Blogger news

You are reading eza's blog

Sekali Saja, Jadilah Minoritas

Tanpa kita sadari, ternyata terlalu banyak hal-hal yang kita lakukan yang menyakiti seseorang. Begitu seringnya kita tidak menghargai orang lain. Atau entah berapa kali kita mencemooh orang lain. dan kita terlampau sering menertawakan seseorang karena berbeda dar kita. Semua perilaku itu ada karena kita selalu menjadi mayoritas, menjadi bagian yang sempurna dari lingkungan kita, sehingga kita tidak ubahnya dengan dia atau mereka.

Sekali saja, Pergi ke tempat dimana kita akan ditelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut. Pergi ke tempat dimana orang akan berbisik-bisik membicarakan pakaianmu. Pergi ke tempat, selain tempat di mana kita menjadi yang mayoritas.
Karena di tempat itu, ketika kita menjadi minoritas, kita akan memohon untuk juga dihargai. Karena di tempat itu kita kan mengerti bagaimana rasanya tidak dihargai. Atau mungkin ditempat itu, kita akan menyaksikan sendiri, bagaimana orang tetap menghargai kita meskipun kita bukan golongan mereka.
Ketika aku ke thailand Juni lalu, aku merasakan apa yang disebut menjadi kaum minoritas. dalam satu gerbong monorail menjadi satu-satunya wanita berkerudung, meskipun demikian ketika waktu shalat tiba, mereka (orang thai) memberikan aku tempat bersih untuk melaksanakan shalat, memberitahu ke mana arah barat, dan susah payah mencarikan makanan halal untukku.
Di tempat dimana kita jadi minoritas, kita akan menangis karena tidak dihargai atau menangis karena terharu oleh pengertian orang lain.
Mungkin inilah yang aku sukai dari traveling. Keluar sejenak dari zona nyaman, untuk lebih memahami kehidupan bukan dari sekedar kata-kata, tetapi juga tindakan nyata.

Yogya : My First Solo Backpacking (3rd Entri)

26 Desember

Ini hari terakhirku di Yogya, maka aku ingin memaksimalkan perjalanan hari ini. Setelah bertransaksi dengan supir taxi motor, maka dicapailah kesepakatan ongkos 80000 rupiah untuk keliling Yogya dari Jam 07.00 pagi sampai 15.00.
Tujuan pertama adalah Sentra Kerajinan Gerabah di Kasongan, Seperti Kota Gede, toko kerajinan gerabah berderet-deret sepanjang Jalan. Dari ukuran kecil hingga patung yang besar. harganya pun relatif murah, sehingga tempat ini bisa menjadi alternatif untuk berbelanja.Bukan hanya barang jadi yang bisa kita lihat, proses pembuatannya pun bisa kita saksikan dari pembentukan gerabah dari tanah liat hingga penyelesaian tahap akhir seperti pengecatan.





Puas melihat-lihat Kasongan, tujuan berikutnya adalah Taman Sari. Taman Sari ini sebetulnya berada di sekitar Kraton Yogya, akan tetapi ketika keliling Kraton pada hari pertama, aku tidak sempat mengunjungi tempat ini. Konon, Taman Sari adalah tempat pemandian bagi para Putri Kraton. Tempatnya lumayan luas, tetapi sayang tidak dirawat dengan baik menurutku. Akan tetapi tidak mengurangi minat pengunjung untuk menyusuri tempat ini. Di dalamnya ada sebuah kolam renang Besar, kemudian ada menara yang katanya merupakan tempat Sultan mengawasi Putri-putrinya. Jika bukan karena menyusup ke rombongan Taman kanak-kanak, aku mungkin tidak akan pernah sampai melihat Masjid yang berada di bawah tanah ini. Sekilas Masjid ini hanya seperti lorong yang melingkar. Untuk masuki tempat ini, kita keluar dari Kompleks Taman Sari, Kemudian menyusuri Kampung di sekitarnya hingga akan di temukan Pintu Masuk lainnya yaitu sebuah Terowongan.


Tujuan berikutnya adalah Monumen Yogya Kembali, menurut supir taxi, masyarakat Yogya menyebutnya Monjali. Di Monjali ada sebuah dinding besar dan tinggi, di mana di dinding itu dituliskan nama -nama pahlawan yang gugur di medan perang, juga terdapat sebuah cuplikan puisi Chairil Anwar "Antara Karawang Bekasi". Di depan monumen juga terdapat beberapa arena mainan anak seperti Flying Fox. Diorama-diorama seputar perjuangan rakyat Yogya banyak mengisi monumen ini, dilengkapi dengan fasilitas audio.


Dari Monjali aku meneruskan perjalanan ke Desa Wisata Ketingan, yang terletak di wilayah Sleman. Wisata utama di Ketingan adalah wisata flora dimana di desa ini banyak terdapat burung Kuntul yang sudah jarang terdapat di Pulau Jawa. Untuk menikmati wisata flora ini, menurut warga setempat sebaiknya pada sore hari. sayang aku tidak punya waktu banyak, hingga aku hanya bisa melihat sesekali burung Kuntul itu terbang di antara pohon-pohon tinggi. Selain itu kita juga menikmati suasana alam pedesaan yang kental.

lelah keliling Yogya aku beristirahat di Alun-alun kota Sleman. Makan siang dialun-alun di sebuah warung sego kucing merupakan makan siang dengan biaya paling murah selama perjalananku di Yogya, dimana nasi dengan lauk tempe orek, telur dadar dan satu buah gorengan di tambah teh manis hangat hanya ku bayar 4500 rupiah.

Yogya : My First Solo Backpacking (2nd entri)

25 Desember


Rencananya pagi-pagi sekali aku menuju Candi Borobudur, karena sudah bertekad naik sampai stupa teratas borobudur tanpa harus gosong. Taxi motor datang jam 6.15, langsung menuju terminal Jombor, sebelumnya si sopir taxi menawarkan harga tour sebesar 150 rb rupiah untuk tour selama 8 jam, tetapi kau hanya tersenyum dan bilang "gak usah mas, antar saya saja ke terminal Jombong, biar nanti saya naik Bis"
dari terminal Jombor naik Bis Cemara Tunggal yang akan mengantar sampai Candi Borobudur. Masih pagi sekali, penumpang sepi. Sebelum berangkat Asti dan Sopir Taxi sudah memberitahuku, kalau tarif Jombor-Borobudur sebesar 7000 rupiah. Sialnya, ditengah jalan si kenek bis bertanya sesuatu dalam bahasa jawa, aku yang emang nggak ngerti , dan aku langsung saja mengatakan aku nggak ngerti. Karena alasan itu uang kembalian sebesar 3000 rupiah tidak dikembalikan padaku. Dengan gaya yang menyebalkan si kenek bis mengatakan
"Yang 7000 itu bagi bapak ibu penjual itu, mahasiswa atau orang yang memang setiap hari naik bis ini, lah kalau seperti mbak ini tarifnya 10000, mas yang didepan itu juga bayar 10000"
Berbekal pengalaman ini, ketika perjalanan pulang, aku membayar 7000 rupiah, dan langsung pura-pura tidur. Perjalanan dari Jombor ke borobudur sekitar 45 menit jika lancar.
Dari terminal Borobudur, kita bisa jalan kaki sepuluh menit, atau naik becak denagn membayar 5000 rupiah.
Jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. belum terlalu ramai, tetapi sejumlah wisatawan sudah datang, tiket masuk candi borobudur sedikit lebih mahal dari Prambanan yaitu 22500 rupiah. Saat aku mengunjungi Borobudur, banyak terdapat perbaikan sedang dikerjakan, beberapa batu dilepas dari susunannya untuk dibersihkan. membuat perjalan sedikit terganggu.

Untuk solo traveler, menyewa seorang guide tentu sangat memberatkan kantong. Maka sejak dari Kraton di hari pertama aku menerapkan sistem "nebeng". Mengikuti rombongan yang jumlahnya cukup besar sehingga mereka tidak menyadari ada penyusup di dalamnya. dengan sistem ini, aku bisa mendengarkan cerita dari guide wisata tanpa keluar uang... yiipppieee...!!!. Seperti juga di borobudir ini. beebrapa kali aku menyelinap ke dalam rombongan tertentu utnuk mendengar cerita pemandu wisata mengenai candi ini.
Sebagai candi budha, tak terhitung banyaknya patung budha, tetapi sayang sebagian banyak yang sudah rusak, terutama kehilangan kepala, Disayangkan untuk warisan budaya semegah Candi Borobudur.

Tepat tengah hari, aku sudah kembali ke Yogya. Karena aku pergi tanpa itinerary, jadilah aku kelimbungan kemana lagi tujuan selanjutnya. Untungnya, ini di Yogya, yang di tempat wisata yang nggak pernah sepi. Di setiap halte Trans Yogya, ada informasi mengenai tempat wisata yang bisa dikunjungi, berikut transportasi yang bisa digunakan. Setelah membaca, dan memperkirakan tempat yang mungkin untuk dituju, aku putuskan untuk mengunjungi Kota Gede, Sentra Kerajinan Perak. Cukup dengan naik trans Yogya dari Malioboro denagn ongkos 3000 rupiah, turun di halte kehutanan, nyebrang dan Tampaklah Toko Perak yang cukup besar Tom's Silver yang menyambut kedatanganku

Toko perak dikawasan ini tidak ada putus-putusnya, setiap rumah yang berbaris menyatakan diri sebagai toko perak 925 yang artinya menjual perak dengan kemurnian 92,5%. Tetapi yang menjadi tujuan utamaku bukan tokonya, melainkan workshop untuk melihat bagaimana para pengrajin bisa menghasilkan produk yang katanya diekspor ke Jepang sampai ke Eropa. Tidak semua toko yang ada memilki workshop. tom's Silver memiliki workshop, namun saat aku datang mereka tengah beristirahat. Aku terus menyusuri kawasan ini hingga melihat plang MD silver yang memiliki workshop. Yang aku kagumi dari pengrajin disini adalah pada umumnya mereka sudah bekerja puluhan tahun. Di sini kita bisa membeli beragam jenis perhisan perak, jika perak 925 masih terlalu mahal, maka pemilik toko akan menaarkan produk imitasi,denagn harga yang sangat murah, akan tetapi jika ini masih mahal pun kita bisa mendapatkan pelajaran berharga tentang cara membuat benda seni tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30, ketika trans Yogya yang membawaku dari kota Gede tiba di sekitar Benteng Vredeberg, rupanya benteng masih buka dan pengunjung pun masih ramai. Sesuatu yang tidak akan kita dapatkan di Jakarta yang pada umumnya Museum atau semacamnya sudah tutup sejak pukul 3 sore. Hanya dengan 750 rupiah saja kita sudah bisa masuk ke dalam benteng ini. Benteng ini lumayan luas dan bersih serta asri dibandingkan dengan Museum Fatahillah di Jakarta. Didalamnya terdapat diorama seputar sejarah kota Yogya.







Yogya : My first Solo Backpacking (1st entri)

Biasanya traveling akan seru kalau bersama-sama, narsis bersama, makan bersama, cape juga masih sama-sama. Tapi tiba-tiba terpikir untuk sekali-kali nyobain traveling sendirian. gimana ya...??

Akhirnya, setelah ditunggu dua tahun, baru kesampaian menapaki Yogya. temanku di yogya sampai bilang " gak ada yang mau nemenin kamu ke yogya, karena semua orang jakarta sudah pernah ke yogya"
Bukan statement yang salah, Karena Yogya adalah destinasi yang paling dituju untuk study tour pelajar. Dalam sejarah hidupku menjadi pelajar, setidaknya ada dua kesempatan study tour ke Yogyakarta. Pertama, kelas tiga SMP, perpisahan kelas tiga ditahun 1998, tapi waktu itu aku putuskan tidak ikut, karena terbayang biaya masuk SMA yang tidak sedikit. Kesempatan kedua kelas IV SMA(kelas IV, iya aku SMA di SMAKBO yang sampai 4 tahun, ajibb kan...). Tujuan Study Tour Jawa Bali, tetapi aku dengan berbesar hati akhirnya memutuskan untuk tidak ikut, karena rencana ikut les untuk UMPTN yang dipastikan tidak murah (walau akhirnya gak ikut UMPTN juga). setelah lulus SMAKbo, kebetulan aku langsung bekerja, hingga kemudian yang tidak ada adalah waktu.
Dan libur natal kemarin adalah kesempatan emas. Libur 4 hari, habis gajian, dan isu ada bonus akhir tahun yang diprediksi lumayan, membuat aku membulatkan tekad untuk berangkat ke yogya.
Traveling ke yogya ini juga ku jadikan percobaan situs www.hospitalityclub.org yang
katanya ampuh untuk numpang akomodasi. sebulan sebelum keberangkatan aku hubungi member HC yogya, mencari tahu siapa yang kira-kira bisa nge-host in aku. minggu pertama jawaban yang aku dapat adalah member yang tidak bisa ng-hostin karena akan ke hongkong liburan natal. setelah itu sepi. Masuk ke minggu kedua baru ada jawaban yang positif dari member HC yogya, Asti dan suaminya Bambang. yiippiiee berhasil...!!
Niat awal untuk bersolo karir, naik kereta ekonomi... tapi ditengah jalan, rencana berubah, sempat ada beberapa teman yang mengajak pergi bersama, kemudian ada teman sekantorku, Jono yang juga mau balik ke Gombong. setelah mendapat nasihat dari Jono, maka gagallah naik kereta ekonomi , Yogya ditempuh dengan Bus ekonomi "Sumber Alam" seharga 60 rb.

Tanggal 23 Desember

Bis mulai jalan pukul lima sore, padahal jadwal jam 15.30 (biasalah...loh telat kok biasa). Perjalan lancar, sampai kami berhenti di sebuah rumah makan, untuk mengisi perut dan sholat Isya. Menyebalkan makan disini karena harganya mahal, Pop mie saja yang cuma 4000 rupiah dibandrol 7500 disini, tetapi apa boleh buat, demi perut yang harus tetap fit untuk 3 hari ke depan, ku ambil setengah piring nasi, sedikit sayur, dan sedikit tempe orek ditambah segelas Es teh manis yang semuanya bernilai 13000. Sampai pantura, macet karena ada beberapa perbaikan jalan . Yang menarik dari pantura adalah rumah makan yang didepannya berjejer wanita-wanita cantik bertank top ria, membuat Jono tidak bisa tidak menoleh ke luar. Bibirnya terus berkata Astaghfirullah, tetapi kepalanya sudah di patok tidak bisa lagi menoleh ke depan

Tanggal 24 Desember

sekitar pukul 03.00, kami sudah sampai di Gombong, kampung halaman Jono. dan ia pun pamit turun, tidak lupa memberi pesan untuk hati-hati. Jantungku mulai dag-dig-dug, bisakah aku selesaikan misi ini, tetapi akhirnya aku tidak peduli, rencana sudah matang, aku hanya mohon perlindungan Allah.

Jam 07.30, Bus baru tiba di Terminal Giwangan Yogya, sesuai pesan Asty, aku harus naik bis dari jalur 15. tetapi jalur itu dimana? Aku teliti keadaan dari sebuah masjid, sekalian istirahat dan membersihkan muka, dari masjid baru terlihat bagian-bagian lain terminal, tulisan Jalur 1,2 dll. Aku segera menuju jalur 15, untuk ke rumah Asty, tetapi sebelumnya, sarapan dulu dengan nasi Goreng buatan Orang Yogya, seharga 5000 rupiah.
Aku turun di Mirota Godean, dari sana, Asty pesan naik becak dan minta diturunkan di alamat yang dia berikan, seperti yang sudah diingatkan, jika terlihat asing, maka tarif angkutan (bahkan sekkelas becak Jadi mahal). Untuk jarak gak lebih dari 200 m, aku harus merogoh 10000. Tetapi yang aku naiki bukan sembarang becak. Bentuknya seperti becak dijakarta, sopir dibelakang, tetapi tiba-iba... ggrrrrrmmmm... suara mesin dihidupkan,... loh ini ojek becak toh...???
Didepan rumah Asty, aku disambut hangat, ia dan su
aminya adalah orang-orang yang bersahabat. Mereka memberi petunjuk bagaimana Yogya pada umumnya, termasuk informasi tentang taxi motor ini

Yogya memang daerah wisata, tetapi sayang, untuk traveler yang tidak membawa kendaraan sendiri, transportasi menjadi semacam benda asing. Maka Ojek taxi ini alternatif yang lumayan bagus. Namanya juga taxi, maka kita bisa menghubungi kantor pusatnya, minta dijemput ditempat kita, dan kita kan segera jalan-jalan keliling Yogya. Tarifnya adalah 10000 rupiah untuk wilayah yang masih didalam ring road, diluar itu maka harus ditanyakan dulu pada sopir.
Untuk Pemanasan aku memilih jalan-jalan sekitar keraton, masuk kraton (yang ternyata cuma sampai pendoponya doang), ke museum kereta (yang isisnya berbagai macam kereta kuda yang dipakai sultan), ke toko-toko batik sekitar keraton, sampai ke studio dagadu.


Selepas Zuhur, aku langsung menuju Candi Prambanan, untuk ke candi prambanan, bisa ditempuh dengan trans Yogya dengan tarif 3000 rupiah. Untuk masuk kawasan Candi Prambanan kita membayar tiket masuk seharga 20000 rupiah. Di dalam kompleks candi terdapat papan berukuran besar yang menunjukkan efek gempa yang terjadi di Yogya beberapa tahun lalu terhadap Candi Prambanan, Pagar besi juga mengelilingi tiga candi utama di prambanan, karena dikhawatirkan akan semakin merusak candi tersebut.
Ternyata didalam komples candi prambanan juga terdapat candi Sewu dan Candi Lumbung, tetapi sayang, kedua candi lainnya tidak diminati wisatawan.



Untuk urusan makan, seperti yang kita tau, semakin berada di daerah wisata, harga yang ditawarkan semakin tidak masuk akal, aku sendiri merencanakan makan di tempat luar kompleks candi, apa daya, perut susah diajak kompromi, hingga siang itu aku makan nasi goreng (lagi...???) di sentar makanan dan souvenir Prambanan.


HAPPY BIRTHDAY GREETING

Lucu... waktu deretan pesan dinding memenuhi dinding Facebook-ku ketika tanggal 2 november lalu. Yup... itu bertepatan dengan hari ulang tahunku. Nggak tahu kenapa, deretan pesan itu menjadi amat berkesan karena datang dari orang-orang yang ada dalam hidupku. seketika itu juga aku langsung terpikir untuk memajang pesan dinding itu ke dalam blog-ku. Namun setelah sekian lama baru sekarang aku bisa merealisasikan niat itu. Ini adalah sebagian pesan dinding ucapan happy birthday yang masuk ke facebook-ku.








UNDANGAN DARI DEWAN KESENIAN JAKARTA


Kemarin, undangan yang cuma sehelai seukuran kartu pos itu dikirim oleh tukang post (ehmmm... sudah lama juga tukang post gak datang ke rumah). Setelah di cek, ternyata undangan dari dewan kesenian jakarta (DKJ) untuk menghadiri Malam Anugrah Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009. Walaupun terdapat salah cetak (sedikit) pada nama penerima dimana namaku ditulis Eva Faizah (seharusnya Eza Faizah), tetapi aku yakin kalau undangan itu tidak salah alamat.
Aku memang pernah mengikuti sayembara menulis novel yang diadakan DKJ tahun 2008 lalu, tetapi itu sudah lewat dan aku jelas bukan pemenangnya, bahkan sebagai peserta sayembara, aku tidak mendapatkan undangan untuk menghadiri malam anugrah saymbara menulis novel 2008 tersebut.
Nah, sekarang...?? Sayembara telaah sastra ini aku nggak ikuti, tetapi secarik undangan dari Dewan Kesenian Jakarta dialamatkan padaku, untuk apa??? terlebih lagi, acara berlangsung malam hari pada hari jumat depan.
Antara malas pergi, dan penasaran. malas karena acara kemalaman dan tidak ada teman, tetapi pensaran mau berada diantara para sastrawan.
hhhfffhhh... mumpung masih ada beberapa hari lagi untuk memikirkannya... semoga ada sesuatu yang bisa meyakinkan aku untuk ikut atau tidak. Sehingga apapun itu, keputusan yang aku ambil bukan sesuatu yang akan membuat aku menyesal.

Dolls

Kalian bisa saja membuat standard baku
Tapi jika nanti aku perlu, aku buat standard baru, kemudian aku akan pura-pura tidak tahu. dan masalahku selesai.

Lalu bagaimana masalah kalian? aah.... aku disini bukan untuk mengurusi masalah kalian. Aku disini untuk memenuhi pundi-pundi uangku.

Aku sudah berikan kalian upah, apa lagi...??

Lalu bagaimana dengan hati kami? kemana kami bisa mengubah hati kami menjadi karet-karet elastis yang semua bongkahan kebencian bisa kami sempalkan ke dalamnya.

Ahhh... itukan urusan kalian

Atau mau dengar cara kami mengutukmu, mengejekmu dan menertawakanmu.

Aku tidak dengar apa yang kalian gunjingkan
Karena aku sudah pasang beberapa orang yang sudah aku dehumanisasi menjadi sekedar boneka untuk menjaga jarakku dengan kalian.

Dan boneka itu, benar-benar sudah tidak kami anggap manusia.

Apa kau pikir aku peduli pada boneka-boneka itu...??
Terhadap boneka-boneka itu, aku sama tidak pedulinya.

Dan kemudian, boneka itu hanya menjadi rongsokan tidak berguna, bahkan untuk dicerca.


SAYA MATI KEBOSANAN


Rutinitas adalah sesuatu yang melegakan, ia bersifat datar, tidak bergolak, dan kita telah mengantisipasi segala sesuatu untuk menghadapainya, mengalaminya berkali-kali seperti deja vu.
Rutinitas menyenangkan sampai kita membuat kalkulasi tentang aktivitas kita setiap harinya, hingga kita sadari bahwa hidup telah kita jalani hanya dengan satu warna, satu corak.
Seperti aku yang memulai hari ditempat yang sama, aktivitas yang sama, kemudian menuju ladang tempat Tuhan menitipkan rezeki padaku, kemudian pulang dengan penampilan yang sama, lusuh.
Aku butuh sesuatu yang mendebarkan jantungku.
Aku butuh sesuatu yang membuat ku berlari lebih jauh dari yang aku mampu.
Aku butuh sesuatu yang baru, yang tidak aku duga sebelumnya.
Aku butuh lebih banyak warna.

Aku butuh itu semua sebelum aku mati karena bosan.

GREAT PRESENTS IS ONLY GIVEN TO GREAT STRUGGLERS


Tidak ada yang gratis di dunia ini. Sinis?, tetapi itulah kenyataannya. Bahkan Tuhan sudah ingatkan bahwa hanya kepada orang yang mau berupaya yang dapat merubah nasibnya. Alam memilki seleksi sendiri untuk menentukan siapa yang layak menjadi yang terbaik. Bukan melalui voting ala demokrasi, yang dirancang diruang loby. Seleksi alam yang ketat untuk menyaring orang-orang pilihan yang akan di beri gelar "sukses". Bila sekarang ini kita melihat teman-teman kita yang dulu payah di bangku sekolah atau kuliah, menjlema menjadi seorang berpangkat maka itulah dia yang berhasil melalui seleksi alam. Jika suatu saat kita bertemu lagi dengan si jenius di sekolah, namun kali ini kita menjumpainya di pinggir jalan , maka itulah hasil seleksi baginya.
Suatu saat kita akan jumpai bahwa deretan angka di buku rapot kita bukan suatu indikator yang valid untuk menentukan masa depan kita. Alam, alam adalah penguji sesungguhnya, alam adalah penguji yang tidak mengenal suap dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Alam patuh pada perintah Penciptanya untuk menyingkirkan siapa saja yang tidak layak menjadi orang pilihan.

Posisi puncak tidak banyak, karena itu bukan untuk di obral.

tempat tertinggi hanya untuk mereka yang bersungguh-sungguh. Hadiah terbesar hanya untuk mereka yang memperjuangkannya.

Beruntunglah kalian yang sedang berpeluh karena mengejar impian, berbahagialah kalian yang kehilangan waktu untuk bersenang-senang demi kesenangan yang sesungguhnya kalian butuhkan, dan kalian yang sedang berjuang, bersiaplah untuk mendapatkan yang layak kalian dapatkan.

Sang Pemimpi

Aku baru pulang, setelah menonton film Sang Pemimpi, di pusat perbelanjaan di margonda, Depok. Mumpung masih segar di ingatan, review film sang pemimpi, karena kesannya masih hangat.
Aku, sejujurnya jarang sekali menonton film Indonesia, Bukan tak cinta bangsa atau produk buatan lokal. Tapi, dari kacamataku sebagai orang awam, terlebih lagi dengan uang pas-pasan maka acara nonton film diharuskan yang tidak buat aku menyesal merogoh kocek demi sebuah film. Singkatnya, nonton film, pastikan filmnya bagus.
Dari sedikit film indonesia yang ada, beberapa film berstatus "wajib tonton". dan film beruntung itu adalah Sang Pemimpi, yang diangkat dari novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata.
Film di awali dengan ikal dewasa, kemudian flash Back ke masa remaja, dan sedikit kembali ke masa kecil, untuk kemudian kembali ke masa remaja dan dewasa. Walaupun demikian dibanding Laskar Pelangi, film sang Pemimpi lebih mudah di cerna oleh mereka yang belum baca novelnya. Seperti Laskar Pelangi, sang Pemimpi mengobral alam Belitong yang cantik. panorama belitong benar-benar luar biasa, pantas saja pariwisata belitong meningkat tajam, pasca ada film Laskar Pelangi. aku suka pada deatil di film Sang Pemimpi, sampe kaleng bekas palmboom, yang dipakai laksmi untuk membuat cincau, benar-benar merk palmboom.
Ketika tahu Sang Pemimpi akan di filmkan, aku langsung terbayang beberapa adegan yang menurutku harus ada, yaitu ketika Arai, Ikal dan Jimbron di Hukum Pak Mustar gara-gara menonton film dewasa dengan cara memainkan kembali drama dalam film dewasa yang mereka lihat di bioskop. Kenapa menurutku adegan ini harus ada? karena ketika membaca bukunya, aku tertawa sampai sakit perut ketika membaca kisah hukuman yang kejam ini. Namun sayang adegan ini tidak ada di Film. sedikit kecewa, sedikit.
Satu adegan lainnya adalah saat ikal menyebutkan potongan lagu milik Rhoma Irama, "Masa Muda, masa yang berapi-api", di kelas Pak Balia. Walaupun ada di film tapi rasanya adegannya kurang greget. aku tidak menangkap ekspresi kelabakan ikal, karena memang ia tidak menyiapkan kata-kata mutiara.
Beberapa pemain aku acungkan jempol, terutama untuk pemeran Bang Zaitun. Peran Bang Zaitun dibawakan denagn sangat pas, noraknya dapat, kampungannya dapat, dan genitnya pun ok. menrutku, pemeran Bang Zaitun pantas diganjar Piala Citra tahun 2010 untuk kategori Pemeran pendukung Pria Terbaik.
Yang menarik lainya, justru datang dari Laksmi, pemerannya menurutku berhasil mengekspresikan kesedihan akibat trauma yang dialami Laksmi.
satu-satunya hal yang payah adahal make up Ibu Ikal yang diperankn Ryeke Dyah Pitaloka, ketika mendapat surat pemberitahuan ikal mendapat beasiswa dari Eropa. Make up yang digunakan membuat usia ibu Ikal terlihat sangat tua, singkatnya make upnya terlalu berlebihan.
Kesimpulannya, walaupun ada kekurangan, untuk film Indoensia ini sebuah kemajuan, tetapi kalau boleh jujur, semnagat berjuang Arai dan ikal dalam menggapai mimpi mereka memang lebih kena jika baca di buku, daripada di film.



Resolusi 2010 : None Coz Im lost

tahun baru...???

tidak seperti tahun baru yang lainnya, tahun baru kali ini terasa lemah, kosong dan bingung. Biasanya selalu ada resolusi di awal tahun, sekedar catatan yang di cetak tebal untuk mengingatkan diriku sendiri apa yang harus aku lakukan di tahun yang akan datang.
Tapi tahun ini ada yang lain. Optimistisku merosot ke titik terendah dalam hidupku. bukan saja pesimis, tetapi juga kehilangan kontrol. aku merasa semua rancangan masa depanku berantakan. aku terhamat disana-sini. kehilangan konsentrasi dan akhirnya menjadi pudar, buyar, dan suram.
Aku kehilangan energi. Energi untuk bercita-cita, untuk bermimpi, dan terlebih kehilangan energi utnuk meraih semua yang pernah aku inginkan.
Aku kehilangan pedoman, kehilangan kepercayaan diri, dan kehilangan semangat. Tutup tahun paling buruk dari segi mental yang pernah ku lalui.
Teapi sama seperti lost spirit cases lainnya, aku tidak akan biarkan ini berlarut-larut. aku harus memompa kembali spiritku, jangan sampai musnah.
Beberapa trip akhir tahun kali ini, aku harap aku bisa mersakan kembali energiku. Dapat tambahan energi dari alam. aku harap...

SAYA WANITA INDONESIA, WARNA KULIT SAYA SAWO MATANG

Cerita ini bermula dari celotehan teman-temanku (Pria), tentang definisi wanita cantik versi mereka yang asli 100% orang indonesia. Aneh dan ajaib ketika menurut mereka wanita cantik haruslah berkulit putih.

"Come on guys, we are Indonesian".

Hampir semua teman pria didiskusi ini berpendapat sama : Wanita cantik berarti berkulit putih.

Aku tidak habis pikir, aku merasa mereka atau kita lupa jati diri kita. Lupa bahwa kita dilahirkan didaerah tropis dengan adanya sinar matahari sepanjang tahun.
Menjadi sesuatu yang masuk akal kemudian, jika kami, para wanita Indonesia ini kemudian berlomba-lomba mencari ramuan bleaching warna kulit yang dikeluarkan oleh berbagai macam perusahaan dengan berbagai macam merk, mengeluarkan begitu banyak uang demi untuk mengubah warna kulit menjadi lebih putih. Atau berakhir di meja operasi plastik demi mendapat warna baru.
Sekedar mengingatkan kalian, manusia di Eropa sana belomba-lomba berjemur saat musim panas untuk mendapatkan warna kulit coklat. Bahwa bangasa lain iri pada warna kulit kita yang kecoklatan ini. Bahwa dari warna kulit inilah, orang asing mengenali asal usul kita.
Sedikit berharap di kemudian hari kita semua bisa menjadi lebih realistis dalam menentukan sesuatu yang sifatnya sudah kehendak Tuhan. Mungkin kedepan kita bisa membelanjakan uang kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, kita kan bangga pada jati diri kita yang sesungguhnya, kita akan mengatakan bahwa kita orang Indonesia, berkulit sawo matang, dan kita adalah wanita-wanita yang cantik.







Masjid Istiqlal : belasan Tahun lalu, Tahun lalu, dan Kemarin



Masjid Istiqlal : Dulu, bersama Ayah

Pertama kali ke Masjid Istiqlal ketika aku masih kecil, mungkin berumur 7 atau 8 tahun. Ketika itu ayahku mengajak aku ke sana karena kebetulan ada festival Istiqlal. Pameran buku kesukaan aku dan ayahku. Kami beli beberapa buah buku, kemudian pulang setelah menjelang sore. Ketika hendak akan keluar Masjid, aku melihat di sebuah stand buku buku tentang Tuanku Imam Bonjol. Sebagai anak yang dilahirkan dari orang tua yang asli Padang, maka nama Tuanku Imam Bonjol ini tidak asing bagiku. Aku meminta ayah membelikannya. Ayah melihat isi dompetnya, dan aku tahu kalau uang beliau habis. Aku merengek. ayah bernegosiasi dengan penjual buku, dan akhirnya penjual bersedia memberikan buku seharga uang yang Ayahku punya... aih... hingga belasan tahun berlalu aku masih ingat cerita ini, dan masih berdoa semoga penjual buku Di Festival Istiqlal itu mendapat balasan yang jauh lebih baik dari Allah.. Amin.

Masjid Istiqlal : Ramadhan Tahun Lalu Bersama Endah

Bosan dengan aktivitas di rumah ketika puasa yang biasa tidak jauh dari tidur, aku ajak Endah sahabatku sejak SD, untuk pergi ke Istiqlal kemudian ke Monas, jalan-jalan murah istilahku. Maka kami menuju ke sana pada suatu sabtu dimana kebetulan hari itu hari libur bekerja. Naik KRL dari stasiun Depok baru ke Stasiun Juanda dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Masjid Istiqlal.
Sayangnya, waktu itu pintu As-Salam tertutup, sehingga kami harus mencari pintu lain. setelah berkeliling, ternyata hari itu gerbang yang didekat lapangan Banteng yang di buka.
Kami menuju tempat wudhu, dan di sana ada seorang ibu yang menawarkan meminjamkan mukena, kebetulan aku tidak membawa mukena, maka aku terima tawaran ibu terebut. Seusai shalat ku kembalikan mukena tersebut, dan aku terkejut setelah si ibu itu mneagtakan " seikhlasnya neng...". Kaget sebentar, lalu aku berikan uang "seikhlasnya".
Selesai Shalat kami berkeliling masjid, menemukan bedug besar, yang lebarnya lebih dari rentangan kedua tanganku. ha...ha... benar-benar besar..
















Masjid Istiqlal : Kemarin


berawal dari undangan untuk menghadiri kopdar bagi pembaca majalah National Geographic Indonesia di Jalan Veteran 1. Dari Depok aku naik kereta dan turun di Stasiun Juanda. Jam baru menunjukkan pukul 13.00 masih ada waktu 1 jam lagi sebelum acara kopdar dimulai. Maka dari stasiun Juanda aku berjalan kaki ke Masjid. Untungnya gerbang Masjid yang berhadapan dengan Stasiun Juanda terbuka, sehingga saya tidak perlu keliling mencari gerbang . Sampai di pintu As-Salam Masjid Istiqlal saya tidak menemukan pintu masuk yang terbuka. dan suasana pun sepi... tidak ada orang. Dari jauh tampak segerombolan anak SMA yang tampak clingak-celinguk, saya langsung tahu bahwa mereka pun mencari pintu masuk. Benar saja, diantara merak ada yang bertanya
"Mbak, pintu masuknya di mana sih..??" kata salah seorang anak yang ternyata bernama Abi.
"Lah... Gue juga lagi nyari" Kataku lagi.
aihh... Mungkin karena merasa punya keperluan yang sama, aku, Abi beserta teman-temannya mencari pintu masuk bersama. Di tengah pencarian kami bertemu dengan dua turis bule wanita yang mengenakan Tank top juga tampak mencari sesuatu.
Melihat ada orang lain di masjid, salah satu anak mengusulkan untuk menanyakan ke turis tersebut. Tapi saya mencegah, merasa malu kita bertanya pintu masuk masjid pada turis bule.
Dan tingkah narsis ala anak SMA pun dimulai. mereka mulai melontarkan keinginan untuk berfoto ria bersama dua bule cantik itu. Tapi sayang, mereka malu-malu berbicara Bahasa Inggris, sehingga dua bule tadi mengabaikan mereka.
Kasihan melihat mereka, aku nekat mengajukan penawaran pada Abi CS untuk berbicara pada turis tersebut. Mereka mengiyakan.
Dengan nekat, walau bahasa Ingris berantakan aku bertanya pada turis bule itu kesediaan mereka untuk difoto bersama teman baruku. Awalnya mereka malu, tapi akhirnya mau juga. Setelah atur posisi maka aku selaku "Photographer" langsung membidikkan kamera sehingga muncul gambar dua turis Bule di kelilingi anak SMA dari salabenda Bogor dengan latar Masjid Istiqlal.
Baru aku tahu kemudian kalau dua turis nan cantik ini sedang mencari Tour Guide untuk keliling Istiqlal. Pengalaman diperlakukan dengan sangat baik oleh orang asing di negeri orang dan mengingat aku juga akan traveling ke luar negeri tahun depan dan sangat berharap akan diperlakukan denagn baik di sana, membuat aku bersedia membantu mereka mencarikan informasi. Jadilah aku, Abi Cs dan dua turis berjalan lagi mencari pintu masuk.
Ahhh... ternyata kami menemukan pintu masuk, senangnya...
Aku langsung menuju seorang satpam yang sedang berjaga, dan aku katakan kalau ada dua turis asing yang mencari tuor guide Istiqlal. Dari penjelasan pak satpam yang ramah itu, aku ketahui kalau turis itu sudah menemuinya dan disarankan untuk masuk melalui pintu Al-Falah karena disana ada Guide yang bisa meminjamkan baju yang lebih baik untuk masuk Masjid. Aihhh... rupanya turis itu kesulitan menemukan pintu yang dimaksud... Mungkin karena merasa kasihan atau tidak enak karena aku terus bersama dua wisman itu, akhirnya pak satpam bersedia mengantarkan dua turis itu.
"Ok... follow me!" kata pak satpam dengan bahasa Inggris yang sangat Baik menurutku.
Dan dua wanita dari lain benua itu mengikuti Pak satpam dari belakang, tidak lupa ia ucapkan "thank You" padaku. Aku membalasnya "You're Welcome".
Selesai urusan Wisman, kami segera ambil wudhu, tidak ada ibu yang menawarkan mukena sat itu, dan karen aku tidak juga membawa mukena, maka aku cari informasi apakah didalam masjid ada mukena, dan petugas itu bilang, kalau mukena disewa "seikhlasnya". Aaiihhhh... ku pikir kejadian tahun lalu, hanya kebetulan, tetapi mungkin kebijakan pengurus masjid Istiqlal demikian, tetapi kalau aku pribadi, merasa miis melihatnya, alat shalat di Masjid terbesar di Asia Tenggar berbandro "seikhlasnya". Kalian boleh katakan aku sinis, atau katakan "amal", tetapi perasaan miris sejak tahun lalu belum bisa aku hilangkan.
lupakan persoalan mukena, Kami pun Shalat Zuhur Di Masjid Istiqlal siang itu.
Usai Shalat Zuhur kami keluar majid bersama, hendak keluar masjid, kami melihat dua turis bule tadi sudah emngenakan baju jbah yang kami anggap mirip sarung menutup bagian tubuhnya yang dibalut tank top. Aku dan teman baruku dari Bogor tersenym melihat penampilan baru teman bule kami.
Siswa SMA itu bergegas menuju Monas sedangkan aku ke jalan Veteran, sebelum berpisah kami foto bersama dan bertukar no HP dan email. pengalaman seru diakhir akhir minggu...








KOMUNITAS MANUSIA LEBAY

Lebay, over acting a.k.a over respons….

Manusia tipe ini mudah dikenali dari perilaku dan tingkah lakunya sehari-hari. Menanggapi sesuatu dengan persepsi sendiri sehingga terkesan berlebihan, enggan mengubah sudut pandang, sehingga orang lain melihatnya seperti sesuatu yang dibuat-buat dan tidak alami. Kalau orang lain menanggapi dengan datar, ia meledak-ledak sendiri, jika orang lain berusaha untuk positif, ia negative sendiri, jika orang lain tertawa dibuatnya ia merasa bersalah…. Aiihhhh.. ia berlebihan dalam menanggapi sesuatu.
Termasuk golongan ini adalah para “miss peagent” yang kelimpungan jika kukunya patah. Wanita-wanita yang menghabiskan jutaan rupiah untuk permak wajah, atau orang yang over sensitive… selalu merasa dibicarakan orang, selalu difitnah orang, sepertinya ia makhluk berharga sehingga orang lain perlu menjatuhkan dia.
Para miss peagent ini, selalu membuat hariku membosankan karena yang mampu ia bicarakan hanya seputar jerawat, lipstick, film baru dan gandengan baru… bosannya. Lebih membosankan lagi jika berjalan bersama miss peagent ini, mereka merasa perlu membalas lirikan manusia lain, atau mengeluarkan cermin kecil untuk memastikan penampilan mereka baik-baik saja… ayolah nona, hidung kalian masih ditempatnya.
Orang-orang over sensitive cenderung menunjukkan kekurangan sendiri, bahkan cenderung mengeksposenya kehadapan publik. Kalimat andalan orang over sensitive adalah “ iya deh, aku tahu aku memang sudah…” atau “ya deh .. aku akui kalau aku……”. Orang seperti ini bukannya membuat aku bosan, tapi menguras tenagaku dengan pasti karena aku harus berpikir dan menemukan kata-kata yang tepat, dan memastikan ia tidak akan mengeluarkan kalimat “aku memang… bla..bla..” setelah mendengar celotehanku.
Sedangkan aku orang yang cenderung bebas, 90% cuek, dan bersopan santun ala kadarnya juga tidak pandai berbasa-basi. Maka bisa dibayangkan penderitaan ku jika bergabung bersama manusia lebay ini., atau tersiksanya para Lebay jika ada dikeliling aku.
Aku tahu, rupa manusia bermacam-macam, otaknya pun bermacam-macam.
Aku menulis ini bukan melarang kaum Lebay untuk berinteraksi denganku, Tapi harus aku ingatkan dari sekarang, bahwa kalian Para Lebay akan sulit berkomunikasi denganku.

Pulau Komodo : Berkaca pada "kegagalan" Candi Borobudur

Tanpa sengaja, trip ke Ujung Kulon kemarin memperkenalkan gue pada Weni. sarjana dibidang arsitektur yang sekarang sedang bekerja (semacam) rekonstruksi Candi Borobudur,terutama dari segi Landscape. Dari Beliau-lah gue tahu, kalau Label World Heritage Candi borobudur terancam dicabut karena peran sebagai warisan arkeologi tidak dikelola dengan baik. Borobudur, yang merupakan warisan arkeologi, dibiarkan begitu saja dirampas, diporak porandakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Gue pernah lihat berita tentang pencurian patung-patung Budha yang terjadi Di Candi buatan dinasti Syailendra itu tidak dapat diatasi, sehingga kini banyak patung budha tak berkepala. Pelestarian yang jauh dari semestinya sebagai world heritage.
Ancaman pencabutan status Borobudur sebagai World heritage berlanjut ke hilangnya Candi Borobudur dari daftar 7 keajaiban dunia.
Tidak masuk dalam 7 keajaibana dunia merupakan indikator bahwa Borobudur tidak lagi populer sebagai tempat wisata, karena 7 keajaiban dunia di rilis berdasarkan voting di berbagai belahan dunia.
Baru ngeh kalau Borobudur tidak lagi populer baru membuat pemerintah dan stake holder setempat kelimpungan, mencoba memperbaiki dan membenahi Candi Borobudur, dan mengupayakan pengembalian jati diri Borobudur sebagai warisan arkeologi.
Saat ini tengah dilakukan voting untuk penentuan 7 keajaiban dunia yang akan diumumkan ditahn 2011, walaupun untuk diumumkan ditahun 2011, namun voing sudah dilakukan dari skarang. Tak ayal, masyarakat indonesia terutama kaum muda yang sudah melek internet mencoba mempromosikan, memberitahukan dan mensosialisasikan untuk mem-vote pulau komodo sebagai satu-satunya calon dari Indonesia agar bisa bertengger di 7 keajaban dunia. Bahkan sebuah grup di Facebook dibuat khusus untuk mensosialisasikan acara ini untuk memenangkan pulau Komodo sebagai 7 keajaiban dunia, tidak tanggung-tanggung anggota grup ini mencapai 1 juta lebih, menunjukkan semangat bangsa indonesia untuk mempopulerkan kekayaan alamnya.
Sedang semangat-semangatnya mem-vote pulau komodo, datanglah berita-berita tidak sedap. Isu pemindahan komodo ke pulau bali yang katanya untuk pemurnian genetik, hingga isu akan dibukanya pertambangan di pulau ini sangat mengganggu. tidak terbayangkan jika benar pertambangan akan dibuka dipulau ini. Sama seperti jati diri Borobudur yang rusak sebagai warisan arkeologi, Pulau Komodo pun siap kehilangan label sebagai habitat binatang komodo.
Jika sudah ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya, jika kita pernah salah, haruskah kita mengulanginya??.
Kasus Borobudur semoga dapat membuat kita bercermin bahwa kita kerap tidak adil terhadap warisa budaya dan alam kita. Semoga dari Borobudur kita dapat berkaca pada kegagalan sebelumnya untuk kemudian tidak diulangi kembali.



Postingan Lebih Baru Postingan Lama