjir di salah satu kota di Amerika, membuat aku berpikir apakah penokohan seperti ini adalah memnag imej yang ditangkap para pembuat film. Dan ngomong-ngomong mengenai presiden yang berkulit hitam, seharusnya Karan Johar si Sutradara mengumumkan Audisi ke penjuru dunia, karena di sini, di Indonesia, ada tokoh yang lebih mirip Presiden berkulit berwarna pertama di Amerika itu daripada tokoh yang bermain di film.

Film ini lumayan panjang, berdurasi hampir 3 jam, tetapi jangan khawatir, aku sama sekali tidak mengalami bosan selama menonton aksi Shah Rukh Khan dan Kajol dalam film ini, semua adegan berlangsung apik. Ceritanya fokus, kuat dan tidak seperti film india lainnya yang mudah ditebak.


New Idea For my another blog

sebelum keliling dunia, blogku www.eza-f.blogspot.com lahir lebih dulu. Awalnya aku memang berniat untuk punya 2 blog, dimana keliling dunia khusus untuk traveling, dan blog eza-f adalah untuk mendeskripsikan pikiran-pikiranku, karena itu judulnya screen of my mind. Tetapi sayang, seiring berjalannya waktu, blog screen of My Mind justru aku anak tirikan, sekaligus menjadikan keliling dunia sebagai blog yang keluar dari protap yang sudah di putuskan sebelumnya, sehingga saat ini judul blog dan beberapa isinya terasa ada yang nggak match. tetapi ya sudah lah... nasi sudah keburu gosong. Maka aku biarkan si keliling dunia ngelantur kemana-mana, sedangkan Screen of My mind semakin terbengkalai tidak terurus.

Beberapa hari ini, aku memikirkan novel yang pernah aku ikutkan dalam lomba, novel yang nggak pernah menang itu pada akhirnya cuma memenuhi folder PC-ku, menunggu untuk diserang virus jahat, atau menunggu di depak adikku karena ia butuh memori besar untuk Tugas Akhirnya.

Blog yang terlantar dan novel yang butuh wadah untuk di intip orang lain, memunculkan ide ini. Screen Of My Mind akan ku jadikan rumah khusus beberapa karya tulis ini. Tetapi berhubung aku menulisnya membutuhkan waktu yang panjang, dan tenaga ekstra, lebih dari pada menulis di keliling dunia, maka aku perlu waktu untuk mempelajari cara agar karyaku tidak di copy orang lain begitu saja.

Jadi, beri aku sedikit waktu untuk merenovasi rumahku di www.eza-f.blogspot.com

pphheeewwww... I have to be patient

Kadang kita perlu waktu untuk sendiri bukan...?? mem-flash back semua yang sudah kita alami, yang sudah kita raih, hingga mengevaluasi beberapa hal yang gagal kita dapatkan.


Aku ingat beberapa tahun lalu. Aku sedang giat-giatnya mempertajam kemampuan berbahasa inggris, tetapi tidak lama kemudian memutuskan ikut les bahasa jepang, bahasa jepang baru sampai level basic, sudah kepincut sama bahasa perancis, baru dapat vocab perancis sekitar 200 biji, sudah ingin belajar bahasa italia. Akhirnya sekarang, bahasa inggris gak jago, bahasa jepang cuma ingat "hai" sama "arigato" aja, bahasa perancisnya juga cuma bisa ngikutin Anggun nyanyi lagunya yang versi perancis, dan bahasa italia cuma inget kata "Donna" doang.

Itu hanya sebagian cerita, tentang bagaimana aku kerap kerepotan sendiri karena terlalu banyak mau. ingin ini dan itu padahal tangan cuma punya dua, semua serba setengah-setengah.

Berkaca pada kasus ini. Saat ini aku berusaha untuk lebih bersabar. Aku sadar betul, hingga saat ini masih banyak mimpi-mimpi yang belum aku raih, tetapi rupanya aku juga harus mulai belajar realistis, membuka mata untuk mengakui dan mengukur seberapa besar kemampuan diri sendiri . Bukannya menyerah dan mengaku kalah. Tetapi kadang kita perlu mundur sebentar, me-reload amunisi, menambah perbekalan, dan menyembuhkan luka kita untuk kemudian maju lagi. Menyelesaikan apa yang menjadi prioritas. Dan -sekali lagi- bersabar untuk hal lainnya.

-semua akan indah pada saatnya-


Postingan Lebih Baru Postingan Lama