Blogger news

You are reading eza's blog

ALIVE

Alive, 16 Orang - 72 Hari di Neraka SaljuAlive, 16 Orang - 72 Hari di Neraka Salju by Piers Paul Read
My rating: 4 of 5 stars

Alive, Menceritakan pengalaman enam belas orang yang selamat dari kecelakaan pesawat di pegunungan Andes yang sejauh mata memandang hanya terdapat salju, salju dan salju. Tidak ada tanaman yang tumbuh atau binatang yang dapat diburu untuk bertahan hidup.

Oktober 1972, Pesawat angakatan udara Uruguay terbang membawa tim Pemain Rugbi, sehingga hampir seluruh penumpang pesawat itu saling kenal satu sama lain, mengalami kecelakaan di pegunungan Andes. Mereka yang selamat memanfaatkan sisa-sisa makanan dalam badan pesawat untuk bertahan hidup. Ketika makanan mereka habis sedangkan bantuan belum kunjung tiba, mereka diharuskan untuk mengambil keputusan tersulit yang mungkin harus mereka hadapi seumur hidup mereka, yaitu memakan daging penumpang yang telah meninggal dunia, yang tidak lain merupakan teman mereka sendiri.

Baca selengkapnya »

UNLIMITED tetapi LIMITED

Senangnya bukan main ketika modem pesananku datang. Mengingat empat bulan aku bolos nge-blog karena lenyapnya akses internet di rumah. Setelah beberapa kali gagal dalam menginstall modem dengan kartu GSM, akhirnya aku berhasil masuk ke dunia maya dengan menggunakan salah satu jasa operator berbekal paket unlimited.

Unlimited. Begitu katanya!. Tetapi kemudian kudapati bahwa paket yang ku beli unlimited tetapi dibatasi quota dengan kapasitas tertentu yang artinya setelah melebihi batas kuota yang ada maka speed internet menurun drastis, yang dapat membuat kesal, hilangnya kesabaran yang berujung pada di non aktifkannya modem baru yang umurnya baru beberapa hari itu. Aku tidak mengerti mengapa paket internet dengan batas atau kuota sedemikian rupa perlu sekali diberi istiliah unlimited.

Unlimited, aaihh... ku rasa penyelenggara broadband internet perlu diberi tahu lagi apa arti unlimited dalam bahasa Indonesia.

Biarkan Aku Berdiri Sendirian

Biarkan Aku Berdiri SendirianBiarkan Aku Berdiri Sendirian by Rachel Corrie
My rating: 3 of 5 stars


Salah satu kapal yang akan mengirim bantuan ke Gaza itu bernama "Rachel Corrie" tadinya aku pikir Rachel Corrie adalah si pemilik kapal, aku pikir ia orang kaya narsis yang ingin memberitahukan kepada dunia bahwa ia pemilik kapal. Tetapi aku salah, alih-alih nama seorang jutawan, Rachel Corrie ternyata aktivis kemanusiaan yang tewas di Gaza palestina karena terlindas buldozer saat mencegah buldozer milik Israel menghancurkan rumah penduduk Gaza.

Hal menarik dari buku ini adalah memahami pola pikir seseorang yang memilih jalan hidup yang tidak biasa, terutama bagi seorang amerika seperti Rahel Corrie. Hal lainnya adalah bagaimana seorang Amerika bisa memiliki sudut pandang yang begitu berbeda tentang konflik palestina dari kebanyakan warga amerika dan pemerintahnya yang turut andil dalam konflik ini.

Baca selengkapnya »

Belajar Ikhlas

Aku menunggu datangnya wanita berkerudung itu. Sudah sebulan ia tidak mengunjungi aku. Aku rindu padanya.  Aku  ingin lebih mendengar ia bercerita tentang hidupnya yang tidak mudah. Meski begitu, sekalipun aku tidak pernah mendengar ia bertanya pada Tuhan mengapa, Ia tidak pernah mengeluhkan hidupnya yang susah, tidak pernah bersedih karena tidak bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan, aku hanya melihat ia melakukan apa saja yang bisa ia lakukan. Aku tidak tahu apa yang ia mau, tetapi ia selalu tahu apa yang orang lain butuh.

Ia adalah pengajar terbaik untuk aku, ia jarang berbicara, ia hanya sering berbuat. Ia tidak pernah berkhotbah di telingaku yang sudah bosan mendengar ceramah tanpa bukti nyata, ia hanya melakukannya. Malam ini aku duduk diteras rumahku, menunggu ia datang, menunggu sang guru datang, menunggu wajah yang selalu tenang, menunggu hati yang selalu ikhlas.


I Just Need Your Best Effort

Perhelatan Piala Uber baru saja berakhir. Korea membungkam kepongahan China, terutama pelatih Li Yongbo yang sesumbar tentang juara Uber Cup akan jatuh ke tangan China lagi Di atas kertas Seharusnya Tim China memang akan menang menilik pada prestasi individu serta peringkat atlet bulutangkisnya yang mengisi lima besar dunia. Tetapi mungkin emang dasar tidak rejeki Pemain Korea merontokan China dengan skor 3-1.

Melihat pertandingan sore tadi, hanya ada satu jawaban atas kunci keberhasilan Tim Korea, yaitu mereka gigih berjuang, persetan dengan lawannya yang nomor satu dunia, masa bodo dengan peringkatnya sendiri yang jauh diurutan 16, lawan ya lawan, yang penting berusaha, hasilnya kita lihat saja nanti.

Menanti pertandingan Final Thomas Cup besok hari anatara Indonesia melawan China, aku sangat berharap, para pahlawan olahraga ini bersedia melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk membawa pulang trofi bergengsi ini.

Ini tentang Standard Kejujuran Kita

21.30, kereta ekonomi AC jurusan Kota - Bogor pergi begitu saja meninggalkan aku dan kawanku yang sudah pontang-panting mengejarnya. Itu berarti kami harus menunggu hingga 22.20 untuk kereta terakhir jurusan Bogor, yang artinya kami masih punya waktu hampir satu jam untuk ngobrol ngalor ngidul demi membunuh waktu.

Hari itu, 27 Maret 2010, aku dan kawanku mengikuti acara 60 Earth Hour yang diadakan WWF di monas. Rencanya kami akan berkumpul dengan anggota Backpacker Murah lainnya di Monas, tetapi sayang, setelah menunggu di pintu gerbang patung kuda, kami tidak juga menemukan keberadaan anggota BM, tetapi tidak mengurangi antusias kami dalam mengikuti Earth Hour, kami tetap setia menunggu pukul 20.30 dimana saat itu secara serentak pusat kota akan mematikan lampu selama satu jam kemudian untuk menghemat energi. Tepat pukul 21.00 kami segera meninggalkan monas untuk pulang ke Bogor. pukul 21.30 kami tiba di Stasiun Kota (Stasiun Kota selalu menjadi meeting point kami kalau bepergian, bahkan mau ke Senayan pun harus lewat stasiun Kota). Dan disinilah pembicaraan kami dimulai.

Kami adalah dua orang pekerja yang tergagap-gagap menghadapi kenyataan di dunia tempat kami bekerja. Kami mulai masuk dunia kerja ini dengan polosnya. Menuruti perintah atasan, atau perintah senior tanpa memikirkan hal lainnya. Pengetahuan kami tentang dunia sekitar begitu minim, hingga kami yakin tempat ini bukan tempat yang layak untuk di korupsi atau dimanipulasi. Tetapi itu dulu, beberapa tahun silam, ketika kami masih menjadi pekerja lugu. sekarang, kami sudah lebih memahami apa yang terjadi disini. Segala kebusukan yang ada mulai tercium, dan kami jengah menghadapi semuanya, tetapi juga tidka berdaya melawan lingkungan yang sudah demikian rusak, bahkan mungkin sekarang kamilah pelakunya.

Pembicaraan ini membuat aku termenung, pikiranku kembali ke masa beberapa tahun silam ketika aku masih pendatang baru, rasanya aku memiliki standard yang tegas tentang kejujuran, orang tuaku bisa jadi merupakan korban ketidakjujuran beberapa pihak yang berusaha mencurangi golongan bawah, dengan menciptakan seribu kabar untuk membenarkan kecurangan mereka, dan saat itu, aku tahu betul bahwa itu salah, itu tidak benar, dan aku berjanji tidak akan terjadi padaku.

Tetapi sepertinya merealisasikan janji tidak semudah ketika mengikrarkannya. Lambat laun standard kejujuran makin pudar. aku makin sulit membedakan mana yang benar, wajar, atau aku sudah terjun ke jurang kebohongan. Budaya manipulasi, lingkungan yang serba kompak dalam kebusukan, terlebih lagi sulitnya jujur seorang diri, membuat standard kejujuran ini mulai melebar, mulai pudar, dan sulit dikenali.

Mungkin saja, inilah kegalauan yang dulu dialami pemuda McCandless sehingga ia memilih mengasingkan diri dalam arti yang sebenarnya karena muak dengan kemunafikan lingkungannya. McCandless jelas memilih melindungi prinsipnya dari kotoran yang dapat menodai prinsipnya sewaktu-waktu.

Mendapati dirku sekarang, terkadang aku ingin tahu apakah kelak aku bisa mengatakan "Lebih Baik Diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" seperti dulu pernah dikatakan Gie.


INTO THE WILD

Into The Wild: Kisah Tragis Sang Petualang Muda Into The Wild: Kisah Tragis Sang Petualang Muda by Jon Krakauer


My rating: 3 of 5 stars
pertama kali mendengar cerita tentang Chris McCandless dari note seorang kawan di facebook,yang baru saja traveling ke Asia Tenggara, dari sana temanku itu bertemu dengan beberapa backpacker mancanegara yang akhirnya keluarlah cerita mengenai pemuda 20 tahunan yang memutuskan meninggalkan kehidupan mapannya untuk ke Alaska, hingga ia akhirnya tewas di sana. Penasaran dengan cerita lengapnya, aku mulai berburu Into The Wild. Berbagai toko buku dari yang paling canggih sampai yang berjejer sepanjang rel kereta api di kawasan UI ku sambangi demi mendapatkan buku ini. Tetapi justru akhirnya aku dapatkan dari situs www.kutukutubuku.com

Karakter dan pola pikir Chris McCandless lah yang membuat aku bersedia berjibaku mencari buku ini, aku sangat ingin tahu apa yang ada dalam pikiran seorang lulusan universitas dengan nilai yang sangat baik, hingga ia lebih memilih meninggalkan keluarga dan harta yang dimilkinya demi petulangan solo ke alam liar Alaska. Tetapi sayang menurutku, Jon Krakauer selaku penulis buku terlalu berusaha memberikan sudut pandang yang lain terhadap orang-orang seperti Chris yang menikmati petualangan ke alam liar, Aku bahkan terganggu dengan dua bab yang khusus menceritakan perjalanan pendakian Jon sendiri, yang mungkin saja maksudnya untuk membantu pembaca memahami pola pikir Chris, tetapi hal itu justru merusak eksplorasiku terhadap karakter Chris.

Untuk buku dengan jenis yang sama (true story), aku lebih menikmati Alive yang diceritakan secara apik oleh Piers Paul Read. Meskipun Into The Wild dan Alive sama-sama memiliki kontroversi dalam kisahnya, namun Piers Paul Read tidak terjebak opini pribadi terhadap kasus Alive.

View all my reviews >>

My Name Is Khan

Sudah sering aku katakan, aku orang yang sangat selektif dalam menonton film di Bioskop. Jika ceritanya biasa, murahan, picisan, terlebih nggak ada pesan kuat yang bisa aku ambil seperti film horor vulgar, yang sekarang kembali menyambangi dunia perfilman Indonesia, lebih baik tidak. My Name is Khan mungkin film yang membuat aku penasaran beberapa minggu ini, setelah aku membaca beritanya di sebuah situs, yang menyebutkan film ini menarik perhatian publik eropa. aaiihhh... film India macam apa yang bisa membuat orang-orang Eropa sana berdecak kagum?.

Film ini menceritakan perjuangan sebuah keluarga muslim di Amerika untuk bertahan pasca peristiwa 11 september, dimana setelah kejadian itu, tingkat rasial abuse meningkat di Amerika. Mulanya dampak dari serangan teroris ini menggerogoti keuangan keluarga Khan, dimana salon kecantikan mereka bangkrut akibat kehilangan pelanggan. Tadinya aku pikir konflik keluarga ini berkisar tentang perekonomian mereka yang mulai menurun, kenyataanya tidak, mereka masih bisa bahu-membahu menghadapi "paceklik" ini. Puncak film ini adalah ketika Mandira (Kajol) kehilangan anaknya Sameer akibat perkelahian yang bersifat rasis, karena semenjak Mandira menikah dengan Rizvan Khan (Sah Rukh Khan) yang Muslim berdarah India, baik Sameer maupun Mandira mengganti nama belakang mereka dengan nama "khan" yang identik dengan nama seorang muslim, walaupun pada kenyataannya Mandira tetap seorang Hindu. Merasa bahwa kematian anaknya berhubungan dengan status ayah tirinya yang beragama islam inilah, yang membuat Mandira ingin agar Rizvan, mengatakan pada seluruh rakyat Amerika terlebih pemimpinnya, bahwa ia bukanlah seorang teroris, dan Sameer bukanlah anak seorang teroris.

Menurutku film ini lebih menyerupai tamparan keras bagi warga dan Pemerintah Amerika yang berkoar-koar tentang demokrasi, padahal pasca kejadian 11 september, ilmu demokrasi mereka pastilah terjun bebas ke titik hampir nol. Mereka harus lebih giat belajar dan harus lebih sering bepergian untuk melihat cakrawala yang lebih luas, dan agar mereka lebih melihat segala sesuatu dengan objektif.

Tetapi, ada beberapa hal menarik yang menjadi perhatianku selama pemutaran film ini, selama perjalanannya untuk menemui presiden, Rizvan Khan memanggul backpacknya, yang menurutku selalu terlihat kosong, padahal yang ada dibayanganku ia memnggul backpack yang menggelembung persis seperti kaum backpacker beneran. tetapi backpack Rizvan terlihat kempes, membuat aku berpikir mungkin yang ia bawa hanya buku harianya, tetapi kemudian aku berpikir lagi, kalau cuma bawa buku harian, kenapa harus bawa backpack segala 9tetapi jangan khawatir, masalah backpack ini tidak akan mengurngi keindahan film). Hal menarik lainnya adalah, dalam film ini setting waktunya adalah saat Amerika masih dipimpin Presidennya yang berkulit putih, dan pada akhir film diceritakan bahwa Amerika memulai pemilihan presiden baru, yang pada akhirnya di menangi seorang Afro Amerika, lalu apa yang menarik? yaitu kesan yang ditonjolkan sangat bertolak belakang mengenai karkater kedua Pemimpin ini, dimana presiden yang berkulit putih digambarkan sebagai karakter yang tidak peduli pada rakyatnya sendiri. sedangkan yang Afro Amerika diberi karakter penuh kepedulian pada rakyatnya, yang ditunagkan dalam kejadian banjir di salah satu kota di Amerika, membuat aku berpikir apakah penokohan seperti ini adalah memnag imej yang ditangkap para pembuat film. Dan ngomong-ngomong mengenai presiden yang berkulit hitam, seharusnya Karan Johar si Sutradara mengumumkan Audisi ke penjuru dunia, karena di sini, di Indonesia, ada tokoh yang lebih mirip Presiden berkulit berwarna pertama di Amerika itu daripada tokoh yang bermain di film.

Film ini lumayan panjang, berdurasi hampir 3 jam, tetapi jangan khawatir, aku sama sekali tidak mengalami bosan selama menonton aksi Shah Rukh Khan dan Kajol dalam film ini, semua adegan berlangsung apik. Ceritanya fokus, kuat dan tidak seperti film india lainnya yang mudah ditebak.


New Idea For my another blog

sebelum keliling dunia, blogku www.eza-f.blogspot.com lahir lebih dulu. Awalnya aku memang berniat untuk punya 2 blog, dimana keliling dunia khusus untuk traveling, dan blog eza-f adalah untuk mendeskripsikan pikiran-pikiranku, karena itu judulnya screen of my mind. Tetapi sayang, seiring berjalannya waktu, blog screen of My Mind justru aku anak tirikan, sekaligus menjadikan keliling dunia sebagai blog yang keluar dari protap yang sudah di putuskan sebelumnya, sehingga saat ini judul blog dan beberapa isinya terasa ada yang nggak match. tetapi ya sudah lah... nasi sudah keburu gosong. Maka aku biarkan si keliling dunia ngelantur kemana-mana, sedangkan Screen of My mind semakin terbengkalai tidak terurus.

Beberapa hari ini, aku memikirkan novel yang pernah aku ikutkan dalam lomba, novel yang nggak pernah menang itu pada akhirnya cuma memenuhi folder PC-ku, menunggu untuk diserang virus jahat, atau menunggu di depak adikku karena ia butuh memori besar untuk Tugas Akhirnya.

Blog yang terlantar dan novel yang butuh wadah untuk di intip orang lain, memunculkan ide ini. Screen Of My Mind akan ku jadikan rumah khusus beberapa karya tulis ini. Tetapi berhubung aku menulisnya membutuhkan waktu yang panjang, dan tenaga ekstra, lebih dari pada menulis di keliling dunia, maka aku perlu waktu untuk mempelajari cara agar karyaku tidak di copy orang lain begitu saja.

Jadi, beri aku sedikit waktu untuk merenovasi rumahku di www.eza-f.blogspot.com

pphheeewwww... I have to be patient

Kadang kita perlu waktu untuk sendiri bukan...?? mem-flash back semua yang sudah kita alami, yang sudah kita raih, hingga mengevaluasi beberapa hal yang gagal kita dapatkan.


Aku ingat beberapa tahun lalu. Aku sedang giat-giatnya mempertajam kemampuan berbahasa inggris, tetapi tidak lama kemudian memutuskan ikut les bahasa jepang, bahasa jepang baru sampai level basic, sudah kepincut sama bahasa perancis, baru dapat vocab perancis sekitar 200 biji, sudah ingin belajar bahasa italia. Akhirnya sekarang, bahasa inggris gak jago, bahasa jepang cuma ingat "hai" sama "arigato" aja, bahasa perancisnya juga cuma bisa ngikutin Anggun nyanyi lagunya yang versi perancis, dan bahasa italia cuma inget kata "Donna" doang.

Itu hanya sebagian cerita, tentang bagaimana aku kerap kerepotan sendiri karena terlalu banyak mau. ingin ini dan itu padahal tangan cuma punya dua, semua serba setengah-setengah.

Berkaca pada kasus ini. Saat ini aku berusaha untuk lebih bersabar. Aku sadar betul, hingga saat ini masih banyak mimpi-mimpi yang belum aku raih, tetapi rupanya aku juga harus mulai belajar realistis, membuka mata untuk mengakui dan mengukur seberapa besar kemampuan diri sendiri . Bukannya menyerah dan mengaku kalah. Tetapi kadang kita perlu mundur sebentar, me-reload amunisi, menambah perbekalan, dan menyembuhkan luka kita untuk kemudian maju lagi. Menyelesaikan apa yang menjadi prioritas. Dan -sekali lagi- bersabar untuk hal lainnya.

-semua akan indah pada saatnya-


Malam Mingguan di Kota Tua Jakarta

Ke kota tua lagi...??? yup... ke kota tua lagi... kali ini bukan cuma melihat gedung-gedung tua yang jadi saksi sejarah atau ikut beraksi di pawai barongsai. Sabtu malam 13 maret 2010, Pemerintah DKI Jakarta, British Council, dan KADIN serta beberapa sponsor lainnya mengadakan acara bertajuk "transformasi Kota Tua menjadi Ruang kreative". Walaupun sabtu itu masih harus gawe, tapi tetap bela-belain berangkat ke Kota Tua karena penasaran sama acaranya, yang digadang-gadang akan seru. Dari berita yang aku dapat, serunya acara itu karena akan ada pentas seni berupa video mapping 3D, apa sih tuh...??? penasaran... makanya langsung cabut ke Jakarta modal 1500 perak naik kereta ekonomi... yiipiieee...

Aku baru tiba di Museum Fatahillah sekitar 18.45. Marching Band dari Mandiri Heritage Bank Mandiri sedang beratraksi. Dibelakang mereka, Museum Ftahillah yang tua berubah menjadi objek yang lebih menarik karena sentuhan video mapping. Aku baru tahu, kalau video mapping yang dimaksud adalah semacam film yang diputar, tetapi layar putih lebar sebagai displaynya digantikan oleh dinding-dinding museum fatahillah. karena dinding museum ikut menjadi bagian dari film, maka menurut yang punya gawean, dibutuhkan data mengenai ukuran Museum yang presisi, sehingga video mappingnya benar-benar hidup, sehingga timbul adegan beberapa orang membatik dinding depan museum, atau orang yang meloncati jendela-jendela museum, atau yang nggak aklah keren adegan "robohnya" museum. hmmm... bukan cuma berseni, tetapi berteknologi.


Aslinya Museum Fatahillah


Setelah di video mapping, begini jadinya...


Sebenarnya, banyak tampilan-tampilan bagus pada pemutaran video mapping. sayang kameraku kurang bisa menangkap semua tampilan tersebut, alhasil cuma ini yang aku dapat.

HORRIBLE MOMENT

Aku terpaksa menghabiskan waktu, berlama-lama untuk mencoba memahami puzzle yang belum sempurna ini. Atau berpikir keras, mencari-cari kepingan teka-teki yang belum aku temukan. Tetapi ini seperti labirin hebat yang menghabiskan energi. Dan aku kepayahan.

Mungkin sebaiknya aku menangis saja. Memberi sedikit kelegaan untuk otakku yang sudah penat. Keluar sebentar untuk mempercepat sirkulasi udara. apa saja, asal aku bisa tidur nyenyak malam ini.

Pangandaran : Traveling ke Kampung Halaman Yayan

Sekitar tahun 2008. Ssetelah sempat dihinggapi perasaan ragu-ragu untuk berangkat, akhirnya kami berlima Aku, Esa, Imran, Ayu, dan boyan berangkat ke Pangandaran. Anehnya sebelum menuju pangandaran, kami punya beberapa alternatif dan ide konyol untuk mengisi weekend saat itu, salah satunya adalah ngegembel ke bandung sambil ngamen, walau akhirnya tidak jadi dan tujuan di tetapkan ke Pangandaran, berhubung Kampung Halamaan Yayan di sana, maka kami tidak perlu ngegembel dan dapat traveling dengan layak.



Perjalanan dimulai dari Terminal Depok, Bus Budiman yang kami tumpangi berangkat sekitar jam 21.30 WIB. KAmi hanya perlu mebayar 40ribu rupiah untuk perjalanan ke Pangandaran di kelas ekonomi. Syukurnya. perjalanan lumayan lancar. Dan kami berhenti di Kali Pucang, rumah yayan, dimana ibunya sudah menyiapkan sarapan berupa ikan asin dan sambal terasi yang nikmat sedap dan mantap...

Setelah istirahat sekitar 1 jam, kami segera menuju ke Pantai Pangandaran, dengan menggunakan angkutan umum berupa elf, tetapi aku lupa berapa rupiah yang kami bayarkan untuk sampai ke Pangandaran dari Kali Pucang.

Sampai di Gerbang Pangandaran, kami mampir ke sebuah mini mart untuk membeli beberapa makanan ringan, miuman dan sunblock yang tidak pernah kami pakai. Selanjutnya kami menuju Pantai menggunakan Delman (aku juga lupa berapa biaya delman ini). Saat itu adalah beberapa bulan setelah Tsunami menerjang kawasan Pangandaran. Suasanya sepi sekali. Beberapa bangunan yang roboh akbiat Tsunami belum dibangun kembali. Tetapi itu justru menjadi keuntungan bagi kami, pasalnya harga barang-barang seperti baju khas Pangandaran, makanan, dan sewa perahu menjadi harga normal. Tidak seperti daerah wisata umumnya yang harganya bisa beberapa kali harga normal.

Dari pantai, kami ditawari oleh seorang tukang perahu untuk menyebrang sampai ke Pasir Putih, sebuah Cagar Alam dengan pantai pasir putihnya yang mantap, sekalian mengintip batu hiu yang menurutku nggak mirip hiu sama sekali. setelah tawar menawar, kami akhirnya sepakat menumpang kapal nelayan ini untuk sampai ke Pasir putih.

Sebagai kawasan Cagar Alam, wajar saja jika disana banyak binatang sejenis monyet yang hidup bebas, saking bebasnya, beberapa kali mereka mencoba mencuri bekal makanan kami, hingga beberapa kali kami harus main kucing-kucingan dengan mamalia yang satu ini. Kadang muncul binatang sejenis rusa yang cantik tetapi malu-malu, sehingga setiap kali kami mau ambil fotonya, si Rusa sudah ambil langkah seribu. Air di pasir putih snagat jernih, dan bersihnya melebihi dugaanku. Menurut pemilik perahu yang kami tumpangi, sebelum terjadi tsunami pantai ini sedikit kotor, membutaku harus bersyukur karena kami datang disaat yang tepat. Menurut penduduk setempat ada banyak gua-gua alam di kawasan cagar alam pasir putih. Tetapi karena tidka ada persiapan trekking, akhirnya kami menolak tawaran untuk ke gua alam tersebut

Dan kegembiraanpun dimulai, snorkeling, Mengubur orang dalam pasir, makan rujak di pantai dan melihat beberpa turis bule beraksi membuat hari itu terasa pendek.


Puas bermain seharian di pantai, kami segera kembali ke rumah Yayan. sayang kami tidak sempat mengunjungi Grand Canyon padahal yayan sudah merekomendasikannya. Bus executice seharga 60 ribu Jurusan Pangandaran - Kampung Rambutan membawa kami kembali ke Jakarta. Sedikit hiburan, dalam bis executive tersebut hanya ada sedikit penumpang sehingga, kami bebas, sebebeas-bebasnya mengambil kursi manapun yang kami mau...

Semangat, Riri...!!!


Riri, gadis tomboy 19 tahun itu sudah ku kenal sejak beberapa tahun silam, saat itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar, masih suka main futsal, dan masih menjadi santri di Taman Pendidikan Alquran tempat kakakku mengajar. Seperti gadis tomboy lainnya, jalannya gagah seperti laki-laki, aku tidak pernah sekalipun melihatnya memakai pakaian agak sedikit feminin, pakaian kebesarnnya bergaya casual, dengan kaos sebagai andalannya, dan potongan rambutnya selalu pendek, Riri pernah memanjangkan rambutnya hingga sebahu ketika masuk usia ABG :D.

Aku teringat kejadian sekitar tahun 2004, saat itu Riri baru lulus SD dan mengingat ia anak yang berprestasi kami yakin Riri bisa masuk SMP negeri unggulan di kota Depok. sayangnya, saat itu adalah ketika sistem penerimaan siswa baru diubah dari berdasarkan NEM, menjadi tes internal sekolah. Dulu ketika masih berdasarkan NEM kita dengan mudah memastikan ada kecurangan atau tidak. Proses yang terjadi dengan sistem ini adalah NEM para calon siswa di daftar, jika kapasitas sekolah 400 orang maka siswa yang diterima adalah 400 orang yang memiliki NEM tertinggi. Pada akhirnya kita mengetahui berapa NEM minimal yang diterima di sekolah tersebut.

Berbeda dengan sistem penerimaan siswa dengan seleksi internal. Setelah melewati UAN, para siswa harus menempuh ujian masuk yang diselenggarakan internal sekolah. sehingga yang diterima adalah mereka yang memiliki nilai ujian masuk tertinggi. Nilai yang kita tidak bisa kontrol sama sekali.

Meskipun kami yakin Riri bisa menembus ujian masuk tersebut pada akhirnya kami mendengar Riri gagal masuk ke SMP favorit itu. Ternyata bukan hanya kami yang tidak percaya pada hasil tes tersebut, masih banyak orang tua lainnya yang meragukan kejujuran tes ini. Alasan yang dilontarkan pihak sekolah adalah mungkin saja, ketika Ujian Nasional si anak belajar dan ketika ujian masuk SMP anak tersebut tidak belajar. Alasan yang aneh mengingat siswa yang diprediksi masuk banyak yang gagal, kebetulan yang aneh kan...??. Tetapi apa daya, orang-orang seperti Riri hanya bisa pasrah pada tindak-tanduk orang-orang yang diragukan kejujurannya, gagal masuk ke SMP negeri, Riri terpaksa masuk ke SMP swasta.

Lulus SMA, Riri memilih masuk program diploma 3 di perguruan tinggi di kota Bogor. Darinya, aku tahu kalau biaya kuliah di sana mencapai 3 juta rupiah per semester, belum lagi uang yang dibayarkan sebagai uang masuk. Jumlah yang menurutku sangat besar untuk ukuran perguruan tinggi negeri. Bukan perkara mudah mencari uang 3 juta per enam bulan. itu belum termasuk ongkos, foto kopi, membuat makalah dan tetek bengek lainnya, yang membuat biaya pendidikan tinggi tidak murah. Tidak cukup sampai di situ, telat sehari dari jadwal yang ditetapkan membuat para mahasiswa ditambah bebannya dengan membayar denda. Seperti yang Riri ceritakan. Ayahnya terpaksa membayar denda 300 ribu rupiah, karena terlambat membayar uang semester sebesar 3 juta rupiah. Aku terheran-heran pada denda ini. Karena Riri kuliah di perguruan tinggi negeri. Aku saja yang kuliah di swasta sekalipun tidak pernah kena denda padahal hampir tiap semester aku terlambat membayar uang semester.

Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk Riri selain bersimpatik. Aku harap ia masih bisa menyelesaikan kuliahnya dan tidak menyerah ditengah sistem pendidikan Indonesia yang masih saja carut marut. aku hanya bisa terus memberinya semangat... Semangat Riri...!!!


Angkot dan Sepatuku

Bagi orang-orang seperti aku yang pekerja, mereka yang pelajar serta mahasiswa, naik turun angkot adalah hal yang sudah menjadi rutinitas. Saking dikerjakan setiap harinya, sampai ada beberapa hal yang ku anggap sebagai gangguan tetap yang terjadi secara berkala, seperti sopir angkot yang nge-tem terlalu lama, atau kebiasaan penumpang angkot yang malas turun naik di halte, sehingga membuat para sopir mengambil blunder untuk kucing-kucingan dengan polisi dan berisiko kena tilang demi tambahan setoran 3000 perak.

Model gangguan lainnya adalah cara penumpang duduk di angkot, mbak-mbak yang pakai rok pendek sering menghabiskan tempat dengan dengan duduk serong 45 derajat, atau bapak-bapak yang duduk melebar membentuk sudut 60 derajat, juga kalau angkot penuh, dan tinggal menyisakan satu kursi lagi, penumpang terakhir ini harus susah payah nge-rangsek sampai ke pojok karena penumpang yang sudah ada tidak mau geser ke dalam.

Senin pagi, aku sengaja mencari angkot yang sudah hampir penuh agar waktu tidak habis karena acara nge-tem. Dan sepeti biasa, penumpang yang sudah di dalam enggan geser sehingga aku susah payah mencari tempat duduk ku di pojok sana. Sudah sempit, ditambah lagi Si sopir sudah tancap gas kembali karena dari belakang polisi sudah membelalakkan mata, membuata persoalan sepele seperti naik angkot jadi bikin emosi

Setelah diperhatikan ternyata penumpang angkot sebagian besar adalah karyawan pabrik elektronik di Jalan Raya Bogor yang aku perkirakan baru saja pulang shift 3. di depanku dua orang pelajar SMA dan ibu yang baru pulang dari pasar. Tepat disebelahku adalah wanita cantik dengan penampilan modis, rok span super pendek dan kakinya hanya dibungkus sandal yang banyak lilitan talinya mirip sandal yang dipakai prajurit Roma dalam film Gladiator dan tampak seperti pegawai bank.

Karena kesal sudah merusak pagi yang seharusnya semangat ini, aku melangkah garang keluar dari angkot hingga aku menginjak kaki si pegawai bank. Sial buat si pegawai bank , aku lupa kalau pagi itu aku berangkat kerja menggunakan sepatu safety dengan pengaman dari besi yang dideaign untuk menahan beban puluhan kilo yang juga dipakai oleh satpam, polisi, tentara atau pekerja bangunan. Terinjak sepatu model ini tentu saja membuatnya menjerit sekeras-kerasnya apa lagi kakinya cuma dilindungi lilitan tali ala prajurit roma itu.aku yang sudah di luar angkot tidak peduli dan terus melaju menuju tempat kerja.

Sesaat setelah turun dari angkot, aku tersenyum lebar, tanpa sengaja aku telah memberi pelajaran pada penumpang angkot lainnya yang suka seenaknya sendiri.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama