Blogger news
INTO THE WILD
Into The Wild: Kisah Tragis Sang Petualang Muda by Jon Krakauer
My rating: 3 of 5 stars
pertama kali mendengar cerita tentang Chris McCandless dari note seorang kawan di facebook,yang baru saja traveling ke Asia Tenggara, dari sana temanku itu bertemu dengan beberapa backpacker mancanegara yang akhirnya keluarlah cerita mengenai pemuda 20 tahunan yang memutuskan meninggalkan kehidupan mapannya untuk ke Alaska, hingga ia akhirnya tewas di sana. Penasaran dengan cerita lengapnya, aku mulai berburu Into The Wild. Berbagai toko buku dari yang paling canggih sampai yang berjejer sepanjang rel kereta api di kawasan UI ku sambangi demi mendapatkan buku ini. Tetapi justru akhirnya aku dapatkan dari situs www.kutukutubuku.com
Karakter dan pola pikir Chris McCandless lah yang membuat aku bersedia berjibaku mencari buku ini, aku sangat ingin tahu apa yang ada dalam pikiran seorang lulusan universitas dengan nilai yang sangat baik, hingga ia lebih memilih meninggalkan keluarga dan harta yang dimilkinya demi petulangan solo ke alam liar Alaska. Tetapi sayang menurutku, Jon Krakauer selaku penulis buku terlalu berusaha memberikan sudut pandang yang lain terhadap orang-orang seperti Chris yang menikmati petualangan ke alam liar, Aku bahkan terganggu dengan dua bab yang khusus menceritakan perjalanan pendakian Jon sendiri, yang mungkin saja maksudnya untuk membantu pembaca memahami pola pikir Chris, tetapi hal itu justru merusak eksplorasiku terhadap karakter Chris.
Untuk buku dengan jenis yang sama (true story), aku lebih menikmati Alive yang diceritakan secara apik oleh Piers Paul Read. Meskipun Into The Wild dan Alive sama-sama memiliki kontroversi dalam kisahnya, namun Piers Paul Read tidak terjebak opini pribadi terhadap kasus Alive.
View all my reviews >>
My Name Is Khan
Senin, 29 Maret 2010 eza My Movie 4
Sudah sering aku katakan, aku orang yang sangat selektif dalam menonton film di Bioskop. Jika ceritanya biasa, murahan, picisan, terlebih nggak ada pesan kuat yang bisa aku ambil seperti film horor vulgar, yang sekarang kembali menyambangi dunia perfilman Indonesia, lebih baik tidak. My Name is Khan mungkin film yang membuat aku penasaran beberapa minggu ini, setelah aku membaca beritanya di sebuah situs, yang menyebutkan film ini menarik perhatian publik eropa. aaiihhh... film India macam apa yang bisa membuat orang-orang Eropa sana berdecak kagum?.Menurutku film ini lebih menyerupai tamparan keras bagi warga dan Pemerintah Amerika yang berkoar-koar tentang demokrasi, padahal pasca kejadian 11 september, ilmu demokrasi mereka pastilah terjun bebas ke titik hampir nol. Mereka harus lebih giat belajar dan harus lebih sering bepergian untuk melihat cakrawala yang lebih luas, dan agar mereka lebih melihat segala sesuatu dengan objektif.
Tetapi, ada beberapa hal menarik yang menjadi perhatianku selama pemutaran film ini, selama perjalanannya untuk menemui presiden, Rizvan Khan memanggul backpacknya, yang menurutku selalu terlihat kosong, padahal yang ada dibayanganku ia memnggul backpack yang menggelembung persis seperti kaum backpacker beneran. tetapi backpack Rizvan terlihat kempes, membuat aku berpikir mungkin yang ia bawa hanya buku harianya, tetapi kemudian aku berpikir lagi, kalau cuma bawa buku harian, kenapa harus bawa backpack segala 9tetapi jangan khawatir, masalah backpack ini tidak akan mengurngi keindahan film). Hal menarik lainnya adalah, dalam film ini setting waktunya adalah saat Amerika masih dipimpin Presidennya yang berkulit putih, dan pada akhir film diceritakan bahwa Amerika memulai pemilihan presiden baru, yang pada akhirnya di menangi seorang Afro Amerika, lalu apa yang menarik? yaitu kesan yang ditonjolkan sangat bertolak belakang mengenai karkater kedua Pemimpin ini, dimana presiden yang berkulit putih digambarkan sebagai karakter yang tidak peduli pada rakyatnya sendiri. sedangkan yang Afro Amerika diberi karakter penuh kepedulian pada rakyatnya, yang ditunagkan dalam kejadian banjir di salah satu kota di Amerika, membuat aku berpikir apakah penokohan seperti ini adalah memnag imej yang ditangkap para pembuat film. Dan ngomong-ngomong mengenai presiden yang berkulit hitam, seharusnya Karan Johar si Sutradara mengumumkan Audisi ke penjuru dunia, karena di sini, di Indonesia, ada tokoh yang lebih mirip Presiden berkulit berwarna pertama di Amerika itu daripada tokoh yang bermain di film.
New Idea For my another blog
Beberapa hari ini, aku memikirkan novel yang pernah aku ikutkan dalam lomba, novel yang nggak pernah menang itu pada akhirnya cuma memenuhi folder PC-ku, menunggu untuk diserang virus jahat, atau menunggu di depak adikku karena ia butuh memori besar untuk Tugas Akhirnya.
Jadi, beri aku sedikit waktu untuk merenovasi rumahku di www.eza-f.blogspot.com
pphheeewwww... I have to be patient
Kadang kita perlu waktu untuk sendiri bukan...?? mem-flash back semua yang sudah kita alami, yang sudah kita raih, hingga mengevaluasi beberapa hal yang gagal kita dapatkan.
Malam Mingguan di Kota Tua Jakarta
Minggu, 14 Maret 2010 eza traveling 2
Setelah di video mapping, begini jadinya...
Sebenarnya, banyak tampilan-tampilan bagus pada pemutaran video mapping. sayang kameraku kurang bisa menangkap semua tampilan tersebut, alhasil cuma ini yang aku dapat.
HORRIBLE MOMENT
Aku terpaksa menghabiskan waktu, berlama-lama untuk mencoba memahami puzzle yang belum sempurna ini. Atau berpikir keras, mencari-cari kepingan teka-teki yang belum aku temukan. Tetapi ini seperti labirin hebat yang menghabiskan energi. Dan aku kepayahan.
Mungkin sebaiknya aku menangis saja. Memberi sedikit kelegaan untuk otakku yang sudah penat. Keluar sebentar untuk mempercepat sirkulasi udara. apa saja, asal aku bisa tidur nyenyak malam ini.
Pangandaran : Traveling ke Kampung Halaman Yayan
Senin, 08 Maret 2010 eza traveling 6
Sekitar tahun 2008. Ssetelah sempat dihinggapi perasaan ragu-ragu untuk berangkat, akhirnya kami berlima Aku, Esa, Imran, Ayu, dan boyan berangkat ke Pangandaran. Anehnya sebelum menuju pangandaran, kami punya beberapa alternatif dan ide konyol untuk mengisi weekend saat itu, salah satunya adalah ngegembel ke bandung sambil ngamen, walau akhirnya tidak jadi dan tujuan di tetapkan ke Pangandaran, berhubung Kampung Halamaan Yayan di sana, maka kami tidak perlu ngegembel dan dapat traveling dengan layak.
Perjalanan dimulai dari Terminal Depok, Bus Budiman yang kami tumpangi berangkat sekitar jam 21.30 WIB. KAmi hanya perlu mebayar 40ribu rupiah untuk perjalanan ke Pangandaran di kelas ekonomi. Syukurnya. perjalanan lumayan lancar. Dan kami berhenti di Kali Pucang, rumah yayan, dimana ibunya sudah menyiapkan sarapan berupa ikan asin dan sambal terasi yang nikmat sedap dan mantap...
Setelah istirahat sekitar 1 jam, kami segera menuju ke Pantai Pangandaran, dengan menggunakan angkutan umum berupa elf, tetapi aku lupa berapa rupiah yang kami bayarkan untuk sampai ke Pangandaran dari Kali Pucang.
Sampai di Gerbang Pangandaran, kami mampir ke sebuah mini mart untuk membeli beberapa makanan ringan, miuman dan sunblock yang tidak pernah kami pakai. Selanjutnya kami menuju Pantai menggunakan Delman (aku juga lupa berapa biaya delman ini). Saat itu adalah beberapa bulan setelah Tsunami menerjang kawasan Pangandaran. Suasanya sepi sekali. Beberapa bangunan yang roboh akbiat Tsunami belum dibangun kembali. Tetapi itu justru menjadi keuntungan bagi kami, pasalnya harga barang-barang seperti baju khas Pangandaran, makanan, dan sewa perahu menjadi harga normal. Tidak seperti daerah wisata umumnya yang harganya bisa beberapa kali harga normal.
Dari pantai, kami ditawari oleh seorang tukang perahu untuk menyebrang sampai ke Pasir Putih, sebuah Cagar Alam dengan pantai pasir putihnya yang mantap, sekalian mengintip batu hiu yang menurutku nggak mirip hiu sama sekali. setelah tawar menawar, kami akhirnya sepakat menumpang kapal nelayan ini untuk sampai ke Pasir putih.
Sebagai kawasan Cagar Alam, wajar saja jika disana banyak binatang sejenis monyet yang hidup bebas, saking bebasnya, beberapa kali mereka mencoba mencuri bekal makanan kami, hingga beberapa kali kami harus main kucing-kucingan dengan mamalia yang satu ini. Kadang muncul binatang sejenis rusa yang cantik tetapi malu-malu, sehingga setiap kali kami mau ambil fotonya, si Rusa sudah ambil langkah seribu. Air di pasir putih snagat jernih, dan bersihnya melebihi dugaanku. Menurut pemilik perahu yang kami tumpangi, sebelum terjadi tsunami pantai ini sedikit kotor, membutaku harus bersyukur karena kami datang disaat yang tepat. Menurut penduduk setempat ada banyak gua-gua alam di kawasan cagar alam pasir putih. Tetapi karena tidka ada persiapan trekking, akhirnya kami menolak tawaran untuk ke gua alam tersebut
Dan kegembiraanpun dimulai, snorkeling, Mengubur orang dalam pasir, makan rujak di pantai dan melihat beberpa turis bule beraksi membuat hari itu terasa pendek.





Puas bermain seharian di pantai, kami segera kembali ke rumah Yayan. sayang kami tidak sempat mengunjungi Grand Canyon padahal yayan sudah merekomendasikannya. Bus executice seharga 60 ribu Jurusan Pangandaran - Kampung Rambutan membawa kami kembali ke Jakarta. Sedikit hiburan, dalam bis executive tersebut hanya ada sedikit penumpang sehingga, kami bebas, sebebeas-bebasnya mengambil kursi manapun yang kami mau...
Semangat, Riri...!!!
Minggu, 28 Februari 2010 eza 4
Berbeda dengan sistem penerimaan siswa dengan seleksi internal. Setelah melewati UAN, para siswa harus menempuh ujian masuk yang diselenggarakan internal sekolah. sehingga yang diterima adalah mereka yang memiliki nilai ujian masuk tertinggi. Nilai yang kita tidak bisa kontrol sama sekali.
Meskipun kami yakin Riri bisa menembus ujian masuk tersebut pada akhirnya kami mendengar Riri gagal masuk ke SMP favorit itu. Ternyata bukan hanya kami yang tidak percaya pada hasil tes tersebut, masih banyak orang tua lainnya yang meragukan kejujuran tes ini. Alasan yang dilontarkan pihak sekolah adalah mungkin saja, ketika Ujian Nasional si anak belajar dan ketika ujian masuk SMP anak tersebut tidak belajar. Alasan yang aneh mengingat siswa yang diprediksi masuk banyak yang gagal, kebetulan yang aneh kan...??. Tetapi apa daya, orang-orang seperti Riri hanya bisa pasrah pada tindak-tanduk orang-orang yang diragukan kejujurannya, gagal masuk ke SMP negeri, Riri terpaksa masuk ke SMP swasta.
Lulus SMA, Riri memilih masuk program diploma 3 di perguruan tinggi di kota Bogor. Darinya, aku tahu kalau biaya kuliah di sana mencapai 3 juta rupiah per semester, belum lagi uang yang dibayarkan sebagai uang masuk. Jumlah yang menurutku sangat besar untuk ukuran perguruan tinggi negeri. Bukan perkara mudah mencari uang 3 juta per enam bulan. itu belum termasuk ongkos, foto kopi, membuat makalah dan tetek bengek lainnya, yang membuat biaya pendidikan tinggi tidak murah. Tidak cukup sampai di situ, telat sehari dari jadwal yang ditetapkan membuat para mahasiswa ditambah bebannya dengan membayar denda. Seperti yang Riri ceritakan. Ayahnya terpaksa membayar denda 300 ribu rupiah, karena terlambat membayar uang semester sebesar 3 juta rupiah. Aku terheran-heran pada denda ini. Karena Riri kuliah di perguruan tinggi negeri. Aku saja yang kuliah di swasta sekalipun tidak pernah kena denda padahal hampir tiap semester aku terlambat membayar uang semester.
Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk Riri selain bersimpatik. Aku harap ia masih bisa menyelesaikan kuliahnya dan tidak menyerah ditengah sistem pendidikan Indonesia yang masih saja carut marut. aku hanya bisa terus memberinya semangat... Semangat Riri...!!!
Angkot dan Sepatuku
Senin, 22 Februari 2010 eza my experience 5
Sesaat setelah turun dari angkot, aku tersenyum lebar, tanpa sengaja aku telah memberi pelajaran pada penumpang angkot lainnya yang suka seenaknya sendiri.
MEREKA BILANG, INI BUKAN ZAMAN SITI NURBAYA
Minggu, 21 Februari 2010 eza In my Mind, my experience 6
Berawal dari curahan hati Nina, ia beberapa hari ini kerap pulang lebih malam demi menghindari obrolan dengan orangtuanya yang berkaitan dengan perjodohan. Pasalnya, saat umurnya menginjak 28 tahun ia belum menemukan pendamping hidup yang membuat kedua orangtuanya berinisiatif mengenalkan nina dengan Pemuda yang sudah mereka kenal. Baru saja sebatas wacana, Nina menolak ide itu mentah - mentah.
"Hari gini, masih dijodohin?, cape deh!!" begitu kata Nina.
Ya ampun Na, emang bonyok lo tuh terlampau kolot" . kali ini sari yang berpendapat.
Dan diskusi tentang dijodohkan orang tua ini tampak mencapai aklamasi, hampir semua berpendapat bahwa dijodohkan sudah tidak relevan lagi dengan zaman serba canggih ini.
Tetapi baru tampak mencapai aklamasi, karena aku belum mengeluarkan pendapatku.
Nina, sari dan Ajeng mulai menyadari kalau dari tadi aku hanya menjadi pendengar setia mereka.
"Menurut lo gimana Za?" Tanya Nina.
"Hmmm...!!!"
"Jangan hhhmmm aja dong Za!!" Sari mulai kesal
Aku masih diam
"Za...???" Ajeng pensaran menunggu jawabanku.
Aku diam beberapa saat menatap wajah sahabat-sahabatku yang menanti jawabanku dengan harap-harap cemas.
"Begini..." aku mulai bicara sambil membenarkan posisi dudukku.
"Kalau orang tua gue mau menjodohkan gue dengan seseorang, gue nggak akan keberatan" kataku yakin-seyakinnya.
"Hah... yang bener aja Za" Nina menentang keras pendapatku.
"Emang ini zaman Siti Nurbaya Za," kata Nina lagi.
"Iya Za, cukup Situ Nurbaya aja yang menderita karena dijodohkan orang tua" Timpal Ajeng.
aku tersenyum, aku sudah duga respon mereka seperti ini.
"Ok, ini memang bukan zaman Siti Nurbaya" kataku.
"Dan orang tua gue juga nggak seperti orang tua Situ Nurbaya. Seburuk apapun keadaan kami, Orang tua gue nggak akan mungkin menjodohkan gue dengan seseorang yang tipikal Datuk Maringgih. gue percaya bahwa mereka akan memberikan gue yang terbaik, karena dari dulu mereka selalu begitu, memberikan yang terbaik buat gue." Aku mencoba menjelaskan.
"Kecuali lo berpendapat orang tua lo adalah tipe orang lemah yang menggadaikan kebahagiaan anaknya demi sesuap nasi buat besok" aku menambahkan.
Mereka bertiga diam.
"Ya... orang tua gue juga nggak kaya gitu kali Za... cuma nggak enak aja, masa dijodohin" Kata Nina
"Lho bonyok lo juga kan baru mau mengenalkan, bukan harus merit sama cowok itu kan" kataku lagi.
"Apa salahnya, siapa tahu jalan jodoh lo memang seperti itu." Kataku lagi
Sempat terdiam beberapa lama, kami kembali ke topik-topik ringan untuk mencairkan suasana. Creeps yang sudah habis kami lahap, menjadi pertanda bahwa pertemuan hari ini usai.
***
aku tengah mencari bahan untuk ku tulis lagi di blog, beberapa cerita sebenarnya sudah aku siapkan, sampai tiba-tiba handphoneku berbunyi. SMS dari dari Nina rupanya.
Za, sorry banget besok gue nggak bisa ikutan Jenguk Ela, gue ada janji sama Wisnu. begitu bunyi pesannya.
aku mengernyitkan dahi, Wisnu? siapa wisnu? Perasaan Nina belum cerita tentang cowok yang namanya wisnu. aku kebingungan. ingin ku balas SMS nya dan menanyakan perihal cowok misterius itu. tetapi... ah sudahlah. Meskipun Nina sahabatku, aku tidak mau terlalu ikut campur urusann pribadinya.
Tiba-tiba satu pesan masuk lagi ke Handphoneku. Ku buka, ternyata Nina lagi.
Wisnu itu cowok yang dikenalkan bonyok gue kemarin. ternyata orangnya lumayan, and asyik juga di ajak ngobrol, he... he...
Aku tertegun. Mengingat kembali diskusi kami tentang dijodohkan orang tua beberapa hari lalu. Aku senyum-senyum sendiri.
"Ya ampun Na... ini bukan zaman Siti Nurbaya." kataku sambil geleng-geleng kepala. Tiba-tiba aku punya ide segar untuk postingan terbaru di blog.
DI FESTIVAL KOTA TUA
Jumat, 19 Februari 2010 eza traveling 3
Di tengah perjalanan kami, bertemu rombongan karnaval ini, yang ternyata pesertanya banyak sekali. Bukan hanya di isi orang-orang Tionghoa, bahkan TNI pun ikut berpartisipasi. Dan bukan pula hanya di isi oleh orang Tionghoa Jakarta, dari papan nama yang mereka bawa diketahui kalau peserta juga berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Pakaian mereka yang mayoritas merah mencolok membuat karnaval yang panjang itu sangat menarik. Mereka memainkan Barongsai, ada arak-arakan yang berisi patung dewa yang ditandu dan dibawa oleh beberapa orang pria. orang-orangTionghoa yang dilewati arak-arakan tersebut ada yang memasukkan Angpao ke dalam tandu tersebut
"Mau coba nggak mbak?" begitu katanya.
aku yang terheran-heran dan masih kebingungan, tergagap menyatakan mau mencoba.
Akhirnya inilah yang terjadi. Sahabatku Endah sempat mengabadikan Kejadian menarik ini.
Aku Sempat ikut membawa tandu hanya sekitar satu atau dua menit karena ternyata tandu itu masih berat walaupun sudah banyak sekali orang yang ikut menggotong. hhmm.. coba perhatikan warna bajuku yang kontras berbeda dengan peserta karnaval, dan perhatikan sumringahnya aku karena pengalaman langka ini.
Selesai menandu, aku sempat tanyakan pada Yeli dan Endah, dari sekian banyak orang yang menonton di pinggir jalan, kenapa aku yang di ajak ikut nandu, dan jawaban kedua sahabatku itu sama, yaitu AKU MUPENG.
STANDARD GANDA, DIMANA-MANA STANDARD GANDA...
Ketika kita berkoar-koar tentang anti korupsi, ternyata kita sedang korupsi waktu.
ketika mahasiswa sibuk mengkritisi ketidakjujuran pemerintah, mahasiswa lihat jawaban teman sebelah ketika ujian.
Ketika kita benci disakiti, kita kerap menyakiti.
ketika Seorang Suami hendak menikah lagi dengan alasan diperbolehkan agama, ia lupa jika menyakiti istrinya, ia telah melanggar perintah agama.
Suatu negara di larang memanfaatkan nuklir oleh negara yang sudah memilikinya.
Tidak pernah kita sadari, ternyata hidup kita penuh dengan polemik, polemik yang kita ciptakan sendiri karena kita terlalu egois, terlalu pengecut untuk bertanggung jawab, terlalu takut untuk kalah, dan terlalu sombong untuk mengaku salah.
Cerita Menjelang PialaThomas dan Uber 2010
Sabtu, 13 Februari 2010 eza traveling 2
Putus asa hanya berlangsung beberapa menit saja, kami dapat informai kalau di Senayan di pasang big screen, sehingga bagi yang tidak dapat tiket bisa nonton bareng di sana. Tidak bisa nonton di dalam stadion, di sampingnya pun jadi. Kami langsung meluncur ke Jakarta. Touring dengan 4 motor dari Cibubur, dan 45 menit kemudian tiba di salah satu area parkir Stadion Gelora Bung Karno, tempat big screen berdiri mantap dengan jumlah penonton yang banyak, sebagian cuek melantai tanpa alas, sebagian menjadikan sandal atau koran sebagai alas duduk, lampu sorot dari dalam stadion terlihat menari-nari kesana-kemari dan sesekali penjual minuman menawarkan dagangannya menjadikan suasana mirip nonton layar tancap, tetapi tidak mengurangi semangat kami untuk memberi dukungan pada atlet bulutangkis Indonesia yang berlaga.
Kami segera mencari posisi duduk yang nyaman. Dan pas kami duduk, pas pertandingan pertama di mulai. Maria Kristin menghadapi Xie Xing Fang di partai pertama. Kami bersorak kegirangan jika Maria mendapatkan point, dan bersorak jengkel jika Xie yang berhasil mencuri angka. ada saja alat untuk membuat bunyi-bunyian. yang paling murah ya tangan sendiri, tetapi karena kelamaan sakit juga, akhirnya ada yang menggunakan botol plastik bekas minuman, dan beberapa ada yang memakai sepasang stik panjang dari plastik menyerupai balon, yang jika ditepuk akan mengeluarkan bunyi. Kami celingukan mencari asal-muasal benda lucu itu, ternyata dijual seharga sepuluh ribu rupiah sepasang. Kami membeli delapan pasang. Sayang stik tersebut jarang kami pakai karena Partai Pertama ini dominasi pemain China tidak dapat diatasi dengan baik oleh Maria, membuat stik yang baru kami beli lebih banyak nganggur daripada beraksi.
Partai Kedua dimainkan partai ganda. Lilyana Natsir dan Vita Marissa memberikan perlawanan keras pada lawan. Membuat jantung kami berdegup lebih cepat, kerongkongan sakit karena terlalu banyak berteriak, dan stik kami kempes karena terlalu banyak dihantam ke pasangannya. Saking ramainya, suara dari dalam stadion terdengar hingga ke luar, suara yang tidak membuat kami iri, karena di sini pun tidak kalah hebohnya. Setelah kalah di set pertama, kami berteriak sejadi-jadinya ketika Pasangan Indonesia berhasil merebut set kedua. kami yang tadinya duduk melantai spontan berdiri dan berjingkrak kegirangan karena masih ada harapan. Awal set ketiga suasana masih gaduh, karena pertarungan masih sengit. Sayang, disaat-saat terakhir Lilyana dan Vita seperti kehabisan tenaga, membuat kami terduduk lemas menyaksikan kekalahan yang kedua.
Partai ketiga sudah dapat dibaca hasilnya, maka sebelum pertandingan habis, banyak dari penonton yang angkat kaki dari tempat duduknya. Kami masih sempat menyaksikan akhir Final Piala Uber, pulang dengan tangan merah dan suara serak, dan lebih menyedihkan mengetahui lagi-lagi Piala Uber kembali ke China, Tetapi kami tetap berharap Perebutan Piala Thoma dan Uber berikutnya Indonesia berjaya.
Dua tahun kemudian, apa yang kami impikan sepertinya masih jauh dari harapan bahkan menurutku prestasi Atlet Bulutangkis kita kian menurun saja. Jika pada perebutan Thoma Uber 2008 lalu ada Markis Kido dan Hendra Setiawan yang eksis sebagai Ganda Putra terbaik sedunia, dan ada Lilyana Natsir dan Nova Widianto yang berkibar sebagai Mix Double paling jago sejagad, yang membuat TimThomas ditargetkan melenggang ke Final waktu itu (walau akhirnya gagal juga). Thomas dan Uber kali ini diawali dengan minim prestasi. Prestasi Markis dan Hendra menurun sebelum PBSI memiliki penggantinya, hal yang sama terjadi pada Nova dan Lily.
Tidak ada regenerasi bisa dipastikan penyebebnya. Aku sempat tidak percaya, ketika melihat susunan Tim bulutangkis Sea Games di Laos akhir tahun lalu masih menurunkan Markis dan hendra serta Sony Dwi KUncoro yang nota bene, bukan levelnya lagi main untuk Sea Games. Lebih-lebih membaca artikel tentang Maria Kristin yang kalau saja 2012 nanti masih berumur dibawah 25 tahun masih akan diikutkan dalam PON untuk membela Jawa Tengah. Jika PON saja masih mengandalkan pemain sekaliber Maria Kristin, kapan yang junior bisa unjuk gigi. Pantas saja tidak ada regenerasi Bulutangkis Indonesia. Pantas saja prestasi bulutangkis kian merosot.
KULIAH SAMBIL KERJA
Kamis, 04 Februari 2010 eza kuliah sambil kerja 0
Mau kuliah padahal sudah kerja??? kalau iya, mesti pikirin dulu matang-matang. karena kerja sambil kuliah itu menghabiskan banyak tenaga, waktu dan yang jelas sih duit ... (Lebih banyak dari orang kuliah tok) nih aku punya sesuatu untuk dijadikan bahan pertimbangan.
1. Niat
yang perlu diperhatikan adalah pelajari dulu niat kita. Sudah mantap? apalagi untuk lulusan SMA yang mau langsung ambil S1... waduhhh pikirin mateng-mateng. karena normalnya untuk lulusan SMA yang mau ambil S1 butuh waktu 4 tahun. dan 4 tahun kerja sambil kuliah, oooo nggak gampang. jangan bayangin kalau sudah jadi sarjananya tapi bayangin prosesnya. 4 tahun pulang malam, atau sabtu minggu yang harusnya istirahat, ini harus kuliah, gue yang ambil kuliah malam rekor pulang jam 22.30 tiap hari senin waktu semester dua, sampe rumah dah jam 11 teng, jangan harap sampe rumah lo bisa langsung tidur. tenaga akan banyak terbuang dan kalau niat lo setengah-setengah tenaga yang akan lo habisan akan lebih banyak. berat banget. jadi banyak-banyak dulu shalat istikharah, pikirkan masak-masak, dan bulatkan tekad.
2. Lihat dan perhatikan isi dompetmu
biasanya program khusus ini biayanya lebih mahal daripada program reguler (kan dosennya lembur). Menurut gue, lo perlu buat peta keuangan lo. setiap bulan berapa rupiah uang yang bisa lo save untuk kuliah.,belum lagi untuk biaya buku, dan tetek bengek lainnya yang hari gini udah gak ada yang murah. kecuali kalau kita kerja n kuliah n masih bisa nodong nyokap, wah itu lain lagi ceritanya. tapi lo harus tetap perhatikan dana untuk rekreasi, senang-senang dan dana untuk melakukan hobi lo, jangan sampe lo sudah kerja, kuliah tapi gak bisa senang-senang.
Nih gue kasih contoh data keuangan gue
Gaji : 1.500.000 (waktu nyusun rencana keuangan ini, jangan ambil pendapatan lo yang sudah ditambah lemburan atau pendapatan lo yang gak pasti, tapi ambil nominal yang lo pasti dapet tiap bulan)
Beli buku (Hobi) : 100.000
ongkos + jajan : 300.000
jalan-jalan : 200.000
biaya tidak terduga : 200.000
sisa uang : 700.000
jadi dana untuk kuliah cuma sekitar 700.000 tiap bulan.
Pemetaan uang ini bisa untuk menentukan kampus mana yang mau lo masukin, gak mungkinkan gaji UMR tapi kita mau masuk kampus bertaraf internasional (kecuali beasiswa dsb).
3. Ceritakan ke Keluarga
Jangan dikira, mentang-mentang duit sendiri lo gak perlu keluarga. banyak manfaat dengan mendiskusikan rencana lo ke keluarga. contohnya, kalau biasanya ade lo minta jatah pulsa 100 ribu tiap bulan, dengan berbagi kita bisa mengharapkan ade kita itu ikhlas jatahya dikurangi 1/2nya. atau kalau biasanya lo bisa nyumbang buat beli ayam goreng dalam 10 hari pertama tiap bulan, mungkin keluarga lo bisa ngerti kalau setelah kuliah lo cuma bisa nyumbang ayam goreng cuma pas hari gajian aja, atau ade lo yang kalo disuruh, minta upah mulu kaya pak ogah, mungkin akan tergerak hatinya untuk memberi pertolongan ngetikin tugas makalah kita cuma-cuma. atau pengalaman gue nih... nyokap gue yang tercinta ikhlas, rido nyetrikain baju gue karena beliau gak tega ngeliat anaknya longshift tiap hari he...he... yang jelas hal-hal seperti itu akan sangat membantu proses kuliah lo.
3. Lapor ke atasan???
beberapa perusahaan tidak menginginkan karyawannya kerja sambil kuliah. mungkin dianggap akan mengganggu pekerjaan. atau mengurangi performance kerja kita secara energi kita sudah gak sepenuhnya untuk kerja. nah untuk hal ini lo perlu selidiki dulu baik-baik, apa bos lo cukup bijaksana untuk menerima keinginan lo untuk kuliah . kalau bijaksana sih gak ada masalah tapi kalau dia keberatan, bisa gawat. rencananya dengan kerja bisa buat bayar kuliah, ehh ini baru kuliah udah dipecat, gak lucu kan. paling Enak kalo bilang dulu, jd kalau pas ujian and ada yang urgent bos lo bisa lebih ngertiin, and lo bisa ujian dengan tenang. Tetapi semuanya tetap kembali ke kondisi kantor lo.
4. Pilah-pilih kampus
Letak kampus ini menurut gue penting banget. Karena beda sama kalau kita kuliah aja. Kalau kita kuliah aja dan mau masuk ke jurusan teknik, maka yang dituju langsung ITB, atau kalau mau jadi petani berdasi, langsung meluncur ke IPB. Tapi kalau kita sambil kerja pikir-pikir dulu rumah di depok kuliah di IPB darmaga. Bisa remuk badan. jangan sampe tiap hari pulang kerja lo lari-larian ngejar bis ke kampus, and pulangnya bareng sama buruh pabrik yang baru pulang shift 2. Kita sudah bakalan stres sama tugas kuliah, stres diomelin bos, jangan sampai nambah stress dengan hal gak penting semacam ngejar bis untuk sampai di kampus. pengalaman gue sih, saking pentingnya, gue sampe belum mikirin jurusan, yang penting ketauan dulu kampusnya dimana, tapi hati-hati juga jangan asal milih, pastikan kampusnya emang punya program khusus karyawan. karena program khusus ini biasanya gak seketat program reguler. jd kalau kebetulan harus dinas luar atau sejenisnya gak terlalu jadi masalah (biasanya program khusus ini memberikan banyak dispensasi) . yang jelas jarak dari kantor ke kampus and dari kampus ke rumah gak boleh terlalu jauh. Pengalaman temen gue yang rumahnya dibekasi, kerja di cikarang dan kuliah di cimanggis hasilnya adalah NOL BESAR. alias jadi alumni prematur.
Jenjang studi, terutama untuk lulusan SMA nih. karena kerja sambil kuliah jangan pikir akan lancar. yang kita dimutasi ke kota lain lah, yang tahu-tahu perusahaan kolaps, atau lagi asik-asik kuliah tiba-tiba ada jodoh, merit and cuti untuk ngelahirin anak, siapa tahu kan? yang jelas kalau mau langsung ambil S1 itu berarti lo harus bersiap untuk 4 tahun yang melelahkan. kerja sambil kuliah itu membosankan bgt. Kalau gue mutusin ambil D3 dulu...selain karena alasan di atas juga karena biya D3 jauh lebih murah daripada S1, maksudnya biaya untuk D3 ini lebih cocok sama kantong gue. prinsipnya biar lambat asal selamat. Manfaat lainnya kalau lo ambil D3 dulu adalah setelah tiga tahun (kalau lancar) lo bisa up grade pangkat lo dikantor lebih cepat daripada harus nunggu sampai S1 langsung.
Jurusan, setelah lo dapet calon kampusnya perhatikan baik-baik jurusan apa aja yang mereka punya. cari yang cocok buat kita. nah karyawan yang sambil kuliah biasanya sudah gak terlalu bingung mikirin jurusan. Gue misalnya, karena dah terlanjur di bidang industri kimia, ya udah sekalian aja gue ambil teknik kimia (walaupun belakangan ini gue nyesel juga, karena berat banget).
TIPS
hati-hati dengan kuliah khusus karyawan. Kuliah khusus ini bukan berarti yang harusnya untuk S1 dapat 144 SKS dan D3 110 SKS, tetapi dengan alasan karyawan, lo diperbolehkan ambil 50 SKS aja, sedangkan sisanya cuma-cuma. kalau kamu dapat kampus yang seperti ini, hati-hati kemungkinan ijazah kamu diragukan. yang membedakan program reguler dengan khusus adalah jam kuliahnya, kalau yang normal adalah pagi dari senin sampai sabtu, tetapi untuk kelas karyawan biasanya pada malam hari atau sabtu minggu. sedangkan jumlah SKS yang harus ditempuh adalah sama dengan reguler.
Meskipun universitas untuk kita jumlahnya terbatas (karena gak setiap perguruan tinggi punya program khusus ini) tetapi akreditasi perguruan tinggi harus tetap diperhatikan. jangan sampai sudah cape kuliah bertahun-tahun ternyata kemampuan kamu diragukan orang karena almamatermu yang akreditasinya rendah.
Mengenai Saya
Categories
- In my Mind (21)
- kuliah sambil kerja (1)
- LOMBA BLOG UII (1)
- my books (3)
- my experience (4)
- My Movie (2)
- traveling (25)


